
Cerita tentang masa-masa yang indah.
Saat kita berdua,walau saat ini kita harus pandai mencuri waktu untuk saling melepas rindu.
Saat-saat yang selalu Dhea maupun Anajib tunggu
untuk melaksanakan kewajiban bagi Dhea. Dan menuntuk haknya bagi Anajib.
Tak bisa dihindari sebuah gejolak yang selalu
meronta untuk disalurkan.
"Rasa ini menyiksaku,ketika kamu begitu nyata ada di dekatku namun sulit untuk kusentuh."
"Gejolak hatiku harus ku redam untuk setiap waktuku."
Bisik Anajib pada Dhea yang kini berada nyata dalam peluknya.
Dhea tak banyak bicara ia memilih menatap dan sesekali membelai wajah orang yang dirindukan.
"Aku sangat mencintaimu Dhe,lebih dari semua yang ku punya."Kata Anajib pada Dhea.
"Akupun sama."
Jawab Dhea dan menengelamkan kepalanya didada bidang Anajib.
Dan tak terasa mereka melewati kebersamaannya.
Sampai terdengar suara mobil itu menepi.
"Abiiii....,abii....."
Suara Syifa begitu jelas memanggil abinya.
Anajibpun menyambar semua pakaian yang tertanggal.Dan begitu cepat ia memakainya.
Begitu juga Dhea bergegas masuk kamar mandi
untuk membersihkan tubuhnya.
Langkah kecil kaki Syifa terus melangkah mencari keberadaan abinya.
"Abii...,abiii.."
Syifa terus memanggil.
Sampai akhirnya Anajib keluar dari kamarnya.
"Bidadari kecil abi."
Katanya sambil membungkuk menyambut Syifa.
"Mas nanti bapak dan ibu akan bicara,setelah bapak dan ibu sudah istirahat!"
Kata sang ustadz mana kala melewati Syifa yang sudah mulai bercerita pada abinya.
Dhea keluar dari kamar dan menghampiri Syifa.
"Sayang sama umi dulu yuk."
__ADS_1
Bujuk Dhea pada anaknya,berharap abinya segera mandi.
Akhirnya Syifapun menuruti permintaan uminya.
Dan sang abipun melangkah pergi untuk mandi.
Lembayung mulai menghias cakrawala.
Kini keluarga ningrat itu sibuk bersiap untuk
bertolak ke masjid.
Dhea nampak tersenyum senang memperhatikan Syifa yang selalu mengikuti kemana langkah kaki abinya,dan mulut kecilnya selalu banyak tanya.
"Anak cerdas,bagus Syifa dengan begitu abi akan
merasakan bagaimana lelah dan letihnya menghadapi semua tanyamu."
Bisik Dhea dalam hatinya tanpa sadar Dhea senyum-senyum sendiri.
Tampa ia sadari ia dalam pengawasan beliau.
Entah kenapa hati Dhea bergetar ketika tatapan tajam sang ustadz seakan selalu mengawasi gerak geriknya,dan memergoki ia tersenyum pada Anajib.
Benar-benar kondisi yang menyiksanya.
Harus selalu bermain drama dengan orang yang
ia cinta.Jiwanya terasa dalam bui.
Anajib dengan jailnya kadang tersenyum nakal melihat wajah Dhea yang canggung ketika berada satu meja makan dengannya.
Berbeda dengan kondisi hati Syifa yang selalu manja dan harus disuapi sama abi makannya.
Dan lagi-lagi Syifa sudah berhasil mencuri hati
semua penghuni rumah joglo itu.
Selesai makan malam.
Sang ustad memanggil Anajib di ruang keluarga.
Bapak dan anak itu sedang terlibat perdebatan.
Dhea yang sedang merapikan meja makan tak begitu jelas mendengar semua perdebatan mereka.
Syifa di ajak bu ustadz duduk di teras,supaya tidak merusak pembicaraan sang ustadz dengan abinya.
Dhea sangat kaget ketika nada suara sang ustadz terdengar meninggi.
Dhea berusaha untuk fokus mendengarkan apa sebenarnya yang beliau sampaikan pada Anajib.
Setelah selesai mencuci piring Dhea melangkah menuju teras.
Samar-samar terdengar sang ustadz menyebut
nama Ashofa. Dan sepertinya ada suara penolakan
dari suara Anajib.
__ADS_1
"Mas sudah mencintai seseorang pak.."
"Apa maksudnya mas?"
Terdengar suara beliau meminta penjelasan dari
Anajib.
Dan sedetik kemudian langkah beliau menuju
teras. Takut menganggu,akhirnya Dhea pamit untuk ke kamar dan membawa serta Syifa.
Dan Dheapun masuk kamar sambil menuntun Syifa.
"Gemana bu,ternyata Anajib menolaknya."
Kata sang ustadz pada istrinya.
"Sabar saja pak,pelan-pelan nanti ibu yang akan
memberi nasehat."
Jawab sang istri.
Lalu suami istri itu saling diam.
Memikirkan rencana kedepan untuk perjodohan
yang mendapatkan penolakan dari Anajib.
Di dalam kamar Anajib berusaha menghubungi
Dhea lewat ponsel,"tapi kenapa dengan Dhea?"
Panggilannya tak Dhea angkat.
"Mungkinkah kutu buku cemburu?"
Bisik Anajib dalam hatinya.
Dhea sendiri khawatir kalau suaminya akhirnya
akan goyah pendiriannya,dan melupakan cerita cintanya dengan Dhea.
Nampak jelas khawatir dihati Dhea.
Namun ia berusaha untuk menepisnya.
Suara Syifa menyadarkannya.
Untuk yakin akan kekuatan doanya bersama tulusnya cintanya.
"Jangan pisahkan kami Tuhan.."
Bisik Dhea dalam doa yang ia titipkan pada yang Maha cinta.
๐บ๐บ๐บ๐บ Sampai di sini dulu kakak๐บ๐บ๐บ๐บ
Terimakasih atas dukungannya๐๐๐
__ADS_1