
RASA INI MENYIKSA KU...
Siapa pun orangnya entah ia seorang laki-laki
Atau seorang perempuan.
Bila hatinya menyimpan perasaan yang namanya
Rindu..?
Yaa rindu...
Entah hati itu merindukan kekasih hatinya..
Atau hati itu merindukan seorang sahabatnya.
Bisa juga hatinya menyimpan rindu akan ayah Atau ibunya.
Hati itu hanya bisa berandai - andai dan sangat berharap akan sebuah pertemuan.
perasaan itu yang sedang Amir rasakan.
Amir selalu menunggu jawaban akan kepastian
Sebuah hubungan.
Tapii..., Entah sampai kapan aku akan menunggu
Jawabmu..? "Dheeeaaa..!
"Amir walau memiliki semuanya karena Ia adalah Putra tunggal dari orang no satu di tempat tinggalnya. Dan tak sedikit para wanita cantik
Berebut perhatiannya...., Tetapi Amir adalah Tipe
Pemuda yang super cuek.., Dan memiliki Prinsip Sendiri dalam urusan perasaannya.
"Cinta sejati adalah hanya ada satu cinta yang akan ku ukir dalam hati dan sanubari."
Sebenarnya Amir orang yang tidak mudah jatuh
Cinta. Tapi entah kenapa semenjak Selalu bersama dengan Dhea selama tiga tahun
Di SMA. Hatinya mulai merasakan perasaan Yang berbeda.
Ya Amir jatuh cinta pada sosok Dhea..
Sepertinya pribadi Dhea yang sederhana, dan
Ia tak gengsi dengan keadaannya.
Yaa.. hanya dengan Dhea.
Amir begitu mudah menyatakan cintanya.
"Tapi sayanggggg..."
Sampai saat ini Dhea tak pernah memberi jawaban.
kini Ia berusaha lagi menghubungi no kontak Dhea.
"Drettt... Drettt... Drett.."
No yang anda tuju tidak dapat di hubungi.
Hanya rasa kecewa.. yang ada.
Amir tak pernah tau, Dhea itu lebih suka membaca buku.!
Dari pada bermain HP seperti yang lain.
Amir lupa Dhea tak biasa bermain dengan benda
Yang sangat mahal harganya bagi Dhea.
Amir pun putuskan sambungan telponnya.
Dan ia memilih memandang photo Dhea yang selalu terpampang di layar HP nya.
***
Rasa rindu itu juga menyiksa perasaan antara
Anajib dan Dhea.
Bukan kebetulan kalau mereka sekarang ada di Tempat yang sama.
Takdir Tuhan lah yang mempertemukan antara
Keduanya.
Anajib tak mampu pejamkan matanya.
Ingin ia selalu berada dengan orang yang ia rindu
Tapi ia tahan hasratnya .
Tak sabar Anajib menunggu pagi tiba.
"Begitu juga dengan Dhea."
Di kamar yang berbeda tapi masih satu komplek
Yang sama Dhea masih belum percaya ini adalah
Nyata adanya...
Tubuhnya merasa lemas mengingat perbuatan
Orang yang ia cinta.
Dalam kesendirannya Dhea sangatlah tersiksa.
Tuhan aku benar - benar tersiksa dengan kenyataan yang ada.
Apakah aku harus jujur adanya. ?
"Kalau aku tak boleh bertemu dengannya.!
Haruskah aku korbankan perasaanku..??
__ADS_1
Atau haruskah aku berkelit dengan Amanah
Yang pak ustad beri..?
Antara rasa cintaku..
Dan kewajiban menghapusmu dari hidupku.
Tuhan...
Apa salah ku..?
Kenapa aku harus menghindar dan tidak boleh
Dekat dengannya.??
Mungkin karena drajat dan darah kita berbeda..?
"Itu adalah jawaban Ibu ketika aku bertanya kenapa aku harus di jauhkan dari mu.
Dhea lelah dengan pertanyaan yang tak mampu
Ia dapatkan jawabannya.
Akhirnya ia pun tertidur dalam kesendiriaannya.
***
Suara Adzan subuh dari masjid ponpes membangunkannya.
"Seperti subuh - subuh sebelumnya ."
Pintunya di ketuk dari luar .
"Tok tok tok.."
Yaa bu sebentar..!
Dhea pun bergegas menjinjing tas berisi mukenanya.
Dan ketika pintu di buka.
"KAMUUUU...?
Dhea sudah takut aja bawaannya melihat Anajib sudah berdiri di depan pintu.
"Heyyyy.."
Subuh - subuh melamun.
Ayo bu le dah nunggu di gerbang.!
Ohhh... syukurlah Dhea menghela nafas legaaa..
Mereka menuju masjid untuk sholat berjamaah
Sekalian mengikuti kuliah subuh.
Ibu Euis mengajak belanja sekalian untuk
Makan sarapan .
Ketika Anajib ikut serta belanja walaupun
Ia berjalan bareng Beni sahabatnya.
Perlu kesabaran mereka menunggu pesanan.
Sebenarnya Dhea paling males.
Ngantri panjang tiap paginya.
Tapi bagemana lagi.?
Setelah sudah mendapatkan makanan yang di Pesan ibu Euis .
Ngajak Dhea pulang.
Dan tawa lebar ngikuti langkah kami dari belakang.
Nampak ia ngobrol dengan Beni dan sesekali
Terdengar tawa keduanya.
Oyaaa mbak Dhea nanti harus ikut lhoo..!!
Kata bu Euis sebelum Masuk rumahnya.
Dan Dhea melangkah dengan perasaan yang
Tak mampu ia ungkapkan.
Masuk kamar langsung kunci rapat-rapat pintu.
Duchh Tuhan.
Aku harus bagaimana...?
"Tok Tok Tok.."
Bunyi ketukan pintu cukup membuatnya kaget.
"Hatinnya berpacu ...,"
Siapa yang mengetuk pintu..?
Anajib kah?
Atau..
"Mbak Dhea..."
Suara bu Euis memanggil namanya.
"Uhhhh syukurlah..."
Pintu Dhea buka... lalu bu Euis memaksa Dhea.
Ayo mbak kita dah mo berangkat.!
__ADS_1
Sebenarnya Ia tak tertarik lagi..
Entah kenapa, Hatinya jadi Tersiksa bila ingat
Akan perjanjian yang Ustad beri.
Tapi bila menolak Ia juga tidak enak dengan ibu
Kost yang sudah baik hati.
Akhirnya Dhea pun ikut serta.
Di mana tawa lebar kok tak nampak??
Matanya tak menemukan orang yang Ia cinta.
Bu Euis masuk mobil dan duduk di bangku depan.
Dan Dhea pun masuk ke bangku ke dua.
Tapi Dia kok nggak ada..?
"Nampak Sekali kecewa...!
Mobil lalu melaju sangat pelan.
Karena jalanan padat merayap.
"wahhh ini mahh macet mah..!
Kata suami bu Euis. gemana Donk...?
Tiba - tiba kaca mobil di ketuk ..
"Eehhh Itu Najib kan pah..?
Iyaa itu bocah kenapa bilangnya males ikut.!!
Tadi.., Taunya nyusul..!!
"Tawa lebar meminta Dhea turun..!
Setelah minta ijin pada bu Euis dan Suaminya.
Dhea turun dan naik ke motor.
"Yoo wisss.. ati-ati yooo..!
Motorpun melaju awalnya pelan dan akhirnya
Melaju dengan sangat kencang.
Dan Anajib merasakan tangan itu memeluk erat pinggangnya.
"Otak nakalnya mulai berjalan."
Anajib sangatlah lihai memainkan rem Motornya, Tiba - tiba motor di rem mendadak Tidak bisa di hindari benda kenyal itu terasa menempel dipunggungnya.
"Haduh.."Gejolak hatinya tak mampu ia tahan.
"Sampai di taman motorpun segera ia parkir."
Dhea pun turun dari motornya.
Lalu tangan itu pun menuntunnya berjalan mengitari taman.
Pantas saja Bandung itu di juluki kota kembang
Karena bunga warna warni berderet sangat menawan hati bagi yang melihatnya.
Langkah Anajib pun berhenti.
Dan ke duanya duduk di bangku taman.
Keduanya hanya terdiam untuk sementara
Hanyut dalam pikirannya sendiri - sendiri.
"Dhe... kenapa kamu menghilang..?
Tanya Anajib pelan tapi jelas terdengar..
Karena wajah itu sangat dekat.
"Dhea tak mampu berkata - kata.
Lalu tangan itu meraih dagu Dhea.
Dan mata itu menatap tajam ...
Aku hampir putus asa.
Setiap senja hanya kecewa yang ada.
"Aku merindukanmu..."
Dan tak ada lagi kata - kata.
Karena bibir itu sudah bertemu dengan bibir Yang sudah enam bulan lamanya tak pernah
Ia sentuh.
Dhea kini tak pedulikan lagi dengan larangan
Yang ustad beri.
Saat ini ia sudah terbawa suasana .
Ia beranikan membalas pergerakan bibir orang
Yang Ia cintai..
Ke dua hanyut dalam suasana...
Saling melepas rindu yang selama ini menyiksa.
Mereka seakan tak rela terpisahkan.
Dan ciuman pun semakin dalam...
__ADS_1
***