
Drettt Drett
Ponsel di atas meja Dhea bergetar.
Deg degan hati Dhea ketika membaca chat dari suaminya.
"Umi tolong jangan di kunci pintu kamarnya!
Dhea baca sampai berulang-ulang,jantungnya berdetaknya semakin kencang.
Hatinya perih selalu menahan kerinduan.
Di tatapnya wajah Syifa yang sedang terlelap di sampingnya.
"Maafkan umi dan abi nak,terpaksa bermain peran
untuk sementara waktu,nanti ketika abi sudah menyelesaikan kuliahnya Syifa akan selalu bersama abi."
Dhea terus berbisik meminta maaf pada Syifa.
Dan selalu berharap dalam doa semoga suatu saat nanti sang ustad mengetahui hubungan yang sudah Anajib dan Dhea bina,beliau akan memaafkan penghianatan Dhea yang sudah melanggar janjinya.
Kini Dhea mencium sayang kening anaknya.
Dan ia berbaring di samping Syifa.
Sulitnya Anajib maupun Dhea untuk sekedar menyapa,ataupun cuma sekedar menatap diantara keduanya.
Sepertinya saat ini semua benda di dalam rumah ustadz memiliki mata dan telinga.
Dhea tak mau ambil resiko.
Setiap gerak geriknya selalu dalam pengawasan
Ketika berpapasan dengan Anajib jantung Dhea berdebar hebat,Dhea memang sudah sah menjadi istri Anajib namun bapak dan ibu Anajib tak pernah tahu hubungan antara keduanya.
Malam ini Anajib sungguh tersiksa.
Sebagai seorang suami yang sudah satu tahun terpisah dengan pasangannya adalah sebuah ujian.
Malam semakin larut dan suasana semakin sunyi dan sepi. Ingin rasa hati menuntut haknya pada istrinya.Namun bagaimana caranya.
Anajib putuskan keluar dari kamarnya karena ia sudah chat agar Dhea tak mengunci pintu kamarnya.
Namun di luar dugaanya,deheman itu sangat mengejutkannya.
"Eehemmm."
"Belum tidur mas?"
Sapa sang bapak yang sedang duduk di ruang keluarga menyapa.
"Emmm belum pak,nggak bisa tidur."
Jawabnya jujur..
Lalu Anajib menghampiri bapaknya.
Akhirnya ia urungkan niatnya.
"Astagfirullah sungguh ku tak mampu menahan hasratku."Bisik hati Anajib.
Tiba-tiba ia teringat Beni sahabatnya waktu di UNY
__ADS_1
ingin rasa hatinya curhat pada sahabatnya.
Akhirnya Anajib minta ijin sang bapak besok akan berkunjung ke rumah Beni.
"Pak insyaAllah besok Najib ijin mo bermalam di tempat Beni di Jogja."
Kata Anajib pada bapaknya.
"Oo yaa nggak papa,pasti kalian sudah kangen lama nggak ketemu."
Jawab sang ustadz pada anaknya.
"Bagus lebih baik Anajib tidak di rumah,pusing kepala mendengar Syifa selalu memanggil Anajib
dengan sebutan abi."
Begitu adanya bisikan di hati sang ustadz.
"Yaa udah sana istirahat,besokkan mo ke Beni."
Beliau menyuruh Anajib untuk pergi ke kamar.
Akhirnya malampun berlalu.
Kecewa hati Anajib maupun Dhea.
Setelah sholat Subuh berjamaah Anajib masuk lagi ke kamar.
Berbeda dengan Dhea.
Ia harus sibuk membantu menyiapkan sarapan.
Belum juga mengurus cucian.Dan memandikan Syifa dan nyuapinnya.
Dhea pamit untuk berangkat kerja.
Syifa sudah terbiasa ditinggal uminya kerja.
Hari-harinya ia dengan bu ustadzah.
Saat Anajib mengeluarkan motornya.
Syifa langsung meninggalkan mainnya dan berlari "abiiii jangan pergii.."
Kini tangan kecilnya memegangi kaki Anajib yang siap menaiki motornya.
Akhirnya ia urungkan menyalakan motornya.
Dan di bawanya Syifa dalam peluknya.
"Bidadari kecil abi."
Bisik hatinya sakit menahan air matanya
"Ya Allah kalau semua ini sudah jalan hidup yang sudah tertulis untuk ku,hati ini ikhlas menjalani."
"Semua keputusan ini adalah pilihan yang kami pilih,namun Syifa belum tahu apa-apa jaga orang-orang yang ku sayang ketika aku jauh dari mereka."
Anajib terus berdiskusi dengan hatinya.
Dan sang ibu datang menghampirinya.
"Ayo Syifa sama eyang,memberi makan ikan!"
__ADS_1
Bujuk ibu Anajib pada Syifa.Akhirnya Syifapun turun dari gendongan Anajib.
Syifa lalu berjalan ke kolam.
"Dah sana kalau mau pergi ke rumah Beni!"
"Lagian Dhea itu aneh milih suami kok yaa nggak bener,ibu jadi penasaran sama mas bojonya suami Dhea."
Kata sang ibu ngomel kesel dengan laki-laki yang sudah ninggalin Dhea dan anaknya.
Anajib hanya diam tak berkata sepatah kata pun.
Mendengarkan omelan ibu yang ditujukan pada suami Dhea. Setelah pamit Anajib menghidupkan motornya dan Guenggggggg.
Motor itu melesat begitu cepat.
"Kebiasaan bawa motor kok ngebut mas.."
Kata sang ibu sambil menghampiri Syifa yang sedang ngobrol dengan ikan di kolam.
"Ikan kamu punya abi nggak?"
"Kalau abi Syifa sekarang sudah datang."
Syifa kecil terus berbicara pada ikan-ikannya.
Sejujurnya istri sang ustadz pilu mendengar
celoteh gadis kecil yang cerdas itu.
"Dasar mas bojo Dhea bener-bener kelakuan."
Omel beliau kesal,dan merasa kasihan pada Dhea yang harus kerja dan membesarkan anaknya.
Di tempat kerja Dhea berusaha fokus.
Tiba-tiba atasannya memanggil Dhea kalau ada yang menjemputnya. Karena selama kerja tak pernah ijin dan baru kali ini juga ada yang menjemput katanya ada kepentingan keluarga.
Makanya sang Manajerpun dengan mudah memberi Dhea ijin.
Sebelum pulang Dhea merapikan semua file.
Dan menutup leptopnya.
Detak jantungnya terus berpacu,"siapa yang menjemputku pulang?"
Hatinya terus bertanya namun Dhea terus melangkahkan kakinya."Mungkinkah sang ustadz sudah tahu?"
Kini Dhea menghentikan langkahnya ia celingak-celinguk mencari orang yang menjemputnya .
"Mencari siapa mbak?"
Ada suara orang yang mengagetkan Dhea.
"Mencari orang yang menjemput saya."kata Dhea sambil membalikkan badannya.
Dan mata itu terbelalak detak jantungnya berpacu dengan cepat. Ada rasa takut namun juga ada rasa senang di hatinya.
Wajah ganteng dihadapannya tersenyum manis menggodanya.Dan tangan itu membawanya dalam peluknya.
****
💕Sampai di sini dulu kakak..,sampai jumpa di episode selanjutnya,terimakasih atas semua like dan dukungannya🙏🙏💕
__ADS_1