
Ujian terberat seorang perempuan adalah perasaannya sendiri. Mudah berprasangka, mudah cemburu, mudah menebak-nebak yang belum tentu.
Seperti saat ini Dhea tersiksa dengan perasaannya
tak tega melihat sikap yang tak adil sang eyang
untuk Syifa anak pertamanya.
Hati Dhea terasa hancur ketika mendengar permintaan Syifa pada sang eyang kakung,
tak begitu direspon oleh beliau.
"Eyang kung kakak Syifa juga mau sepeda seperti adik Fatir."
Kata Syifa meminta namun sang eyang hanya bilang "kakak Syifa sudah besar."
Dan seperti biasa Syifa hanya diam dan pergi menjauh dari eyang kakungnya.
Ternyata apa yang Dhea rasa sama yang di rasa oleh Amir yang bukan siapa-siapa bagi Syifa.
Hati Amir lebih peka dibanding dengan abinya.
Yang selalu sibuk dengan urusan pondok.
Walaupun masa liburan masih lama namun Anajib
tak jarang selalu ditelpon pak kyai untuk segera ke pondok. Dhea dan anak-anak tetap di kota kecil.
Mereka akan mengisi waktu libur panjangnya bersama kedua eyangnya.
Wajah Fatir selalu nampak berseri senyum manis menghias bibir mungil Fatir. Anak kedua Anajib dan Dhea itu pagi sekali sudah sibuk menagih janji sang eyang.
Mendengar suara Fatir yang sudah tak sabar menunggu. Memancing rasa penasaran semua penghuni rumah termasuk Amir yang kebetulan sedang bermalam. Semua telinga mendengar Fatir
yang mulai rewel.
"Eyang kakung, hayooooo kita beli sepedanya sekarang!"
Suara Fatir terus mengajak.
"Nanti sayang!"
Jawab eyang kungnya memahamkan Fatir toko sepeda belumlah buka. Fatir bukanlah Syifa yang penurut. Fatir memiliki sifat keras kadang jail.
Dan hanya Fatirlah yang berani ngeyel pada eyang kakungnya.
Walaupun sang eyang membujuk untuk bersabar Fatir tak mempedulikan. Kini suara tangis Fatir membuat Dhea harus turun tangan.
Ia rela menghentikan kegiatan beberesnya.
Syifa mengikuti langkah sang umi menuju sumber tangisan Fatir yang berada diantara Amir dan eyang kakungnya.
Dhea mendekat dengan sikap membungkukkan badannya tanda hormat untuk sang ustadz bapak mertuanya yang kini mulai kewalahan mendiamkan Fatir.
"Fatir kata abi juga harus sabar kalau meminta sesuatu."
Kata Dhea mendiamkan Fatir.
Namun Fatir malah menjauh dari Dhea dan memeluk sang eyang kakungnya.
Kalau sudah seperti itu tak ada yang akan Dhea lakukan selain melangkah pergi meninggalkan Fatir yang selalu diperlakukan istimewa oleh eyangnya.
Ketika Syifa mo berlalu tangan Amir menahannya.
"Syifa mo sepeda?"
Tanya Amir untuk Syifa yang selalu tersenyum malu-malu selain wajah Syifa sangat mirip sang umi sikapnya yang selalu mengalah untuk Fatir membuat Amir sangat menyayangi Syifa.
Namun di luar dugaan Syifa hanya menggelengkan kepalanya dan wajahnya tetap dihiasi senyum manisnya. Amir tak segera melepaskan tangan Syifa entah kenapa hati Amir ikut merasakan rasa kecewa hati anak pertama Dhea dan Anajib itu.
Tangis Fatir tak terdengar lagi karena eyangnya
segera mengajaknya ke toko sepeda.
Bukan pak Soleh atau Anajib yang mengatar pak ustadz dan cucu kesayangannya untuk membeli sepeda. Namun Amir yang mengantar mereka.
Tak butuh waktu lama mobil mewah Amir menepi
di depan toko sepeda Subur Jaya toko yang ternama di kota kecil.
__ADS_1
Fatir terus menarik tangan eyangnya.
Beliau membiarkan Fatir memilih sesuka hatinya.
Akhirnya Fatir sudah mendapatkan sepeda yang ia mau.
"Eyang boleh nggak kakak Syifa beli juga?"
Tanya Fatir mengagetkan Amir dan sang eyang.
Entahlah kalau Fatir yang minta beliau tak bisa
menolaknya dan beliau mengganggukkan kepala tanda setuju.
Setelah membayar kedua sepeda itu mereka pulang.
"Kakak Syifa..."
Teriakan Fatir membawa langkah Syifa menyambutnya.
Dan mata Syifa nampak berbinar bahagia ketika menyambut sang adik.
Amir melihat Syifa tak ada benci buat adiknya.
"Lihat sepeda Fatir.!"
Kata Fatir pamer pada kakaknya.
"Wow.. bagus, dede Fatir sudah bilang terimakasih
belum sama eyang?"
Tanya Syifa sambil memeluk adiknya.
"O iya aku lupa."
Kata Fatir.
"Kakak juga harus bilang terimakasih pada eyang,
karena sepeda yang merah itu buat kakak Syifa."
Kata Fatir sambil menarik tangan Syifa untuk mendekat sang eyang.
Kata Syifa sambil mencium punggung tangan eyang kakungnya. Begitu juga Fatir pun mencium
punggung tangan eyangnya.
Dan sebuah pemandangan langka buat Dhea.
Syifa dan Fatir berada dalam pelukan eyang kakungnya.
Entahlah air mata Dhea terus membasahi pipinya.
Menyaksikan pemandangan itu.
Dhea hanya menyaksikan dari kejauhan.
"Andai mas Anajib melihat pemandangan ini."
"Semoga ini adalah awal kebahagian untuk Syifa,"
Dhea kini berkata-kata sendiri sambil menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Hari ini tawa Fatir dan Syifa terus menghiasi suasana rumah joglo keluarga sang pemilik silsilah darah biru. Amir merasa nyaman berada dekat dengan kedua anak Dhea dan Anajib.
Seharian Amir rela menemani keduanya. Sampai akhirnya Amir berpamitan pada pak ustadz.
"Oke om Amir pulang dulu yaa.."
Pamitnya pada kedua anak yang telah mencuri hati dan perhatiannya.
"Daaaa.. om."
Suara Fatir dan Syifa sambil melambaikan tangan
pada Amir yang sudah duduk di belakang kemudinya.
Sang surya mulai condong ke barat. Teriknya sudah berubah menjadi lembayung nan indah.
__ADS_1
Tak biasa menjelang magrib tiba abi Syifa dan Fatir belum juga pulang dari pondok.
Ada rasa was-was dihati Dhea.
Namun ia tepis semua rasa yang membuatnya khawatir akan suaminya.
Sampai suara adzan magrib itu terdengar memanggil jiwa-jiwa yang bertaqwa. Belum ada tanda-tanda kedatangan Anajib.
Ketika ia dan Shifa sedang bersiap menuju masjid.
Terdengar suara bapak mertua sedang menerima telpon dari pihak pondok.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Kejadiannya di mana?"
Suara sang ustadz terdengar mulai panik.
Dhea membawa langkahnya memberanikan diri mendekat beliau yang terus bercakap lewat telpon Dhea terus mendekat karena penasaran,
jantungnya terasa berdebar-debar ketika ibu mertua menghampirinya sambil menangis.
Jantung itu terasa lepas dari raganya ketika ibu mertu memeluknya. Dan sang pemilik tatapan tajam itu nampak terduduk lemas di sofa ruang keluarga.
"Ada apa bu?"
Tanya Dhea pelan sebenarnya tak ingin ia bertanya
takut akan jawaban sang ibu adalah yang ia takutkan.
"Kamu harus sabar Anajib........."
Kalimat ibu mertua belum selesai karena beliau
keburu pingsan dalam pelukan Dhea sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Umi kenapa eyang..?"
Tanya Syifa terlihat panik.
"Eyang uti pingsan sayang."
Jawab Dhea terus memijit-mijit jari ibu mertuanya.
Berharap beliau segera siuman.
Semua tanya penuh dalam hati Dhea namun jawaban ada pada ibu mertua. Sang ustadz sudah dari tadi pergi untuk sholat.
Akhirnya ibu mertunya siuman juga. Namun
Dhea menahan rasa penasaranya menunggu beliau sendiri yang akan menceritakannya apa sebenarnya yang terjadi.
Dhea memberi minum air putih pada ibu mertuanya. Setelah itu ia memilih pamit untuk sholat magrib dulu. Tapi langkahnya beliau tahan.
"Dhe, abinya Syifa masuk rumah sakit karena Anajib mengalami kecelakaan, tadi ketika perjalanan pulang dari pondok."
Kata beliau nampak mulai tenang.
"Bagaimana keadaan mas Najib bu?"
Tanya Dhea berusaha tegar walau sebenarnya hatinya rapuh.
"Kita doakan suamimu semoga tidak parah bapak
akan ke rumah sakit bersama nak Amir."
Jawab sang ibu.
Dhea hanya mengganggukkan kepala.
Dan pamit untuk sholat tak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa memohon pada Tuhan untuk keselamatan belahan jiwanya. Tak ingin ia bayangkan hal-hal yang ia takutkan.
Syifa dan Fatir belum tau apa yang menimpa sang abi kedua anak itu masih terpesona dengan sepeda baru mereka.
Eyang putrinya membiarkan kedua cucunya itu menaiki sepeda mereka walau tanpa mengoesnya.
Beliau semakin menyadari Syifa dan Fatir adalah sangat berharga dibandingkan dengan silsilah yang mereka jaga.
*****
__ADS_1
🌺 Sampai jumpa di episode selanjutnya🌺
Terimakasih atas dukungannya🙏🙏🙏