Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 68 Pulanglah Sayang


__ADS_3

Hati ku yang selalu mencintaimu akan selalu menunggumu. Di sini bersama senja dan buah hati kita. Walau jujur ku sadari sulit hati menerima kenyataan ini.


Bagaimana harus ku jelaskan rasanya terbelenggu


rindu. Susah payah Dhea menahan air matanya.


Ketika separuh jiwanya akan kembali lagi ke kota kecil.


Selesai sholat Subuh berjamaah di pondok pesantren sebrang jalan. Dia harus pulang kembali menjalani hari-harinya. Dan sebentar lagi akan semakin jauh dengan orang yang ia cintai.


Anajib sebenarnya sangat berat meninggalkan Dhea sendirian dalam kondisi yang sedang mengandung buah hatinya.


"Maafkan mas, ya kutu buku,


akan semakin jarang bertemu denganmu."


Batin pemilik gelar tawa lebar itu sambil menatap


orang yang sebentar-bentar "oeeee...oeekkk."


Dhea terus memeluk suaminya, tubuh tinggi itu akhirnya membungkuk dan bibir itu saling bertemu. Cukup lama sampai keduanya saling mengakhirinya.


"Mas bagaimana kalau bapak tahu hubungan ini?"


Dhea menatap sang imam penuh rasa takut kalau


pak ustad sampai tahu apa yang sudah terjadi diantara keduanya.


Anajib mengenakan jaketnya.


Lalu ia menjawab pertanyaan istrinya.


"Sekarang kita jalani aja dulu."


Besok atau kapannya bapak tahu, Kita hadapi bersama. Perkara endingnya akan bahagia atau kecewa. Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan.


Dhea hanya diam mendengarkan setiap kata yang suaminya ucapkan.


Kini Anajib sudah memakai helmnya.


"Mas hati-hati yaa,"kata Dhea sambil salim pada


Pemilik wajah ganteng itu.


"Siap nyonya."


"Dan tolong jaga buah hati kita yaa.!"


Kata Anajib sambil mencium perut Dhea.


Dhea hanya mengangguk, dan air mata itu tak mampu lagi ia bendung.


"Heyyy, jangan nangis dongggg."


Mas jadi ikut sedih nihh.


Tangan Anajib menghapus air mata itu.


"Assalamualaikum." Lalu ia mengucapkan salam


dan segera menghidupkan motornya.

__ADS_1


"Walaikumsalam." Mas jawab Dhea.


Nampak bu lek dan pak lek hanya melambaikan tangannya dari teras rumahnya.


Sekejap bayangnya menghilang dari pandangannya.


Seperti ada yang hilang dari raganya.


Mari bu, pamitnya pada ibu kostnya


"DAN."


Dhea membawa langkahnya kembali ke kamar kostnya. Banyak rasa yang memenuhi hatinya.


Di bukanya pintu kamarnya.


CEKREKK..


Dan pintu pun ia tutup kembali.


Kini Dhea kembali dengan kesendiriannya.


Tetapi sekarang ia tidak sendiri.


Dhea kini mengelus-elus perutnya.


"Sayang, sehat selalu yaa."


Jangan takut, walau abi tidak selalu bersama kita


umi yang akan menjaga mu sayang.


buah hatinya yang berada di rahimnya.


Sedangkan abinya.


Mengarungi jalanan lautan kendaraan yang ingin segera sampai di tempat tinggalnya kota kecil.


Tempat di mana semua kenangan indah bersama orang yang ia cintai.


Yang harus rela di asingkan demi menjaga martabat keluarga ustadnya.


Kasta itu yang membedakan si kutu buku dengan tawa lebar.


Anajib memiliki cinta yang tulus , tak pernah memandang perbedaan yang ada.


Rela ia berkorban memperjuangkan cintanya.


Keduanya menyadari resiko keputusannya untuk tetap hidup bersama walaupun dengan cara terpisah.


Aku yakin dengan jalan yang ku pilih.


Karena kisah cinta ku dengan Dhea adalah cinta yang tulus. Karena sejujurnya cinta tak pernah memilih pada siapa.


Dhe walaupun hidup kita selalu terpisahkan.


Tetapi rindu kita akan terus bersanding.


Kata Anajib dalam hatinya.


Dan laju motor pun terus menyusuri jalan aspal yang panjang. Kurang lebih delapan jam.

__ADS_1


Dan laju itu diperlambat karena jarak rumah semakin dekat.


Mendengar suara motor yang menepi sang ustad


melangkah keluar rumah diikuti sang istri.


Ada rasa deg- degan di dada orang yang baru turun dari motor itu.


Langkahnya semakin mendekat.


"Assalamualaikum."Salamnya pada bapak dan ibunya.


"Walaikumsalam."


Kedua orang tuanya membalas salam sang putra.


Melepas helm.


Lalu salim pada keduanya.


Ingin segera berlalu.


Tetapi suara itu menahannya.


"Mas bapak mo ngomong."


Menghentikan langkahnya, ada apa pak?"


Wajah sang bapak nampak menyelidik.


"Kamu nginep di mana?"


Suara itu begitu galak menanti jawaban sang anak.


"Rumah teman."


Anajib berusaha tenang.


Lalu suara itu menyelidik lagi.


Bapak nggak suka ya mas.!"


Kamu sering nginep-nginep, kalau ada kaitannya dengan tugas bapak nggak masalah.


Tapi saat ini kamu itu tinggal nunggu wisuda.


"Pokoknya mulai pekan besok bapak tidak akan ngijinin kamu nginep lagi.!"


Setelah selesai menyampaikan amanahnya.


Sang ustad meninggalkan putra kebanggaan.


**


Ketika Allah sudah meridhoi..


Tak akan ada satu manusiapun yang mampu memisahkan.


Allah yang menciptakan rasa suka dan cinta.


Dan sesungguhnya tak ada cinta yang salah.

__ADS_1


__ADS_2