Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 94 Tak Mampu Pergi


__ADS_3

Suasana dalam keluarga ningrat itu mulai nampak


ada perdebatan-perdebatan,antara anak dan bapak. Anak yang gigih mempertahankan pilihannya,dan bapak yang merasa benar dengan


meneruskan dan menjaga silsilah darah birunya.


PRAANGG.


Suara itu begitu cukup membuat Dhea ngajol saking kagetnya.


Mungkin karena baru kali ini selama tinggal di rumah sang ustadz,beliau marah semarah-marahnya.


"Bapak jauh-jauh sekolahin kamu di Mesir,biar kamu memiliki pengetahuan yang cukup untuk modal kamu berdakwah,semua sudah bapak rencanakan jauh-jauh hari,


semua yang bapak pilihkan,dan bapak lakukan demi masa depanmu!"


Suara beliau nampak terdengar sangat tegas,dan menakutkan bagi Dhea.


Dan ia memilih menutup telinga Syifa.


"Umi kenapa eyang marahin abi..?"


Tanyanya tanpa dosa.


"Suttttt.."


Bisik Dhea memberi isyarat pada anaknya.


Suara itu terdengar semakin tinggi.


Dan tiba-tiba.


BRUGGGGG.


Sepertinya Anajib membanting pintu kamarnya.


Dhea menatap Syifa lembut dan sambil tersenyum


ia memberi pemahaman pada Syifa.


"Sayang besok kalau ikut eyang ngantar abi ke bandara jangan rewel ya!"


Syifa nampak terdiam,lalu ia mengangguk.


"Okeee,bidadari kesayangan umi dan abi."


Puji Dhea pada anaknya.


"Sekarang Syifa tidur ya!"


Bisik Dhea pada Syifa.


Jarum jam terus berputar.


Malampun semakin larut,dan kesunyian semakin terasa manakala penghuni bumi terlelap dalam mimpinya.


Namun mata Dhea tak mampu ia pejamkan.


Otaknya terus berpikir.


"Semua masalah yang ada di keluarga ningrat ini,semua karena adanya aku dan Syifa,pak ustadz sudah terlalu baik padaku,sudah saatnya aku membalas semua kebaikannya."


Bisik Dhea dalam hatinya yang sudah menyusun rencana.


Dan tak terasa suara adzan subuh menyadarkannya.


Dheapun bergegas keluar kamar seperti biasa ia memasukkan semua cucian ke mesin cuci. ketika


ia sibuk dengan cuciannya,nampak Anajib menghampirinya.


"Kutu buku,kamu kenapa tak angkat telponku?"


Tegur Anajib sedikit kesal melihat sikap Dhea yang pura-pura tak mendengar tegurannya.


Sampai deheman itu terdengar oleh keduanya.


EHEMMMM.


Lalu beliau melangkah menuju masjid yang di susul langkah Anajib di belakangnya.


"Maafkan aku mas,aku bingung harus bagaimana?"


Bisik Dhea dalam hatinya.


Dan Dhea memilih sholat di rumah.


Karena Syifa belum bangun,ia semalam tidurnya malam karena mendengar keributan.


Selesai sholat,Dhea bergegas menyelesaikan kegiatan nyucinya.

__ADS_1


Dan membangunkan Syifa.Sebelum berangkat kerja Dhea sudah menyiapkan semua kebutuhan Syifa,termasuk sudah memandikannya.


Posisi Dhea serba salah,ingin ia sebenarnya mengatakan pada suaminya pesan semoga penerbangannya selamat sampai tujuan,ingin sebenarnya ia memeluknya sebelum tubuh tinggi itu melangkah keluar rumah.


Namun suasana ini yang tak ia pinta.


Keputusan sang ustadz tak mengijinkan Syifa ikut ke bandara.Membuat gadis kecil yang sudah rapi dengan hijab merahnya itu nangis dan terus memanggil abinya.


"Abi jangan pergi...."


"Abi...aku mau abi.."


Teriak Syifa menyayat hati Dhea.


Anajib mendekat dan membungkukkan badannya.


"Sayang abi pergi tak lama,oke abi janji segera pulang untuk Syifa."


Bisiknya menenangkan bidadari kecilnya.


"Tuhan jaga orang-orang ku sayang,ketika aku jauh dari mereka."


Doa Anajib dalam hatinya dan dengan susah payah


ia membendung air matanya.


"Ayoo mas,nanti tertinggal pesawatnya!"


Suara wibawa itu memaksanya melepas pegangan


tangan Syifa.


Dan ia melangkah masuk mobil merah itu.


Ketika matanya mencari tak nampak Dhea.


Ada kecewa yang ia rasa.


Dhea sendiri memilih menumpahkan tangisnya di dalam kamarnya.


"Maafkan aku mas,aku tak sanggup melihatmu melangkah pergi meninggalkan aku dan Syifa yang


menangis."


Bisik hati Dhea dalam tangisnya.


Dan suara mobil itu terdengar semakin menjauh.


Ia memandangi wajahnya di cermin.


Nampak jelas wajah yang habis menangis.


Dhea lalu memakai jaket dan helmnya.


Buru-buru ia pamit ke bu ustadz dan Syifa yang sudah mulai tenang dalam pangkuan bu ustadz.


Syifa mulai dengan kebiasaannya berbicara pada ikan-ikan peliharaan keluarga ningrat itu.


Terdengar jelas oleh Dhea suara Syifa yang berbicara pada ikannya.


"Ikan abi aku pergi lagi,abi terbang jauh,tapi abi janji akan cepat kembali lagi."


Dhea menghela nafas.


Lalu Dhea mengegas motornya mengejar waktu


berharap ia tak akan kesiangan.


Setelah menaklukkan bisingnya jalan raya.


Motornya memasuki tempat parkiran.


Buru-buru ia turun dari motornya,dan melepas helmnya.


Tak ada yang tau,dan tanpa Dhea sadari.


Ada sepasang mata yang sudah dari tadi menanti


dari balik tirai jendela.Kini ia menghela nafas lega.


"Syukurlah kamu datang Dhe..,lelah mata menantimu walau hanya sekedar melihat hadirmu


itu cukup membunuh sepiku."


Sang bos merasa tenang melihat kedatangan orang yang selalu membuatnya gelisah dalam rindu.


Dhea buru-buru melangkah menuju mejanya.


Disambut tatapan teman-temannya.

__ADS_1


"Pagi semua...,maaf telat."


Sapa Dhea menyadari keterlambatannya.


Tiba-tiba suara mbak Lily mengagetkannya.


"Okeee,untuk keterlambatannya silahkan menghadap pak bos nona!"


Mbak Lily nampak kasihan sebenarnya.


"Oke siap mbak."


Jawab Dhea.


Dengan hati yang deg degan Dhea melangkah.


Kini langkah kakinya terhenti di depan pintu pak bos.


Tok..tok..tok


Perlahan ia ketuk pintu ruang bos.


"Masuk!"


Suara itu menitah Dhea masuk.


"Permisi pak."


Sapa Dhea pelan,ditambah jantungnya terus berdetak kencang.


Pak bos membiarkan Dhea berdiri. Dhea nampak menunduk,semua itu menguntungkan sang bos yang dengan puas menatapnya.


"Ingin aku menatapmu lebih jelas dan lama."


Bisik bos dalam hatinya.


Pak bos tak menyadari kondisi fisik Dhea kurang Vit,semalam ia tak tidur ditambah beban pikiran akan kisah cintanya yang diambang ketentuan.


Kaki Dhea bergetar dan tak mampu lagi untuk menahan tubuhnya Dhea terasa melayang dan tak ingat apa-apa.


Pak bos yang sedari tadi menatap Dhea.


Menyadari tubuh Dhea yang lunglai itu tumbang.


Beliau dengan sigap menangkap tubuh itu.


Dada pak bos berdetak kencang.


Tubuh orang yang ia rindukan kini ada dalam peluknya.


"Aku sangat mencintaimu Dhe,"dan jiwa laki-lakinya begitu meronta,wajah itu begitu dekat dihadapannya kini wajah tampan itu mendekat sangat dekat.


Tiba-tiba


Tok...tok..tok


"Masuk!"


Perintahnya.


Cekrekkk


Dan pintupun terbuka.


Mata mbak Lily terbelalak menyaksikan tubuh Dhea ada dalam pelukan pak bos tampannya.


"Haiii,kenapa kamu diam saja sini cepat bantu!"


Teriaknya kesal karena hasratnya untum mencium Dhea tak bisa.


Beliau mengangkat dan menidurkan Dhea di sofa.


"Oke kamu urus dia."


Lalu beliau melangkah dan duduk kembali di kursi kekuasaannya.


Mbak Lily membantu mengosokkan minyak dan memijit-mijit jari-jari Dhea.


Dan akhirnya Dheapun sadar dari pingsannya.


Mbak Lily menyodorkan air putih, minumlah "kamu kalau sakit kenapa paksain kerja?"


Bisik mbak Lily dan membawa Dhea keluar meninggalkan ruang bos.


***


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ Sampai di sini dulu kakak..๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya.


Dan mohon maaf bila ada salah ketik dalam penulisannya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2