
Ada kepuasan tersendiri bisa memandang wajahmu walau harus memandang dengan secara sembunyi-sembunyi.
Semenjak dia selalu hadir di perusahaannya,
walaupun hadirnya hanya untuk bekerja,bukan untuk berjumpa dengannya,itu sudah cukup membuat hatinya bahagia.
Hari-hari yang dulu muram kini terasa berwarna kembali dengan hadirnya seorang Dhea tiap harinya.
Dhea sendiri menjadi istri seorang Anajib Putra Ramadhan adalah sebuah pilihan.
Dengan kesadaran penuh ia mengaamiinkan ketika si jahil mengajaknya menikah menjalani biduk rumah tangga walau tanpa restu bapak ibunya Anajib.
Semua pilihan harus ada konsekuensinya.
Hari-hari Dhea harus terbiasa menjadi orang tua tunggal untuk Syifa.
Walaupun tulang punggungnya jauh.
Hari-hari Dhea selalu semangat untuk bekerja.
Ia sadari Anajib untuk saat ini baru bisa memberi nafkah dari kerja paruh waktunya sebagai asdos diantara waktu utamanya menuntut ilmu.
Sinar mentari pagi selalu setia menemani paginya Dhea dalam perjalanannya menuju tempat kerjanya.
"Alhamdulillah,hari ini tidak terlambat."
Bisik hati Dhea sambil memarkirkan motornya.
Tak pernah ada yang tahu dan tak pernah Dhea sadari,hari-harinya selalu dalam pengawasan orang yang selalu diam-diam mencuri pandang dari balik tirai kaca sebuah ruangan.
"Pagi mbak...
Sapa Dhea ketika berpapasan dengan mbak Lily.
"Pagi Dhee,tumben hari ini kamu nggak kesiangan?"
Jawab mbak Lily sambil tersenyum.
"Kalau Syifa nggak rewel insyaAllah nggak kesiangan mbak."
Jawab Dhea sembari melangkah menuju mejanya.
Dhea langsung duduk dan memulai pekerjaannya.
Baru juga Dhea membuka filenya,mbak Lily datang
menyampaikan pesan.
"Dhee dipanggil bos!"
Kata mbak Lily sambil berlalu pergi.
"Siap mbak,"jawab Dhea siaga.
Sebelum menuju ruang bos Dhea berusaha tenang
dan diperiksa kembali hasil kerjanya sebelum di serahkan di meja bos.
Dhea selalu deg degan kalau bos memanggil.
Perasaan takut akan kena teguran,takut hasil kerjanya tidak berkenan.
Langkah Dhea berhenti di depan pintu pak bos.
"Bismillah." Bisik hati Dhea sebelum mengetuk pintu.
Tok... tok... tok..
Perlahan Dhea mengetuk pintu itu.
"Masuk."
Terdengar suara menitah Dhea masuk.
"Permisi pak."
__ADS_1
Sapa Dhea.
"Duduklah,dan tolong bacakan isi dan pesan dari iklan supaya menarik banyak konsumen."
Perintah pak bos sambil terus asyik menatap fokus
layar ponselnya.
Dhea penuh ketelitian,dan kehati-hatian membacakan semua isi pesan dari iklan yang Dhea rancang.
Dhea terus membaca sampai selesai,walaupun orang di hadapannya tak pernah mau menatap ataupun melirik kearah Dhea.
"Ini bos bener-bener tak memiliki adab,
mentang-mentang yang memiliki perusahaan,
sombong amat ini pak bos tak pernah sudi menatapku,"keluh Dhea dalam hatinya.
Karena tak pernah dianggap ada setiap dipanggil
dihadapan bos.
Beda lagi yang ada dihati pak bos.
Bos itu tak berdaya merasakan gejolak hatinya.
"Ingin aku utarakan rasa ini karena semakin lama ku tak sanggup lagi meredam rasa,namun ya kalau kamu mau menerima,kalau kamu cuek seperti waktu SMA,aku bisa-bisa akan kehilangan dirimu
lagi." Pak bos sibuk berdiskusi dengan hatinya.
Beliau tidak menyadari Dhea sudah lima menit terdiam dalam duduknya,setelah selesai membacakan hasil kerjanya.
Berhubung Perusahaan tempat Dhea kerja adalah bergerak dalam bidang pangan makanan dan minuman. Sari Husada PT. Yang terletak di jalan raya Solo Jogja. Dan Dhea harus pandai-pandai
mencari terobosan membuat iklan semenarik mungkin.
Dhea serba salah,ingin rasa hatinya berdiri dari duduknya dan cepat-cepat berlalu dari hadapan bos yang sombong.
Dan akhirnya bos menyadari Dhea sudah selesai membaca.
Suara pak bos memerintah Dhea kembali ketempatnya.
Dhea secepat kilat keluar dari ruang bos.
"Uchhhhh,"terdengar Dhea menghela nafas lega.
"Wahhh senangnya habis jumpa bos tampan,"
canda mbak April dan disambut cekikikan teman yang lain.
"Achhh biasa saja."
Jawab Dhea sambil duduk dibangkunya.
"Aku benar-benar penasaran,setampan apa pak bos yang sombong itu?"Tanya hati Dhea penasaran.
Dan tak terasa waktu pulangpun tiba.
waktu yang sangat menyenangkan,karena Dhea
bisa bertemu dan mengurus Syifa.
Tak sabar ingin cepat sampai rumah,segera melepas penat bermain dengan buah hatinya.
Tanpa pernah Dhea sadari hari-harinya sepulang kerja mobil mewah itu akan selalu mengikutinya dengan tetap jaga jarak lajunya.
Akhirnya motor Dhea belok dan menepi di rumah sang ustad. Dan mobil itu terus lurus melaju menuju istananya.
"Tinggal di rumah siapa kamu Dhe,itu bukan rumahmu."
Bisik orang yang ada dalam mobil mewah itu.
"Umi...,"
Teriakan senang Syifa menyambut sang umi.
__ADS_1
Sebuah kebahagiaan tersendiri melihat Syifa selalu ceria.
"Assalamualaikum."
Sapa Dhea sambil membungkuk dan menyambut Syifa yang berlari dalam peluknya.
Dhea tak menyadari tatapan mata penuh kerinduan menantinya.
Ingin dia berlari seperti Syifa dan segera memeluknya.Namun tak mungkin ia lakukan di hadapan bapak ibunya.
Syifa anak yang cerdas begitu nurut dengan abinya. Mulut kecilnya terus tersenyum melihat
abinya mengacungkan jempolnya.
"Anak pintar."bisiknya memuji Syifa yang bisa merahasiakan kedatangannya.
Dhea salim pada sang ustadz bersama istri.
Yang sedang duduk di teras rumah,setelah salim Dhea pamit masuk ke dalam rumah.
Syifa melangkah dengan riang gembira.
Mengikuti sang umi menuju kamarnya.
"Sayang,tadi main apa saja dengan eyang,Syifa nggak nakalkan?"
Tanya Dhea pada anaknya.
"Umi aku mainnya dengan abi,bukan dengan eyang!"Protes Syifa pada uminya.
"Abi,abinya ikan?"
Tanya Dhea penasaran.
Anajib yang selalu nguping percakapan anak dan istrinya tersenyum geli.
"Kutu buku..,masa iya aku abinya ikan."
Gerutu Anajib gemes,kamu ajari apa saja Syifa selama aku jauh,Anajib terus bicara sendiri.
Rasa rindu membawanya terbang pulang.
Padahal proses menuju wisuda tinggal nunggu waktu, rasa rindu tak mampu ia tahan.
"Ingin segera aku membawamu dalam pelukku."
Namun belum saatnya aku ungkap hubungan kita.
Anajib menahan gejolak hatinya sambil terus mendengarkan suara anak istrinya.
Entah kenapa tiba-tiba Syifa rewel.
Tangis Syifa membawa langkah Anajib menerobos masuk ke dalam kamar Dhea.
Dan alangkah terkejutnya Dhea melihat suaminya
yang tiba-tiba ada dalam kamarnya.
"Mas bojoo?"
Teriak Dhea spontan.
Tatapan Anajib terkesima.
Menatap istrinya yang baru selesai mandi hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya.
Syifa yang sedang menangis langsung berhenti.
Anajib buru-buru membawa Syifa dalam gendongannya dan buru-buru keluar dari kamar
sebelum terciduk bapak dan ibunya.
💕💕 Sampai di sini dulu kakak..💕💕
Terimakasih atas like dan dukungannya.
__ADS_1