Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 54


__ADS_3

Jingga bergeser memeluk malam.


Kumandang adzan maghrib terdengar dari masjid seberang rumah.


Anajib pun melangkah menuju masjid.


Nampak Salman dan teman yang lain sudah mengambil air wudhu di padasan.


"Tuhan... "


Detak jantungku selalu berdetak kencang bila


ku teringat akan dirinya.


Bentang jarak sudah memisahkan keduanya.


Begitu banyak kenangan yang telah mereka ukir bersama.


Di padasan ini.


Saksi bisu kisah keduanya.


Dan masjid tempat keduanya menuntut ilmu.


Dengan berjalannya waktu entah sejak kapan..?


Rasa itu tumbuh di hati keduanya.


Walau Anajib merasa terlambat ungkapkan


perasaannya.


Saat orang itu jauh berada, Ia baru menyadari


akan perasaan itu harus ia sampaikan.


Bukan untuk ia pendam.


Kadang kita baru sadar kalau orang itu tak ada


di sisi.


"Sahabat kecil yang selalu ia rindukan.."


Rindu itu bukan lah rindu biasa.


Namun kini rindu itu penuh rasa cinta.


"Woiiii..."


Melamun jangan di padasan mas broo..!!


Salman menepuk bahu Anajib.


"Mikirin yang nggak pernah hadir di sini yaa..??


Tebakan Salman seperti paham betul.


Apa yang ada di hati sahabatnya.


Keduanya tertawa lalu melangkah masuk masjid


untuk sholat berjamaah.


Sahabat lainnya pun masih setia hadir dalam


kajian yang selalu di pimpin ustad pemilik tatapan tajam.


Dan deheman ciri kasnya.

__ADS_1


Tatapan sang ustad selalu mengabsen untuk


memastikan tak ada yang mangkir dari kajian.


Semua hadir, "Hanya satu wajah yang tak nampak dalam majelis ilmunya."


Yaa Karena beliau sendiri yang mengirimnya ke Bandung.


Dengan di pisahkan Dhea dengan putranya.


Beliau merasa aman akan kondisi hati putra kebanggaannya.


kajian di mulai.


"Dan pemuda yang memiliki kumis tipis dengan jambang yang menghias wajahnya.


kini nampak khusuk dalam muraja'ahnya.


Mata itu tak mencari-cari lagi bayangan Dhea


di antara deretan sahabatnya.


Kini wajahnya terlihat tenang.


karena orang yang selalu ia cari dan rindukan


Sudah ia tahu keberadaannya.


Sepertinya hanya Tuhan dan senja yang jadi saksi


Bisu. Akan pertemuan yang tak terduga di antara keduanya.


Selesai pulang kajian .


Anajib langsung pulang ke rumah.


Ibunya selalu mengingatkan untuk makan malamnya.


Ia pun segera bergabung untuk makan bersama.


Bapak dan ibunya.


"Mas harapan bapak nanti lanjutin S2 nya


di Al Azhar Kairo Mesir aja mas..!


Sayang ilmu yang dari pondok.!!


Kata sang ustad pada putranya.


"Heningg... hanya bunyi sendok yang berdenting


mana kala sendok itu beradu dengan piring.


Ketika tangan itu berusaha memotong lauk.


Sang ibu pun hanya diam.


Ibu selalu patuh dengan semua keputusan bapak.


Sang putra pun seperti tak tertarik dengan harapan bapaknya.


Ia memilih menyudahi makannya.


Dan pamit meninggalkan meja makan.


Langkah kakinya membawanya masuk ke kamarnya.


"Mas ..., kamu nggak sakitkan??

__ADS_1


Tanya sang ibu melihat wajah sang putra yang


berubah murung dan langsung masuk kamar.


"Nggak bu..,"


Jawabnya dari kamar.


"Jarak antara kota kecil dengan kota kembang


saja terasa begitu jauh ku rasa..".


Apalagi aku harus di asingkan lagi di Kairo Mesir.??


Uchhhhh.


Kenapa rasa ini begitu menyiksa.


Bodohnya aku biarkan rasa itu bersarang di hati.


Kamu kini jauh , Baru semakin ku sadari.


Begitu berartinya dirimu dalam hidupku ini.


Anajib terus menyesali kenapa baru sekarang ini


Ia ungkapkan perasaan hatinya.


Kenapa nggak dari dulu ketika setiap senja ku jumpai dirimu.


***


Suasana malam di kota kembang.


Tepatnya di jln gegerkalong.


Di dalam kamarnya Dhea berperang dengan kenyataan yang ia hadapi .


Sisi hatinya ia tak mampu berpaling dari rasa yang ada, "Apalagi menghapus tawa lebar dari hidupnya..?


Tapi sisi hati yang lainnya Ia pun tak ingin menghianati janjinya pada sang ustad guru ngajinya.


Kini Ia pasrahkan semua pada sang Maha Kuasa.


Hatinya terus bertanya.


Namun ia tak mampu beri jawabnya.


Sepiii.. dan sunyi saat ini begitu menyiksa hatinya.


Dhea berusaha tegar demi sebuah cita-cita.


Ia tak ingin mengecewakan ibu, dan ustad yang


Sudah membiayai pendidikan serta kebutuhan


hidupnya.. "Walau semua itu bersyarat.."


Ia selalu hibur hatinya dengan mengalihkan perhatiannya dengan membaca.


Dan ia berharap Tuhan mengizinkan bertemu lagi dengan tawa lebar pada saat nya nanti.


***


🌺🌺🌺🌺


Oke sampai disini dulu.


Terimakasih kepada para Reader..🥰🥰

__ADS_1


Yang selalu setia membaca karyaku.


__ADS_2