
Aku sengaja diam.
Bukan untuk membisu mengacuhkan mereka yang bertanya tentangmu.
Diamku demi cintaku.
Tak rela belahan jiwa harus pulang sebelum berhasil meraih cita-cita.
Tak ingin lagi kepercayaan sang bapak yang berharap Anajib meraih gelar master terkhianati.
"Apa kabarmu mas?"
Senja ini aku dijemput bapak untuk kembali.
Bisik hati Dhea dalam keheningan dalam mobil yang terus melaju membawanya kembali pada kenangan masa kecilnya bersama orang yang suka jail dan paling suka mencipratkan air wudhu dimukanya yang kini sudah menjadi abi dari bidadari kecilnya.
Mungkin sudah menjadi garis hidup Dhea Anatasya.
Oleh ustad diasingkan jauh dari Anajib.
Dan kini beliau sendiri yang membawa Dhea pulang kerumah ke keluarga ningrat ini.
Tak terasa mobil itu sudah melaju selama tujuh jam.Untuk beberapa saat berhenti untuk istirahat dan sholat.Biasanya perjalanan ditempuh delapan jam,karena perjalanan lancar maka ditempuh hanya tujuh jam.
Tepat pukul satu dini hari mobil berwarna merah itu menepi didepan rumah bergaya joglo.
Pak Soleh turun dan membukakan pintu mobil buat beliau dan Dheapun segera turun sambil mengendong bayi mungil itu.
Beliau berjalan diikuti istrinya dan Dhea melangkah dibelakangnya.
"Ayo masuk Dhe.."
Perintah sang istri pada Dhea.
Berhubung malam sudah larut.
Dhea langsung dibawa kekamar.
Jantung Dhea bergetar dinding kamar itu dihiasi kaligrafi dan ada terpasang potho orang yang sangat ia rindukan.
Wajah ganteng itu nampak tersenyum.
"Mulai saat ini kamu dan anakmu tidur dikamar ini!"
Kata istri sang ustad pada Dhea.
"Baik bu,terimakasih."
Jawab Dhea sambil melangkah menutup pintu.
Kini tinggal Dhea dan Syifa bayi mungil itu nampak pulas dalam tidurnya.
Perlahan Dhea turunkan anaknya dari gendongannya dan ia tidurkan diatas kasur milik abinya.
"Syifa sayang sehat selalu ya nak,sekarang syifa tinggal dirumah eyang."
Bisik Dhea pelan pada anaknya.
__ADS_1
Dan kini ia tertidur disamping anaknya.
Dikamar yang berbeda sang ustad nampak kusut dengan beribu pertanyaan yang belum beliau temukan jawabannya.
"Dhea siapa bapak dari bayimu?"
Beliau nampak berkata-kata disamping istrinya.
"Sudahlah pak,ayo istirahat dulu!"
"InsayaAllah besok ibu akan bujuk Dhea untuk jujur pada ibu."
Kata istri pak ustad menenangkan hati suaminya.
Baru saja mata itu terlenyap.
Oau oau oau.
Tangisan Syifa memecah kesunyian rumah itu.
Dhea segera bangun dan memeriksa popok syifa.
Lalu menidurkan lagi dengan memberi ASI.
Dhea menenangkan anaknya dengan mengajak ngobrol.
"Bobo yaa sayang."
"Syifa rindu abi yaa."
Kata Dhea sambil mengelus-elus tubuh mungil anaknya.
Obrolan Dhea yang pelanpun terdengar dari balik pintu kamarnya.
Sang ustad dan istri yang berusaha membantu Dhea menenangkan bayinya urung untuk mengetuk pintu kamarnya.
"Sepertinya Dhea sudah terbiasa pak,buktinya bayinya langsung diam bisik sang istri."
Lalu keduanya kembali kekamar lagi untuk beristirahat.
Tak lama subuh menjelang.
Suara adzan mengumandang memanggil semua jiwa-jiwa yang beriman.
Dan pak ustad pun beranjak pergi untuk berjamaah dimasjid.
Dhea walaupun belum sholat karena masih masa nifasnya ia tetap bangun.
Namun ia bingung tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kini ia putuskan untuk mencuci tapi menunggu ibu ustad dulu keluar dari kamar beliau.
"Mas aku bingung apa yang harus kulakukan?"
Dhea terus berkata-kata sambil menatap potho wajah ganteng yang sedang tersenyum terpasang
didinding.
Dhea tak menyadari semua ucapannya selalu disimak oleh sang ibu.
__ADS_1
"Dhe kamu ngobrol sama siapa?"
Tanya ibu Anajib dari balik pintu.
Dan sang ibu minta ijin untuk masuk.
Kini beliau duduk ditepi ranjang sambil menatap bayi cantik itu.
"Anakmu cantik Dhe, namanya juga bagus.:
Kata beliau memuji bayi kecil yang tak lain adalah cucunya sendiri.
"Maafkan Dhea bu,belum bisa jujur untuk saat ini."
Bisik Dhea sambil merapikan kamar itu.
"Oyaa siapa suamimu?"
"Kenapa ia tega ninggalin kamu dan anakmu?"
Pertanyaan demi pertanyaan selalu beliau ajukan.
Namun sebisa mungkin Dhea menghindar dan memilih diam.
"Yaa udah kalau kamu tidak mau cerita,ibu tidak akan memaksa."
"Ibu hanya mo tahu saja siapa nama suamimu?"
Saat ini beliau seperti memaksa.
"Emmmm,namanya.. mas bojoo bu."
Jawab Dhea asal terlintas gelar baru buat suaminya.
"Mas bojoo..?"
Nama yang lucu,kata beliau dan sebelum berlalu
memberitahu "Dhe kalau mo mandi atau mencuci silahkan saja.
"Baik bu terimakasih."
Jawab Dhea lega.
Maaf mas,terpaksa aku bilang namamu mas bojo.
lagi-lagi Dhea berkata-kata dengan potho itu.
"Mas andai aku bisa ingin kuputar waktu agar hari-hari segera berlalu."
Rasanya rindu ini sungguh mencabik-cabik sabarku.Mempermainkan hati dan perasaanku.
"Mas disini aku selalu setia menantimu."
Bisik Dhea menghibur jiwanya yang selalu merindukan belahan jiwanya.
****
__ADS_1
💕Terimakasih kakak semua,atas dukungannya.💕