
Realita tetap realita,tak peduli kamu menghindar
atau tidak,semua itu tidak mengubah kenyataan yang ada.
"Karena hanya mimpi yang bisa mengingkari kenyataan"
Tidak mungkin Dhea yang harus ngurus semua,ketika pihak rumah sakit menelpon.
Kalau sang ustadz terlalu banyak mengeluarkan darah maka beliau harus segera mendapatkan,
pertolongan dengan cara tranfusi darah.
"Lakukan apapun,yang terpenting bapak selamat."
kata Dhea dalam percakapan ditelpon dengan pihak rumah sakit.
"Yang jadi masalah di rumah sakit persedian darah yang bapak butuhkan kebetulan kosong bu."
Itu jawaban dari pihak rumah sakit. Dan pembicaraan itu terputus.
Mungkin Amir yang memberikan nomer kontak Dhea pada rumah sakit.
Jadi pihak rumah sakit yang dihubungi nomernya.
Semua rumah sakit kebetulan persediaan darah AB+ kosong. Makanya pihak rumah sakit meminta
pihak keluarga diminta diperiksa golongan darahnya ada semoga ada yang cocok dengan golongan darah beliau.
Anajib yang baru pulang dari pondok terlihat bingung.
Nampak ibu mertua sang istri ustadz terus menangis.
Dhea juga sibuk dengan bayinya dan harus ngurusin kebutuhan Syifa.
Suasana dalam rumah joglo itu berundung pilu.
Tak pernah tahu,apa yang akan terjadi dalam perjalanan hidup,apa yang akan kita temui hari ini dan esok.
Siapa yang ngira dan bisa sangka,Amir yang jadi penolong sang ustadz. Anajib merasa sudah mengenal sosok Amir ketika dulu masa kuliah pernah neduh bersama saat mau berangkat kuliah
terhadang hujan besar ditengah jalan.
Dan pergi kuliah bersama-sama ketika hujan sudah reda,mereka meneruskan perjalanan ke kampus bersama.
Anajib pun nampak terlihat langsung akrab
dengan Amir yang pembawaannya ramah.
Senja ini sosok Amir lagi-lagi menjadi penolong bagi keluarga ningrat.
Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh misteri.
Tak ada rasa curiga ketika pak bos menawarkan pertolongan memberikan darahnya untuk menyelamatkan sang ustadz,bagi Anajib tawaran Amir bagaikan malaikat yang di kirim Tuhan untuk keluarganya,tapi tidak bagi Dhea karena hatinya merasa nggak enak hati Amir selalu menjadi dewa
penolong dari jaman ia sekolah.
Amir tak butuh imbalan berupa uang.
__ADS_1
Karena kekayaan Amir bisa dibilang diatas dari kekayaan yang dimiliki keluarga Anajib.
Dhea merasa ada sesuatu yang Amir inginkan.
Ketika Amir pamit untuk pulang,Anajib bercerita
Alhamdulillah bapak ditolong orang sebaik Amir.
Dhea hanya mengiyakan ucapan suaminya.
Hampir dua minggu pak ustadz menjalani perawatan di rumah sakit. Dan hampir tiap hari Amir selalu menyempatkan diri untuk mampir di rumah joglo itu. Bukan hanya itu Syifa pun sudah mulai akrab dengannya.
Senja ini jadwal pak ustadz sudah diijinkan pulang.
Dengan suka rela Amir menawarkan jasanya untuk
mengurus semuanya,tak ada alasan untuk menolaknya. Lagi pula Anajib tak mungkin selalu ijin meninggalkan tanggung jawabnya dalam dunia pendidikan.
Apalagi dengan Dhea,yang repot dengan urusan
merawat bayi dan Syifa. Ibu mertua beliau hanyalah ibu rumah tangga yang taat,untuk menyelesaikan adminitrasi dan uras-urus masalah rumah sakit beliau butuh teman untuk menyelesaikan semua.
Kini Amir yang memutuskan untuk mendampingi
beliau untuk menyelesaikan semua.
Dari siang tadi Amir dan ibu pergi ke rumah sakit.
Dhea hanya bisa menunggu kedatangan mereka.
Dan mobil mewah Amir sudah menepi dan kini terparkir di halaman luas depan rumah joglo.
keluar menyambut kedatangan eyangnya.
Dhea menggendong Fatir dan segera menyusul Syifa. Nampak sang ustadz turun dari mobil mewah dibantu Amir. Dan ibu berjalan di belakangnya sambil menjijing tas berisi baju salin
pak ustadz selama di rumah sakit.
Baru saja mereka masuk ke dalam rumah.
Terdengar deru MOGE itu menepi.
"Abi...."
Teriak Syifa menyambut sang abi yang baru
pulang dari ngajar di pondok.
Kini semua pandangan tertuju pada orang yang baru datang. Anajib turun dari MOGE segera melepas helm dan jaketnya.
Nampak jelas oleh Amir bagaimana Dhea menyambut suaminya. Dhea bersama kedua anaknya mendapat ciuman dari pemilik tubuh tinggi itu. Lalu Syifa berjalan sambil terus menarik
tangan abinya. Dhea juga terus melangkah di samping tubuh tinggi itu.
"Assalamualaikum.."
Salam Anajib ketika masuk dalam rumah.
__ADS_1
"Walaikumsalam."
Jawab bapak dan Amir.
Ibu tak nampak karena sedang membuatkan minum buat Amir.
Anajib segera menyapa dan mengucapkan terimakasih pada Amir.
Dhea segera masuk ke kamar dan meminta tolong
pada Syifa untuk menemani dede Fatir.
Karena Dhea akan menyiapkan makan untuk keluarga dan tamunya.
Dari ruang tamu obrolan Anajib dan Amir.
Sedangkan pak ustadz sudah istirahat dalam kamar.
Suara adzan magrib terdengar memanggil dari menara masjid.
Anajib mengajak Amir untuk solat magrib berjamaah di masjid.
Selesai solat Amir memutuskan untuk pamit pulang. Namun sang ustadz meminta Amir untuk makan bersama dengan mereka karena Dhea sudah menyiapkannya.
Akhirnya Amir ikut makan malam bersama.
Ustadz sudah merasa dekat dengan Amir.
Selesai makan Amir pamit untuk pulang,ustadz berusaha menahannya agar Amir bermalam saja.
Namun Amir dengan sopan menolaknya.
Dan mobil mewah itu segera melacu pelan meninggalkan rumah joglo yang penuh kehangatan itu.
Amir sungguh bersyukur bisa menolong sang ustadz,yang tak taunya adalah bapak mertua dari orang yang ia cintai selama ini.
Bagi Amir bisa berjumpa dengan Dhea tiap harinya
sebuah kebahagian yang tak ternilai harganya.
Walau ingin hati memilikinya,namun Dhea sudah ada yang punya.
Kadang realita yang ada,tak sesuai dengan impian
hatinya. Biarlah semua berjalan sesuai dengan kisah yang telah Tuhan tuliskan.
Amir memang mencintai Dhea.
Namun cinta Dhea hanya untuk seorang Anajib.
Tuhan sudah menuliskan takdir setiap hambanya.
dan sang hamba tak pernah tahu akhir kisahnya.
Yang pasti rencana Tuhan luar biasa.
***
__ADS_1
🌺Oke kakak sekian dulu,Sampai jumpa di episode selanjutnya...🌺
Terimakasih atas hadir dan dukungannya.🙏🙏🙏