
Ketika rindu itu menyiksa, hanya doa pelipur lara.
Kala belahan jiwa itu jauh keberadaannya, ada Tuhan yang maha segala.
Ketika tak ada lagi dada untuk bersandar, tapi masih ada sajadah untuk bersujud.
Entah sudah keberapa pekan.
Kau tak hadir disini.
Entah sudah berapa bait puisi rindu Dhea titip pada sang senja.
Dan waktu terus berlalu.
Tak terasa usia kandungan Dhea masuk usia sembilan bulan, dan tinggal menunggu waktu untuk persalinan.
Hari-hari penuh penantian panjang.
Jika sepi itu menyiksanya Dhea hanya mengelus
perut besarnya.
"Sabar ya sayang...., abi sedang menuntut ilmu jauh di negeri orang."
"Sehat selalu ya sayang..., ada umi yang akan menjagamu."Disini.
Bisik Dhea pada buah hati dalam kandungannya.
Malam ini kota Bandung sedang diguyur hujan.
Disertai suara petir yang mengelegar.
Duarr Duarŕrr
"Mas aku takut.!"
Bisik Dhea dalam kesendiriannya.
Sambil memeluk gulingnya.
"Tiba-tiba perut itu terasa mulas, dan pinggangnya
terasa sakit teramat sakit."
"Astagfirullah sakit sekali."
Auhhh auhhhh huh huh...
"Massss..., ya Allah sakittt.."
"Mas sakitttt..." Teriak Dhea dalam kesendiriannya.
Dhea langsung menelpon bu Euis ibu kost sekaligus bu lek suaminya.
Alhamdulillah langsung terhubung.
"Assalamualaikum."Ada apa mbak Dhea..?"
"Maaf bu perut saya terasa sakit."
Uchhh uchhh.
Dan Dhea langsung memutus telpon itu.
Selang berapa menit.
Tok tok tok
"Mbak Dhea."Panggil bu Euis dari balik pintu.
Dan susah payah Dhea melangkah menuju pintu.
Cekrekk.
Pintupun terbuka.
Nampak baju bu Euis sedikit basah terkena air hujan.
"Maaf bu saya merepotkan."
Kata Dhea sambil menahan rasa sakitnya.
"Nggak pp mbak."Kata bu Euis tulus.
Dan nampak wajah wanita paruh baya itu kaget.
Bu Euis terbelalak melihat ada cairan itu membasahi gamis Dhea.
"Astaga mbak Dhea sudah mo melahirkan.!"
Ibu Euis walaupun tidak memiliki keturunan
namun beliau paham tanda-tanda orang yang mau
melahirkan.
Lalu beliau nampak sibuk menyiapkan perlengkapan dede bayi sekalian baju salin Dhea.
Dan dengan sigap memasukkan dalam tas.
__ADS_1
Sedetik kemudian "Tunggu sebentar yaa mbak."
Ibu mo panggil bapak untuk siapkan mobilnya.
Dhea hanya mengangguk sambil terus beristigfar.
Sesekali memanggil belahan jiwanya.
"Astagfirullah, ya Allah."
"Auhhh auhhh."Mass.. aku ingin kau disisiku saat ini.
Bisik hati Dhea sambil berurai air mata.
Ingin hatinya dipeluk dan dibisikkan doa-doa oleh seorang Anajib tapi apalah daya kenyataan kisah hidupnya tak seindah. Drakor "Chocolate."
Bu Euis dengan buru-buru melangkah sambil berlindung di bawah payung.
Setelah menyimpan payungnya dia segera masuk ke dalam kamar Dhea.
"Ayo mbak ,hati-hati ya mbak." Kata beliau
sambil menuntun Dhea dan menjinjing tas dan payung.
Mobil itu menerobos derasnya hujan dan suara petir yang bersautan, rintihan Dhea disela-sela istigfarnya membuat pilu bu lek suaminya.
"Tahan ya mbak."sebentar lagi kita sampai suara bu Euis selalu menguatkan Dhea.
Dan benar saja mobil itu segera menepi.
Di depan rumah sakit besar di kota Kembang.
Dhea terus merasakan mulas yang tak henti-henti.
"Ibu kenapa Dhea dibawa ke rumah sakit besar.?"
Kata Dhea masih sempat mikir biaya persalinannya di dokter kandungan akan lebih mahal.
"Udah mbak Dhea."Jangan mikirin biaya ini dah tanggung jawab Anajib dia sudah menitipkan semuanya pada bu lek,kata bu Euis.
"Cepat pah panggil perawat.!"
Perintah bu Euis pada suaminya.
Dan langkah itu buru-buru masuk dan secepat kilat kembali dengan beberapa perawat mendorong kursi roda.
Dhea dituntun keluar dari mobil langsung didudukkan dikursi roda.
Dan para perawat membawanya keruang bersalin.
"Dokter kandungan itu bernama Ella."
Beliau nampak cantik dengan baju dinasnya yang berwarna putih. Senyum dokter Ella membuat tenang Dhea.
'Ayo ibu berbaring ya.!"Katanya bersahabat.
"Hati-hati,oke sabar ya bu.!"
Auhh uhhh, Dhea terus menahan rasa mulas diperutnya yang terus menyiksanya.
Dokter Ella segera mengecek bagian bawah Dhea.
"Alhamdulillah bu,sudah pembukaan delapan."
"Tunggu dulu jangan ngejan dulu bu,takut tenaganya keburu habis."
Dokter itu terus mengajak Dhea ngobrol.
"Anak keberapa bu.?"Tanya dokter Ella ramah.
"Pertama dok." kata Dhea Sambil terus menahan
sakit itu.
Auhhhh aahhh aaaa, ngeeeeg.."
Tiba-tiba bayi dalam kandungannya seperti mengajak, sang umi untuk mengejan.
Dokter Ella sigap siap posisi menyambut sang bayi
dan para perawat itu sibuk membantu menyiapkan segala sesuatunya.
"Okee bu, mengejan lagi yaaa.!"
Dengan susah payah Dhea berjuang mempertaruhkan nyawanya demi sang buah hatinya.
"Bismillah, uueggggg."
Dan oua oua tangis pertama buah hatinya diantara
deru suara hujan yang menyiram semesta.
"Suaminya ada diluarkan bu.?"
Tanya dokter Ella pada Dhea.
"Maaf dokter suami saya tidak ada,beliau sedang
kuliah." Jawab Dhea perih.
__ADS_1
"Ochhh Maaf ibu.'
Lalu dokter itu keluar ruangan,menjumpai bu Euis dan suaminya.
Bapak dan ibu keluarga bu Dhea.?"
Mohon maaf siapa yang akan mengadzani bayi bu Dhea ya.?"Tanya dokter.
"Sebentar dok ini lagi menghubungi suaminya."
Aduhhh kemana sihh Najib.?"
Paklek nampak sibuk terus menghubungi no kontak suami Dhea.
Kalau tidak terhubung bagaimana..?
Saya pamannya,biar saya yang akan mengadzani.
Disebuah kamar di kota Kairo Mesir,Anajib merasa tengorokannya seperti tercekik.
"Astagfirullah,mimpi apa aku.?"
Lalu tangannya meraih HP niat hati untuk melihat
jam. "Banyak amat panggilan tak terjawab.?"
Dari pakle.?
Belum sempat ia mengambil minum.
Hatinya berdebar-debar jangan-jangan..
Dan tuttt langsung kontak itu terhubung ke no kontak pak leknya.
Dan langkah Pak lek sudah mendekat ke ruangan bayi. Tiba-tiba dretttt drett HP disaku bajunya bergetar.
"Assalamualaikum."Sapa Anajib dari sebrang sana.
"Walaikumsalam."Mas.
"Ada apa ya pak lek.?"
Tanya Anajib penasaran ingin mendengar kabar dari Indonesia.
"Alhamdulillah mas,istrimu sudah melahirkan."
Suara pak lek terdengar mengetarkan kalbunya.
"Sekarang saatnya kamu adzani anakmu.!"
Lalu langkah pak lek mendekat bok bayi.
Di dampingi perawat.
Nampak mata itu berkaca-kaca.
Selama ini ia sering mengumandangkan adzan untuk memanggil orang-orang yang beriman
untuk menunaikan kewajiban.
Adzan saat ini sangat berkesan dalam kisah hidupnya. Kini adzan yang ia bisikkan pada buah hatinya.Semoga buah hati abi akan selalu terpanggil kelak ketika mendengar suara adzan.
Aamiin.
Didalam ruangan Dhea nampak sedih.
Air mata itu membasahi pipinya lagi.
Ketika bu lek dan pak lek Anajib masuk buru-buru
Dhea hapus air matanya.
Tiba-tiba tangan pak lek menyodorkan HP yang masih tersambung VC.
"Lho kok sedih sayang." Suara itu membuat Dhea
teriak senang.
"Mass bojoooo..."
Huu huu aku rinduuu...
Dan tangis itu pecah.
Pak lek dan bu lek memilih keluar dari ruangan.
Biarkan mereka melepas rindu.
Dan mengukir kisahnya lewat suara.
**
💕Terimakasih semua atas dukungannya.💕
Untuk semua rekan author, saya juga ucapkan
Terimakasih 🙏🙏🙏 atas hadir dan dukungannya
💕MATUR SUWON 💕
__ADS_1