Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 112 Cinta Terbaik


__ADS_3

Hidup adalah sebuah perjalanan selalu ada


alasan dari setiap peristiwa,meski kita terkadang


tak pernah mengerti alasannya,tapi ia selalu


memberikan pelajaran.


Anajib tak main-main dengan keputusannya untuk


mengajak Dhea dan anak-anaknya tinggal di pondok. Malam ini suami dari Dhea menghadap sang bapak. Deheman itu terdengar jelas dan tatapan itu mencari kepastian ucapan dari seorang Anajib.


"Bapak tak akan melarang kalian,bukankah dalam urusan menikah kalian juga berani mengambil keputusan tanpa restu bapak dan ibu."


Kata-kata beliau cukup singkat namun jelas artinya dan lengkap dengan sindiran buat keduanya.


Setelah itu beliau menghampiri Dhea yang sedang


memangku Fatir tak ada kata yang terucap,namun


beliau langsung mengambil Fatir dari pangkuan uminya. Dhea membiarkan bayi kecil itu dalam pelukan eyang kakungnya.


Tak ada yang tau gejolak hati pemilik deheman khas,apa yang sedang beliau rasa antara kecewa


atas penghianatan seorang Dhea dan getaran aneh


setiap memeluk Fatir anak ke dua Anajib dan Dhea,mungkin bayi kecil itu memiliki wajah yang mirip dengan sang abi.


Kini Anajib sudah mantapkan hati.


Membawa istri dan anak-anaknya ikut tinggal


bersamanya. Semua sudah Anajib siapkan semua,


sebelumnya ia sudah meminta ijin sang kyai.


Dengan senang hati pemilik pondok itu memberi ijin padanya.


Dhea terus terdiam sambil packing baju-baju yang


yang akan dibawa ke pondok.


Melihat istrinya selalu terdiam Anajib mendekat dan membantunya,namun Dhea tetap diam seribu basa hatinya selalu mentaati semua yang menjadi keputusan suaminya semoga semua menjadi awal


bahagiaan dalam rumah tangganya.


Tangisan Fatir menghentikan aktivitas Dhea.


Kini ia melangkah keluar kamar menuju sumber tangisan itu. Namun Dhea menghentikan langkahnya. Terlihat nyata sang ustadz sedang mengajak Fatir bercakap,namun tangis Fatir semakin terdengar keras.

__ADS_1


"Fatir cucu eyang,kelak yang akan meneruskan


dakwah abi Anajib,walau pun kamu terlahir dari orang yang bukan eyang harapkan."


Kata demi kata bapak mertuanya sungguh terdengar sangat menyakitkan.


DEG.


Dada Dhea terasa tertimpa beban yang sangat berat. Kakinya terasa tak bertulang tubuhnya melayang tangan Dhea berusaha meraih sisi kursi besi yang ada di teras depan. Ternyata kalimat kejujuran sang ustadz cukup melukai hatinya.


Pak ustadz tidak salah,karena dari awal beliau sudah wanti-wanti padanya jangan sampai memiliki hubungan dengan Anajib.


Tapi memang Dhea maupun Anajib tak mampu menghindar dari rasa cinta yang tumbuh diantara mereka. Bahkan keduanya nekat menikah walau tanpa restu sang ustadz.


"Umi...,umi...,dede Fatir nangis.."


Suara Syifa menyadarkan Dhea dari lamunnya.


Tangan Syifa menariknya mendekat pada beliau.


Dan seperti biasa tanpa kata-kata beliau menyerahkan Fatir pada uminya.


Dhea membawa Fatir masuk ke kamar.


Ternyata Anajib sudah selesai packingnya.


meluruskan punggungnya di samping suaminya.


Belum juga rasa kantuk dan penatnya hilang suara adzan subuh sudah membangunkannya.


Semua anggota keluarga ningrat itu segera pergi ke masjid untuk menunaikan solat subuh berjamaah. Dhea memilih tinggal dan solat di rumah. Akhirnya waktu yang mereka tunggu tiba.


Syifa sudah cantik dengan hijab merahnya,kini kedua eyangnya seperti biasa menatap dalam diamnya. Entahlah rasa apa yang mereka rasa.


Setelah sarapan bersama keluarga kecil itu meninggalkan rumah joglo yang selama ini


menjadi tempat tinggal mereka.


Lambaian tangan disertai tatapan kedua eyangnya


mengantarkan Syifa segera naik kedalam mobil Avanza merah. Disusul Anajib dan Dhea setelah keduanya pamit pada sang ustadz dan istrinya.


Dhea belum memutuskan apakah ia harus tetap bekerja atau memilih mengasuh anak-anaknya


karena masih masa cutinya jadi Dhea belum menghubungin pak bos mau pun mbak Lily.


Syifa untuk sekolahnya pun pindah.


Mobil melaju pelan pak Soleh sang sopir hanya diam tak ada percakapan antara sang majikan.

__ADS_1


"Kenapa umi diam saja?"


Tanya Anajib pelan-pelan,takut Dhea salah paham.


"Sepertinya kehidupan rumah tangga kita terlalu banyak masalah ya bi?"


Dhea bukannya menjawab pertanyaan suaminya,


malah balik bertanya.


"Dalam kehidupan rumah tangga kita,bukan masalah yang harus kita selesaikan,tapi hidup adalah kenyataan yang harus kita hadapi bersama-sama."


Jawab Anajib sambil tersenyum bijak.


Tak terasa mobil merah mereka sudah memasuki pintu gerbang pondok pesantren.


Nampak sang kyai dan nyai menyambut kedatangan keluarga kecil itu. Dan pak Soleh sopir keluarga Anajib pun segera pamit. Dan mobil pun segera meninggalkan pondok.


Senja pertama setelah Anajib beserta anak istrinya


pergi ke pondok rumah joglo itu terasa sunyi.


Rumah besar itu bagaikan tak berpenghuni.


Bukan hanya suasana rumah saja yang terasa sunyi. Hati penghuninya pun tak kalah sepi.


Bapak dan ibu Anajib merasakan kesepian yang belum pernah mereka rasakan.


Bukan dari darah biru,atau silsilah ningrat yang


membuat hati Anajib nyaman.


Cinta Dhea adalah cinta terbaik bagi Anajib.


karena Dhea selalu jadi penenang hati Anajib.


Dhea mampu menjadi penyembuh saat hatinya rapuh.


Kini cinta Dhea semakin mempesona,Anajib dan kini bapak dan ibu mulai membuktikan ketulusan


hati mantunya.


Kini hati keduanya selalu merasa sunyi setiap senjanya.


***


🌺 Sampai jumpa di episode berikutnya..🌺


Terimakasih atas dukungannya.🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2