
"Waktu itu bagaikan air yang mengalir terus berjalan dan tak akan pernah berhenti sampai waktu yang akan ditentukan oleh Tuhan."
"Satu tahun itu ternyata begitu singkat".
kalau tidak kita tunggu dan tidak kita ingat-ingat
Tapi waktu akan terasa lama kalau kita hitung dan kita nantikan, apalagi kalau kita rindukan.
"Hari ini adalah hari perpisahan di MTS ku.
Aku, Salma dan siswa yang lainnya datang lebih
Awal karena karena kami akan menampilkan
Pentas seni di atas panggung sekolah di acara Samenan ini.
"Acara demi acara terus berjalan."
Tibalah saatnya kami para siswa menyanyikan
paduan suara "Terima kasih guruku".
Tampak orang tua dan para guru terharu.
sampai banyak yang meneteskan air mata perpisahan.
Dhea pun tak mampu menahan air matanya.
Ia biarkan berjatuhan satu persatu membasahi
pipinya.
"Salma dan teman-temannya memberi ucapan selamat padanya".
Karena Dhea bertahan di tiga besar.
"Memang bukan peringkat pertama sichhh.!
Tapi Dhea cukup bersyukur dan bangga.
"Begitu juga dengan ibunya pun bangga akan prestasinya.
Di penghujung acara semua siswa bersalaman
Dengan kepala sekolah, para guru, staf.
Dan sesama temannya.
Dhea berpelukan dengan Salma. kedua sahabat
itu bertangisan, mereka sadar hari ini adalah hari
perpisahan mereka.
"Jangan lupakan aku ya Dheeee.. , Salma berkata
Diantara isak tangisnya. Dan terus memeluk Dhea." Yaaa... sama kamu juga jangan lupakan
Aku, Jawab Dhea kepada Salma".
"Salma maupun Dhea merasa sedih harus saling
berpisah".
"Tiga tahun mereka selalu bersama".
Dari kelas tujuh sampai kelas sembilan.
Mereka selalu duduk berdua, dibangku yang sama. "Banyak canda tawa dan cerita yang sudah
Berdua ukir bersama, Dalam suka maupun duka."
Ada luka di hati keduanya.
Tapi semua ini nyata dan harus dhea dan salma
Terima.
"Mereka berpelukan lagi "
Dan lagi, mereka menangis bersama.
Dan seperti biasa mereka pun berpisah di gerbang sekolah.
Bedanya kalau hari-hari biasa mereka akan bertemu lagi esok harinya.
Tapi tidak untuk saat ini, karena hari-hari yang akan datang mereka sudah berbeda sekolah,
Dan berbeda temannya.
"Daaaa... " Dheee...!
Salma melambaikan tangannya, Dan tangan
Satunya sibuk menghapus air matanya.
Begitu juga dengan Dhea.
***
Senja ini Dhea terpaku dibalik jendela kamarnya.
Ada rasa bahagia , ada juga rasa perih dihatinya.
Dia bahagia sudah lulus dari MTS, Dan dia tak akan lagi menggoes sepeda di bawah terik matahari lagi. "Dan walau selalu bertahan di
peringkat tiga, dia tetap bahagia.
"Perih hatinya... Ia harus berpisah dengan
Salma Sahabat satu bangkunya. Air matanya
jatuh lagi membasahi pipinya."
Tangisnya pun pecah di antara senja.
"TOK... TOK.. TOK."
Dheeee... Suara ibu menghentikan tangisnya.
"Yaaa .. bu." Jawabnya.
Berharap ibu tidak masuk ke kamarnya.
Sudah ditunggu Siti dan Aminah di teras.!
Teriak ibunya, berharap Dhea mendengarnya.
"Dhea berlalu mengambil mekena dan musafnya." Masih ada sisa-sisa air mata di wajahnya. Terlihat jelas kalau dia habis nangis.
__ADS_1
"WHAT..??
Ada apa dengan mu??
Siti dan Aminah terkejut melihat wajah Dhea
Yang sembab.
"Stttttt..." Dhea memberi isyarat kepada kedua Sohibnya, Supaya tidak berisik.
Ia tak ingin ibunya melihat air matanya.
Ketiganya buru-buru meninggalkan teras rumah
Dhea. "Kenapaaa? Dengan si jail??
"Apaaan sichhh".
Dhea senyum terpaksa,
Tidak ada hubungannya dengan Dia, jelas Dhea.
Oooo.. keduanya bernafas lega.
"Sedih saja berpisah dengan Salma kata Dhea."
Duchhhh ..
Yang punya teman Salma...
Terusss... kita berdua tak ada artinya??
Tanya keduanya seakan tak terima.
"Yaaa... bukan seperti itu.."
Kalau kaliankan setiap hari bisa bertemu.
Bisa ngaji bersama, Main bersama, kata Dhea.
"Heeee.. Heee..."Becanda , kata mereka.
Nampak Si pemilik tawa lebar itu, sudah berdiri
Menantinya di pintu masjid.
"Dhea semakin merasakan getaran-getaran aneh
Di hatinya, Detak jantungnya berirama seperti
Bunyi perjalanan jarum jam di kamarnya.!
"UUUHhhhh.."
Dhea menghela nafas berusaha menenangkan
gejolak hatinya.
Siti dan Aminah mempercepat langkah mereka
Menuju padasan. Terlihat jelas mereka berdua
Punya niat meninggalkan Dhea.!
"AWASSS... " Kalian.. keluh hati Dhea."
Dhea kesel dengan sikap ke dua sohibnya.
Dhea terus melangkah dihadapan Anajib.
Tanpa menolehnya sedikit pun ke arah tawa lebar itu.
Tapi "Hup" Tangannya ada yang menahannya.
Seketika Dhea menghentikan langkahnya.
"Apaaannn sichhh...!!
"Ichhhhhhh.."
Lepasin nggak.! Ancam Dhea .
Anajib malah tertawa, "nggaaak mauuu"!
Tawa lebar itu malah mempererat pegangan
tangannya.
Dhea terlihat gelisah.
Mata Dhea terus melihat sekeliling.
Ia takut ada tatapan tajam mengawasinya.
Tapi tatapan itu tak ada.
"Haaii.. Kamu, mau lanjutin sekolah di mana?
Dia bertanya sambil terus memegang erat tangan Dhea.
"Belum tahu.., jawab Dhea seperlunya."
Dhea tertunduk malu.
"Haa haaa.." kamu kenapaa??
Tanyanya di antara tawanya.
"iichhhhh.. Lepasin napa. ?
"Malu tauuu.. kata Dhea berusaha menarik tangannya.
"Maluuu..? Atau Sukaaa?? katanya.
Bener-bener tak beradab banget sichh.!
"INI ORANG PANDAI BANGET MEMAINKAN HATIKU."
Dhea terus berusaha menarik-narik tangannya.
Tiba-tiba Dhea merasakan ada tangan lain
memegang tangannya.
Dan.., "EHEMMM"!!
Tangan itu ternyata tangan pemilik tatapan tajam. Pak ustad melepaskan tangan Dhea dari
Pegangan Anajib.
__ADS_1
Duchhh , Andai aku bisa menghilang..
Ingin rasanya aku menghilang dari tatapan itu.
Ku lihat tangan pak ustad menjewer telinga
Anajib.
"Aku buru-buru melangkah ke padasan."
Langkah kaki ku merasa melayang.
kaki ku seperti tak bertulang. Lemesssss.
Tapi aku terus melangkah ke padasan untuk
Berwudhu.
"huuhhhhh.." ku hirup udara, lalu ku hempaskan"
Lhaaa.. kenapa lagi dia ngikuti aku ke padasan.
Yaa sichh , Dia mau berwudhu.
"Haaaiiii... lamaaaaa amat kamu wudhunya."
Atau kamu sekalian mandi ??
Dia terus ngajak becanda sambil mencipratkan
air padasan ke arah Dhea.
Ampunnnnn ini orang.!!
Dhea tidak tinggal diam , Dhea menampung air padasan dengan ke dua tangannya.
Dan byurrrrr... air itu membasahi baju koko Anajib.
"KAMUUUU...??
Anajib teriak sambil mengibas-ibaskan bajunya
Yang basah.
Dhea cepat-cepaf berlalu menjauh dari Anajib.
Tapi sayang, langkah Anajib lebih cepat.
Dan " Hup.." Kenaaaa..! Anajjb memegang erat
tangannya. " KAMU JAHAT."Kata Dhea.
Anajib tak mempedulikan kata-kata Dhea.
Dia malah terus tertawa.
Sambil memandang wajah Dhea.
"Lepasin nggaaak.? Bentak Dhea.
Keringin dulu bajuku.. kata Anajib sambil menatap dalam.
Salah sendiri . Dhea berani menjawabnya.
Suara khomad sudah berakhir.
Semua jamaah sudah memasuki shafnya.
Dhea dan Anajib masih berdebat di padasan.
Mereka saling melotot merasa mereka paling
Benar. "Akhirnya Dhea mengalah."
Dhea mengibas-ibas baju koko yang basah dengan tangannya.
Dan tangan satunya masih ditahan dalam pegangan Anajib.
"Aamiin...." Suara jamaah, menyadarkan mereka.
Mereka berdua akhirnya mengulang wudhunya.
Dua rakaat sudah berlalu.
Mereka tertinggal sholat magribnya.
Semua sudah duduk berbaris rapi.
Siap menerima pembelajaran dari pak ustad.
Terkecuali Dhea dan Anajib.
mereka masih menyelesaikan sholatnya.
Dhea buru-buru duduk di barisan belakang.
Semoga tatapan itu terlewat mengabsen ku.
"uhhhh..." Dhea bernafas lega.
Alhamdulilah.. setidaknya aku aman dari tatapannya.
Pak ustad mulai memberi materinya.
Anajib di daulat untuk melanjutkannya.
Pengalan ayat yang berkaitan dengan niat.
Materi itu pernah pak ustad sampaikan.
kenapa sekarang di ulang.?
Inti dari materi itu ternyata di tujukan buat Dhea Dan Anajib.
Yang niatnya belum lurus.
Mulai sekarang perbaiki niatnya.
Yaaa kalau ke masjid itu yaa niatnya mencari
Ilmu, bukan tujuan yang lain.
Misal hanya ingin bertemu seseorang.
kata-kata pak ustad cukup membuat Dhea
Terciduk.. "Anajib tersenyum penuh arti."
***
__ADS_1
Oke Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya 😉