
Aku hanya ingin kau tau akan rasa ini yang masih sama. Entahlah sejak kapan aku mulai menyukai.
Menyayangi mu,dan rasa cinta di hati tumbuh dari rasa kagumku pada mu.
Sosok Dhea yang sederhana,dan mandiri.
Mampu merebut perhatiannya.
"Dhe aku tak ingin kehilangan dirimu lagi,aku mencintaimu...,walau ku tak pernah tau,hatimu
entah untuk siapa?" Entahlah,yang pasti hatiku tak rela.
Pemilik mobil ferari 488,itu nampak berdiskusi dengan hatinya sendiri.
Wajah tampannya tersenyum mengenang kebersamaannya dengan Dhea di sekolah yang sama.
Pernah ia menyatakan cinta pada Dhea.
Sampai rela memberikan Dhea sebuah ponsel yang hanya untuk meminta jawaban cintanya.
Namun sayang waktu dan keadaan memisahkan
persahabatan mereka.
Dan kenyataannya Dhea hanya mencintai Anajib,
walaupun kisah cintanya mereka jalin dengan sembunyi-sembunyi,sampai sang ustadz memisahkan keduanya,menjauhkan Dhea dengannya.
Dan waktu berlalu begitu cepatnya.
Dhea hadir menjadi salah satu karyawan di perusahaannya.Tiap harinya dia rela hanya memandang Dhea dan mengaguminya dari kejauhan.
Ingin hatinya menyapa,bertanya akan kabarnya.
Namun dia memilih menatap dari kejauhan,tanpa
pernah ada yang tau begitu juga jangan sampai Dhea mengetahuinya.
Dengan begitu hatinya bisa bebas memperhatikan Dhea Anatasya.
***
Di dalam kamar Dhea memandangi foto orang yang ia cintai berada dalam pelukan anaknya.
Sebagai seorang istri tak bisa dipungkiri,kadang
ingin Dhea bersandar dan bermanja dalam pelukan suaminya. Hati hanya bisa menangis lirih, dan bertahan menahan kerinduan yang luar biasa.
__ADS_1
"Mas bojo,hubungan macam apa ini?"
Kata Dhea dalam hatinya.
Namun Dhea tetap berusaha sabar hadapi semua.
'Kesetian dalam sebuah hubungan takkan tergoyahkan jarak dan waktu,jika kamu yakin cintamu akan berbuah manis jangan pernah ragu.'
Itu adalah nasehat dari almarhum ibu Dhea yang ikut menyaksikan pernikahan Dhea dan Anajib
yang dilaksanakan di Bandung.
Mungkin karena lelah menghadapi kenyataan yang ada,akhirnya Dhea pun tidur memeluk Syifa bersama foto suaminya.
***
Di tempat Anajib berada,berpikir rencana kedepannya. Dia harus berani menyampaikan pada bapak dan ibunya hubungan dirinya dengan Dhea yang sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan sudah dikaruniai buah hati.
Anajib harus berani mengungkap siapa suami Dhea,dan siapa abi dari Syifa Anajib.
Hanya dengan mengenang kebersamaannya dengan bidadari kecilnya di kota kecil,mampu
meneteskan air mata seorang Anajib.
Ya waktu begitu cepat berlalu,dan dalam hitungan bulan Anajib segera menyelesaikan studynya.
Kini hatinya menahan perih akan kisah cintanya.
Rela terpisah untuk sementara demi sebuah cita-cita.
***
Suara adzan subuh yang mengumandang dari menara masjid Al-Mutaqin membangunkan jiwa-jiwa yang taqwa.
Dhea merasa kepalanya pusing,badannya terasa melemah. Selama Syifa demam tiap malamnya ia harus terjaga demi Syifa.
Namun dia paksakan untuk bangun tak enak hatinya numpang di rumah ustadz untuk bermalas-malasan walau sejujurnya ingin sekali Selesai sholat subuh Dhea berbaring dan selalu memeluk Syifa dan tidur lagi.
Namun tak Dhea lakukan karena tak berani menghadapi tatapan tajam dan berbagai pertanyaan.
Aku harus kuat sebentar lagi abi akan pulang.
Akan ada seorang imam yang akan selalu menjaga aku dan Syifa.
Akhirnya Dhea paksakan juga.
Menyelesaikan tugas hariannya.
__ADS_1
Sebelum berangkat kerja seperti biasa ia sempatkan memandikan dan menyuapi Syifa.
"Umi abinya ikan nggak pernah pergi,kenapa abi Syifa pergi umi?" Syifa seneng banget menanyakan tentang abinya,padahal hal itu tak ingin Dhea bahas di depan sang ustadz dan istri.
"Abi Syifa sedang kuliah dulu sayang."
Jawab Dhea pada anaknya.
"Kalau abinya ikan?"
Syifa malah bertanya terus,membandingkan ikan dengan kehidupannya.
Dhea tak mau berangkat kerjanya kesiangan lagi.
Dan ia memilih menghentikan pertanyaan Syifa.
"Oke sayang,umi nggak tau kenapa abinya ikan nggak kuliah."
Jawab Dhea sambil mulai bersiap berangkat kerja.
Setelah pamit pada ustadz dan istri.
Dhea menghampiri Syifa lalu ia memeluknya.
"Oke,sholehah umi jangan rewel ya,main sama eyang."Setelah mencium pucuk kepala Syifa,
Dhea menghidupkan motornya .
.
Guenggggg
Entah sejak kapan Dhea berani bawa motor dengan kecepatan tinggi.
"Hadeuhhh kelakuan Dhea kok seperti Anajib aja bawa motornya."
Sang istri mulai ngomentari Dhea.
Dan sang ustadz hanya diam menatap Syifa yang sedang memberi makan ikan sambil ngobrol dengan ikan-ikan.
Dalam hati sang ustadz juga mulai menyadari Syifa memiliki kebiasaan yang sama dengan Anajib.
Namun buru-buru rasa itu beliau tepis jauh-jauh.
Dan beliau melangkah masuk ke dalam rumah untuk bersiap pergi ngantor.
***
__ADS_1
🌺 Okee terimakasih semua atas dukungannya🌺