Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 84 Hilangkan Ragu


__ADS_3

🌺Ketika semua terasa mustahil,yakinlah bahwa ada Allah yang bisa membuatnya menjadi mungkin🌺


"Kutu buku,segunung rinduku,resah aku tak mampu menahan hasratku."


Pemilik senyum manis itu terus berbisik dan tak


mau melepas peluknya.


Semua orang yang kebetulan melintas dan tak sengaja memandang adengan melepas rindu itu


pada geleng kepala.


"Mas bojo,"maluuu banyak orang!"


Bisik Dhea sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. walau sejujurnya dia juga tak mampu menahan gejolak hatinya.


Akhirnya Anajib melepaskan peluknya.


"Ayooo naik ke motor!"


Katanya sambil memberikan helm ke Dhea.


"Gemana dengan motorku abi..?"


Tanyanya pada suaminya.Sambil dia akhirnya naik kemotor suaminya.


"Biarlah motormu di titipkan dulu.!"


Kata Anajib sambil menghidupkan motornya.


"Dhee..,kamu sebenarnya mo panggil suamimu dengan panggilan apa?"


Protesnya menggoda.


"Kalau di depan Syifa om,Kalau aku sebel atau marah alias kesel ama kamu,ku panggil mas bojo


di depan bapak dan ibu kamu hanya sebatas sahabat kecilku,namun di dalam doaku kamu suamiku abi dari Syifa.


Jawab Dhea sambil tertawa.


Anajib terus menatap Dhea yang terus tertawa


lewat kaca spion motornya.


"Hati ini senang melihatmu tertawa."


Bisik Anajib dalam hatinya.


Dan kejahilannya kambuh.


Dia langsung bermain dengan rem motornya.


Motor yang melaju dengan kecepatan tinggi itu


membuat Dhea semakin erat memeluk pinggang suaminya.


Dan teriakan ketakutan istrinya itu yang ia suka.


"MAS BOJOOO STOP!"


Teriak Dhea ketakutan.


Anajib malah cengegesan.


Dan motor itu terus melaju.

__ADS_1


Keduanya bak terpidana yang bebas dari penjara


dan pengawasan sipir. Keduanya terus tertawa bisa bernafas lega dan 'BEBAS.'


"Maafkan Dhea pak ustadz ."


Bisik hatinya sambil terus memeluk pinggang suaminya dan kepalanya disenderkan di punggung


Pemilik badan tegap itu.


Setelah beberapa saat motorpun menepi.Di depan


rumah yang halamannya di tanami banyak bunga.


Dhea pun turun. Dan ia melepas helmnya.


"Rumah siapa ini abi..?"Tanya Dhea.


Anajib hanya diam dan menuntun tangan Dhea.


Lalu muncullah wajah Beni menyambut Anajib dan Dhea. Setelah saling sapa,Beni pamit pada Anajib.


"Oke bro ana tinggal dulu yaa."


Kata Beni meninggalkan Anajib dan Dhea.


Anajib mengajak Dhea masuk.


"Abi tapi Beninya sedang pergi."


Protes Dhea.


Namun Anajib terus menerobos masuk.


"Ini rumah kedua bagiku."


"Tunggu dulu,bagaimana dengan bapak dan ibu Beni?"Protes Dhea pada suaminya.


Anajib tidak menjawab malah mengunci pintu kamar rapat-rapat. Kini ia melepas jaketnya.


Lalu tatapan itu terus menatap lekat pada orang yang ia rindukan. Detak jantung seorang Anajib semakin berpacu, jiwa laki-lakinya tak mampu lagi menahan badannya semakin bergetar.


Dhea masih berdiri mematung,Dhea merasa canggung kakinya terasa tak bertulang.


Saat tangan itu membawanya dalam pelukan.


"Abi bagaimana dengan bapak ibunya Beni?"


Bisik Dhea sambil terus menahan gerakan tangan itu.


"Tenang sayang...,bapak dan ibu Beni sedang menjengguk abah ke Bandung."


Bisik Anajib.


"Abi aku takut"bisik Dhea sambil terus menghindar


dari serangan demi serangan tangan nakal suaminya. Perasaan itu seperti pertama kali Dhea melakukannya,dan lebih menakutkan suaminya menerkam Dhea bak musafir yang kehausan di padang pasir.


Tak ada jawaban.


Anajib sungguh tak mau menyia-nyiakan waktu


dan kebaikan Beni yang sudah mengijinkan kamar tamunya untuk Anajib melepas rindu pada istrinya.


Dhea hanya pasrah dalam ketaatannya melaksanakan kewajibannya.

__ADS_1


Anajib menuntut haknya sampai berulang-ulang.


Dan akhirnya senja pun menjelang.


Dhea bangun untuk mandi,selesai mandi dan berhijab kini Dhea Perlahan membangunkan suaminya.


"Abi.."Bisik Dhea di telinga suaminya.


"Hemmm."Jawabnya sambil mata itu masih terpejam.


"Umi harus cepat pulang nanti kalau pulang terlambat,bapak dan ibu pasti banyak bertanya."


Mendengar Dhea menyebut bapak dan ibu.


Seketika mata itu terbuka,dan buru-buru bangun langsung melangkah mandi.


Entah kenapa Dhea masih malu melihat Anajib keluar kamar mandi hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya.


Melihat istrinya yang malu-malu kejahilannya muncul.


"Umi maaf ambilkan baju abi!"Katanya.


Dhea melangkah mendekat sambil membawa baju yang diminta,dan handuk itu sengaja dia lepas di depan Dhea.


"Astagfirullah MAS BOJO..!"


Teriak Dhea memalingkan mukanya.


Setelah selesai dibaju Anajib mengantar Dhea ke tempat kerjanya mengambil motornya.


Dhea mengendarai motornya sendiri.


Dan akhirnya Anajib memutuskan untuk ikut pulang ke rumah gagal nginep.


Setelah beberapa saat motor Dhea menepi.


Syifa sudah menyambutnya.


"Umii.." Teriaknya.


"Assalamualaikum." cantik umi,sapa Dhea pada anaknya. Setelah salim pada bu ustadzah Dhea pamit masuk ke kamar. Baru beberapa langkah Dhea menuju kamar. Suara motor itu terdengar menepi.


Dan suara Syifa terdengar memanggil.


"Abiiii..."


Langkah kecilnya menyambut abinya.


Dan badan tegap itu membungkuk dan cup ciuman mendarat di pipi Syifa.


"Bidadari abi."Bisiknya pada Syifa.


Lalu membawanya dalam gendongnya.


Ustadz hanya mengawasi dengan tatapan.


Di dalam kamar Dhea masih merasakan aroma tubuh itu menempel di seluruh tubuhnya.


Suara Syifa terus terdengar banyak pertanyaan buat abinya.


Biarlah semua berjalan sesuai kehendak Tuhan.


Tugas kita hanya berdoa,bertawakal dan ikhtiar.


Yakin akan kuasanya,dan selalu sabar menanti masanya untuk bersama.

__ADS_1


***


🌺🌺🌺🌺 Sampai di sini dulu kakak,terimakasih dukungannya🙏🙏🙏


__ADS_2