Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 77 Bukti Cinta


__ADS_3

Mencintaimu butuh pengorbanan untuk membuktikan CINTAKU.


Seberapa kuat usaha telah diupayakan untuk memisahkan keduanya.


Berharap jangan sampai ada kisah diantara Anajib dan Dhea.


"Karena perbedaan itu nyata adanya."


Pagi sekali ustad Abdul beserta istri bertolak ke Bandung. Mobil berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kota kecil menuju Bandung.


Sudah banyak rencana yang terlintas untuk perjodohan antara sang putra kesayangan dengan putri kyai pemilik pondok pesantren.


Niat kedatangan beliau ke Bandung untuk berembuk dengan adik satu-satunya sang ustad.


Yang tak lain adalah suami bu Euis pemilik kos-kosan dimana Dhea Anatasya di asingkan.


Oau oau oau


Bayi mungil itu terus menangis.


Dhea nampak bingung setahu ia kalau bayi nangis


pasti haus tapi ini diberi ASI nggak mau.


Mungkin popoknya basah pikir Dhea sambil periksa popok anaknya tapi nggak juga.


"Astagfirullah sayang jangan nangis terus dong


umi jadi bingung nihhh."kata Dhea pada bayinya.


Oau oau oau


Suara tangisan baby Syifa menghiasi kamar kos-kosan yang hanya satu kamar itu.


"Tenang...."


Dhea menghibur dirinya sendiri.


Seperti pesan sang ibu kemaren ditelpon jangan panik tetap tenang dan perbanyak istigfar.


Dan benar saja baby Syifa menghentikan tangisnya


matanya yang jernih itu menatap sang umi.


"Bidadari umi kangen abi yaa..?"


Dhea mengajak ngobrol anaknya.


"Oke sayang umi telpon abi yaa..."


Tuttt tuttt tutt


No itu terhubung namun tak jua diangkat.


"Kemana kamu mas...?"


Dhea merasa kecewa harapnya sia-sia untuk bisa menyapa suami yang berada jauh di negeri orang semakin sulit dilakukannya.


"Bukan maksudku untuk memenjarakan bebasmu


mas,namun memberi kabar dimana pijakmu adalah pelerai gundahku sungguh rindu ini begitu menyiksaku mas."


Dhea berkata-kata sendiri sambil memeluk anaknya.


Air mata kerinduan itu tak mampu ia bendung lagi.


Namun buru-buru ia seka.


Tak ingin Syifa kecil melihat air matanya.


Biarlah semua rasa dan ujian cinta ini hanya sang umi saja yang merasakan tidak untuk Syifa.


Setelah kurang lebih delapan jam melintasi panjangnya jalan aspal penghubung kota Kecil dan kota Bandung mobil berwarna merah itu menepi di halaman rumah besar sang pemilik kos-kosan.


Yang letaknya di sebrang pondok pesantren jalan


Gegerkalong itu.


Sopir sang ustad turun membukakan pintu mobil buat pak ustad dan istri.


Langkah kaki pak ustad terhenti ketika melintasi deretan kamar kos-kosan dimana Dhea beliau sembunyikan dari seorang Anajib.


Hati sang ustad penuh tanya mana mungkin kos-kosan yang mayoritas penghuni kos-kosan itu


mahasiswi ada jemuran baju bayi?"


Lalu langkah kaki sang ustad semakin mendekat dan berhenti di depan pintu rumah bu Euis.

__ADS_1


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


Ustad Abdul mengucap salam.


"Walaikumsalam."


Jawab pemilik rumah itu.


Cekrek.


Pintu itu terbuka.


"Kang mas,apa kabar?"


Kata suami bu Euis menyapa ustad Abdul yang tak lain adalah kakaknya.


Kang mas adalah panggilan buat beliau.


Lalu kedua adik kakak itu melepas rindu dengan saling jabat tangan dan peluk.


Sang adik pun mempersilahkan masuk buat ustad Abdul dan istri.


Bu Euis pamit ke belakang untuk membuatkan teh hangat buat tamunya.


"Ya Tuhan apa yang akan terjadi biarlah terjadi mungkin ini semua sudah saatnya semua rahasia itu terbuka."


Kata bu Euis dalam hatinya.


Ada rasa khawatir dengan apa yang akan terjadi.


Bu Euis bingung,karena ia dan suaminya yang mendukung pernikahan Anajib dan Dhea.


Ustad Abdul menyampaikan maksud kunjungannya ke Bandung.


Bu Euis datang membawa nampan menyuguhkan teh manis dan kue.


Tidak ingin menganggu obrolan sang suami dengan adiknya.


Istri pak ustad meminta diantarkan menemui Dhea. "Kebetulan mbak Dheanya sedang cuti dari kerjanya." kata bu Euis.


Lalu langkah keduanya mendekat pintu kamar kos-kosan Dhea.


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


Suara bu Euis mengucap salam.


"Walaikumsalam."


Jawab Dhea.


Terpaksa Dhea menghentikan kegiatannya.


Dan ditidurkannya Syifa yang sudah mulai terlelap dalam tidurnya.


Perlahan langkah itu menuju pintu.


Cekrek


Pintu terbuka.


DEG


Jantung Dhea bagai lepas dari raganya.


Wajah ibu Anajib hadir di depannya.


Perempuan itu tersenyum dan memeluk Dhea.


"Apa kabarmu Dhe..?"


Sapa beliau.


Dhea hanya terdiam dalam pelukannya.


Bingung jawaban apa yang akan ia beri ketika sang ibu dari orang yang ia cintai itu bertanya.


"Ya Allah ini mimpi atau nyata.?"


Bisik hatinya.


Buru-buru Dhea mempersilahkan beliau masuk.


kesan pertama masuk kamar Dhea.

__ADS_1


Beliau mencium aroma minyak telon ciri khas wangi bayi.


Mata itu mengabsen seisi kamar.


"Satu kamar cuma kamar ini luas."


Kata beliau.


Kamarnya tertata rapi hanya ada satu lemari, satu kulkas ukuran mini.


Dan satu ranjang yang tertata rapi dengan seprai berwarna ping.


Lalu pandangan mata beliau nampak terbelalak.


Rupanya beliau baru sadar di atas kasur itu ada bayi mungil yang sedang tertidur.


"MasyaAllah cantiknya."


"Anak siapa ini Dhe..?"


Akhirnya pertanyaan yang Dhea takutkan itu harus Dhea jawab dengan kejujuran.


Namun Dhea nampak diam.


Hatinya perih tak bisa menebak apa yang akan terjadi setelah kisah cintanya harus beliau ketahui.


Terbayang semua amanah yang sudah Dhea khianati.


"Mas aku butuh kamu saat ini ."


Bisik Dhea.


Lalu Dhea diam-diam mengirim pesan buat suaminya.


"Kamu kemana mas.?"


Keluh hatinya gemes menanti balasan suaminya.


Dhea tak tahu orang yang ia tunggu sudah terlelap dalam mimpinya.


Tiba-tiba bayi itu menangis.


Oau oau oau


"Aduhhh bagaimana ini.?"


"Aku harus memberi ASI didepan beliau.?"


Bisik hati Dhea tersiksa.


"Ayoo mbak Dhea beri ASI anaknya.!"


Suara bu Euis mengagetkan beliau.


"Anak Dhea.?"


Beliau terlihat bingung.


Dhea lalu duduk ditepi ranjang .


"O sayang umi.. cup cup."


Dhea menghibur anaknya sambil memberi ASI.


"Kapan kamu menikah Dhe..?"


"Orang mana suamimu.?"


"Aduh anakmu cantik yaa."


Dhea masih diam tak tahu dari mana ia akan memulai cerita akan kisah cintanya.


"Mas ayolah cepat balas.."


Dhea menahan perih hatinya.


Tak berani membayangkan keputusan apa yang akan dia dan anaknya terima.


"Biarlah mas Anajib yang akan memberi jawaban pada orang tuanya."


Bisik Dhea.


Yang terus menunggu balasan suaminya.


💕Sampai di sini dulu kakak reader .💕


Terimakasih hadir dan dukungannya..🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2