Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 88 Sekeping Hati


__ADS_3

Kalau kamu percaya takdir,kamu harus percaya bahwa apa yang terjadi memang sudah Allah gariskan.


Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan


dan apa yang kamu nyatakan.


Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.


(QS.At-Taqabun:4)


Jarak tidak pernah memisahkan rasa hati.


Raga memang jauh terpisahkan,namun tidak dengan rasa.


Rasa rindu Syifa pada sang abi,membuatnya rewel


dan banyak tanya pada sang umi.


Pagi sekali selesai sholat Subuh,Dhea sudah mulai sibuk dengan pekerjaan rutinan berkaitan dengan cucian,membantu merapikan rumah,dan yang terutama dan paling utama menyiapkan kebutuhan Syifa.


"Ayo sayang makannya jangan buat mainan,umi harus berangkat kerjanya awal!"


Kata Dhea meminta pada Syifa.


"Umi,kenapa abi perginya lama?"


Syifa bukannya menghabiskan makannya,malah


memberi pertanyaan pada uminya.


Dan percakapan antara anak dan uminya selalu


menjadi perhatian sang ustadz,yang sudah mulai tak sabar dengan diamnya Dhea yang selalu menghindari pertanyaan tentang mas bojonya.


"Bu,kalau memang mas bojonya Dhea benar-benar laki-laki sejati,harusnya dia datang mencari anak dan istrinya yang kita bawa pulang dari Bandung


dan tinggal dengan kita."


Sang ustadz membicarakan mas bojo yang bikin emosi jiwanya pada sang istri.


"Dheanya saja yang terlalu percaya dengan mas bojonya,pak."


Jawab istri pak ustadz mulai aneh dengan cinta Dhea yang mempertahankan suaminya,yang menurut mereka,laki-laki yang Dhea cintai adalah


orang yang salah.


"Umi berangkat ya sayang,sholehah umi."


Pamit Dhea pada Syifa.


Setelah mencium anaknya Dhea langsung memakai helm,dan melajukan motornya.


Sampai dia lupa untuk pamit pada ustadz dan istrinya.


Mendengar Syifa menangis hati Dhea sebagai orang tua sejujurnya pilu,tapi bagaimana lagi,Dhea


tak ingin terlambat datang ke tempat kerja dan sampai keduluan pak bos.


***


Syifa yang biasa jadi anak manis yang penurut kini


Sering berulah dan selalu menanyakan abinya.


Mendengar tangisan Syifa,pak ustadz jadi iba.


"Syifa sayang,lihat ikannya!'kalau Syifa nangis nanti ikannya ikut nangis lho."


"Syifa nggak boleh nakal,kasihankan umi."


Bujuk ustadz pada Syifa.


"Eyang aku nggak nakal,aku ingin abi."


"Abi kapan pulang,eyang..?"


Syifa malah semakin rewel,akhirnya ustadz membawa Syifa masuk ke kamar,dan beliau memberikan foto Anajib seperti yang istrinya maupun Dhea lakukan bila Syifa rewel.


Syifa memeluk foto Anajib.


"Abi kapan pulang?"

__ADS_1


Itu yang selalu Syifa tanyakan pada foto.


"Kenapa Syifa selalu bilang Anajib itu abinya,begitu juga Anajib sepertinya sudah dekat dan sayang dengan Syifa,buktinya ketika di bandara dia sampai meneteskan air mata saat memeluk Syifa."


Pak ustadz berdiskusi dengan hatinya


Dan ustadz juga tidak menyalahkan Dhea yang


harus berangkat awal karena pak bos akhir-akhir ini selalu hadir dan turun langsung ke perusahaannya.


Begitu alasan Dhea pada bu ustadz ketika harus


pagi-pagi sekali menitipkan Syifa.


Bos tampan dan berhati malaikat,itu pujian mbak Lily yang menjadi sekretaris pribadi sang bos.


Semua pegawai itu berdiri ketika bos melintas untuk menuju ruangannya. Mata sang bos yang sempat melihat salah satu meja yang masih kosong. Beliau sempat berhenti sebentar namun melanjutkan langkahnya lagi.


Ketika motor itu memasuki gerbang perusahaan


Dhea melihat sudah sepi.Dia buru-buru memarkirkan motornya. Setelah melepas helmnya


Dhea bergegas melangkah setengah berlari menuju mejanya. Semua tatapan mata itu menyambut kedatangan Dhea.


"Maaf kesiangan,"anak rewel,Dhea berusaha menjelaskan pada teman-temannya.


Baru juga Dhea mau duduk.


Mbak Lily mendekat dan menyampaikan perintah dari pak bos.


"Dheee...,mbak semalam sudah pesan kan,jangan sampai datang kesiangan!"


Kata mbak Lily seperti kecewa.


"Maaf mbak,Syifa rewel."


Jawab Dhea merasa bersalah.


"Tuhh panggil pak bos!"


Kata mbak Lily sedikit khawatir,"semoga saja kamu tidak di SP Dhee."


"Baik mbak.."


Jawab Dhea sambil melangkah menuju ruang bos.


Detak jantungnya mulai berpacu sangat cepat ketika langkahnya sudah sampai di depan pintu ruang pak bos.Perlahan dia ketuk pintu.


"Masuk!"


Suara beliau memerintah.


"Permisi pak."


Kata Dhea ketika langkahnya terhenti dihadapan


beliau.


"Duduk.!


Perintahnya.


Dhea segera duduk.


Sampai saat ini Dhea tidak bisa melihat wajah pak bos. Beliau selalu menunduk dan fokus pada layar ponselnya.


Hening,dalam beberapa menit.


Dhea mulai nggak enak hati,hanya duduk tanpa ditanya.


Berbeda lagi dengan pak bos yang sengaja membiarkan orang yang selama ini ia rindukan.


"Andai kau tahu sampai saat ini,hati ini masih mengharapkanmu,dan terus berharap padamu,


begitu lama kau menghilang,rasa ini masih sama


seperti dulu yang selalu sabar menunggu jawabmu."


Setelah hatinya merasa puas membiarkan Dhea


hanya duduk tertunduk dihadapannya.

__ADS_1


Beliau mulai bicara.


"Baru kemaren saya memuji pekerjaanya bagus,


kenapa hari ini sudah mulai tidak disiplin?"


Suara itu seperti menghakimi Dhea.


"Maaf pak,tadi ada sedikit kendala."


Jawab Dhea.


"Oke besok jangan diulang,sekarang kembali ketempat!"Perintah beliau pada Dhea.


"Terimakasih pak."


Jawab Dhea sambil berdiri dari duduknya lalu bergegas meninggalkan pak bos.


***


Hari-hari Anajib harus pandai membagi waktunya.


Anajib sangatlah beruntung,orang tuanya mampu.


Untuk memberikan bekal tranferan digunakan bekal untuk menuntut ilmu di Mesir.


Namun demikian dia ternyata bekerja menjadi asdos ustadz Sanusi.


Semua dia rela lakukan untuk menabung karena


merasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.


Andai sang ustadz tahu,fokus seorang Anajib terbagi antara menuntut ilmu dan mencari nafkah


untuk anak dan istrinya.


Rindu pada sang buah hati dan istri kadang merapuhkan hati.


Ketika hatinya merasa ingin menyerah.


Dhea sang istri selalu menguatkan. Walau hanya


lewat Whatsapp maupun sekedar suara lewat telponnya.


Ingat abi mengapa bertahan begitu lama.


Bila rasa rindu datang menyiksa.


Pikirkan masa-masa saat bersama.


Jalan kebenaran.


Tak akan selamanya sunyi.


Akan ada ujian yang datang melanda.


Anajib segera menepis semua rasa sedihnya.


Bila ingat Kata-kata istrinya.


Kini sebait doa ia panjatkan.


Pada-Mu wahai Allah,Tuhan penguasa alam dan seisinya.Aku titipkan semua urusanku.


Istri dan buah hatiku pada Rahmat-Mu.


Setelah memanjatkan doanya.


Anajib kembali pada kesibukannya.


***


🌺🌺🌺 Sampai disini dulu kakak🌺🌺🌺


Terimakasih atas dukungannya.🙏


Jumpa lagi di episode selanjutnya.


💕SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MELAKSANANKAN💕


🌺Semoga berkah ramadhan membawa rahmat buat kita semua.. Aamiin.🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2