Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 103 Sayang Abi


__ADS_3

Ya Allah Jadikanlah Harapanku Pada-Mu Tidak Berhenti.


Hati siapa yang tak pilu manakala buah hati selalu bertanya "Umi kok abi pergi lagi?"


Wajah polosnya selalu protes "kenapa abi pergi?"


Kalau Syifa sudah mulai rewel Dhea selalu menenangkan dengan cara menelpon sang abi.


"Oke sayang kita akan telpon abi ya!"


Lalu Dhea langsung menghubungi sang suami.


Dan no kontak Anajib pun terhubung.


"Assalamualaikum,"


Suara salam terdengar dari sebrang sana.


"Walaikumsalam."Jawab Dhea,dan ponselpun langsung dikuasai Syifa.


"Abi.... kok abi nggak pulang,abi bilang perginya sebentar?"


Syifa langsung membrondong pertanyaan pada abinya.


"Yaa,sayang abikan kerja dulu..."


Bela sang abi.


"Umi juga kerja,tapi umi selalu pulang,kenapa abi nggak seperti umi?"


Syifa mulai merengek.


Dhea hanya mendengarkan percakapan anrar anak dan abinya.


"Oke,InsyaAllah Sabtu sore abi akan pulang yaa!"


Jawab sang abi menenangkan Syifa.


"Bener yaa abiii..?" Janji.?"


Tanya Syifa minta kepastian.


"Siap,bidadari abi,jaga umi dan dede bayi ya..!"


Kata abinya sebelum telpon itu terputus.


Setelah telponan dengan abinya Syifa langsung berlari mencari eyangnya.


"Eyang... Eyangg..."


Suara Syifa memecah kesunyian suasana rumah joglo itu. Kaki kecilnya terus berlari mencari keberadaan sang eyang.


Tak lama orang yang dipanggil eyangpun keluar dari kamar. Hati wanita paruh baya itu sebenarnya


merasa terhibur dengan kehadiran Syifa di dalam keluarnga mereka. Dan hatinya pun mulai menyayangi Syifa seperti cucu sendiri.


Dan Kuasa Allah menakdirkan,memang ternyata Syifa adalah benar adanya cucu beliau. Anak dari Anajib dan Dhea.


Itu letak kesalahan yang Anajib maupun Dhea buat dalam keluarganya. Bagi keluarga ningrat itu betapa ingin menjaga silsilah keluarganya yang mereka anggap harus dilestarikan turunan darah birunya.


Syifa anak perempuan yang memiliki kecantikan dan kecerdasan semua orang yang melihatnya akan gemas akan sikapnya.


"Dia tidak salah,cuma salahnya kenapa dia harus lahir dari rahim Dhea?" Bukan Ashofa?"


Bisik hati istri sang ustadz itu sambil tertegun menatap Syifa yang sedang bercerita habis telpon abinya.


"Eyangg.."


Panggil Syifa sambil menarik tangan eyang putrinya,yang hanya terdiam memandangnya.


"Echhh iyaaa,maaf sayang eyang juga kangen abi Syifa!"


Jawab sang eyang sambil mengusap dengan sayang pucuk kepala Syifa.

__ADS_1


Lalu keduanya tertawa bersama.


Malam menjelang seperti biasa selesai solat isya berjamaah. Dhea sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga sang ustadz.


Kondisinya badannya semakin repot karena usia kandungannya sudah semakin bertambah bulannya.


Tatapan itu selalu mengawasi Dhea.


Sebenarnya beliau kasihan dengan kondisi sang mantu,walau Dhea bukanlah harapan beliau.


Untuk menjadi pendamping anak kebanggaan.


Semoga saja dengan adanya Anajib tinggal di pondok. Akan mendekatkan ia dengan Ashofa.


Itu harapannya.


Semua makanan sudah tersaji.


Dan keluarga itu pun makan bersama.


Syifa tiba-tiba bertanya pada uminya.


"Umi,hari Sabtu itu kapan sichh?"


Tanyanya disela-sela suapannya.


"Sebentar lagi sayang,ayoo makannya habisin dulu


makannya!"


Kata Dhea sambil membantu memotong lauknya.


"Emang hari Sabtu Syifa mo kemana?"


Tanya pak ustadz pada Syifa.


"Hari Sabtu abi akan pulang eyang,aku seneng dech kalau abi pulang, aku mo minta beli buku cerita."


Jawab Syifa tanpa dosa.


Dhea kini memilih merapikan piring kotor bekas makan mereka. Dan ia lanjutkan mencuci piring berharap kerjaan rumahnya esok hari tidak terlalu numpuk.


Walau pun ikatan pernikahannya tanpa restu mereka,tapi Dhea selalu menghormati mereka.


Hati kecilnya kadang tersiksa akan perasaan cintanya,"kenapa cinta harus hadir diantara aku dan kamu mas.."


Bisik hatinya lirih.


Di Kamar yang berbeda pemilik cinta tulus untuk Dhea selalu sudah merasa cukup hanya dengan memandangnya. Terlalu lama Amir menyimpan perasaannya,namun ketulusannya memberi kekuatan padanya.


Kini Amir sadar Dhea sudah memiliki keluarga yang bahagia.


"Melihatmu bahagia itu sudah cukup bagiku,namun bila orang yang kamu pilih sampai membuat air matamu jatuh,aku yang orang pertama yang akan membelamu."


Amir terus berdiskusi dengan hatinya.


Dan pandangannya tak lepas dari menatap foto kebersamaannya bersama Dhea dan kawan-kawannya waktu SMA.


Kini sunyinya malampun menyiksa hati dan jiwa sekeping hati yang merasa sendiri.


Di dalam kamar di pondok milik sang ustadz Maliki. Belum genap sepekan tapi rasa hati seperti satu tahun terpisah dari anak dan istrinya.


Walaupun dia sudah terbiasa terpisah dengan Dhea,dari jaman kuliah dan awal menikah,tapi saat ini jiwanya meronta terkenang tingkah polah buah hatinya. Dan kini kondisi Dhea yang sedang mengandung anak kedua mereka.


Pikiran tentang kisah rumah tangganya membuatnya sulit untuk pejamkan mata.


Pilihannya untuk mengajar di pondok bukan berarti ia setuju dengan rencana bapaknya,untuk bisa dekat dengan Ashofa.


"Bukan itu,tapi aku butuh pekerjaan untuk menafkahi Dhea dan Syifa."


Kenyataan ini yang sulit ia pahamkan pada Dhea.


"Rasa cemburunya sudah menguasai jiwa wanita hamil itu,sampai segitu cueknya ia padaku."

__ADS_1


Anajib terus berkata-kata dalam hatinya.


Rumah tangganya begitu rumit ia rasa.


Kini ia menghela nafas dan menghembuskannya kembali perlahan.


Galau hatinya membawa langkahnya untuk mengambil air wudhu.


Kini ia memilih menyerahkan urusannya pada sang Maha Kuasa. Berharap kedua orang tuanya ikhlas dengan kenyataan yang ada.


Dhea pilihan hidupnya,apa salahnya Dhea?"


Hanya karena berbeda kasta,"seandainya darah ku bisa ditukar,ku rela ya Rahman.."


Bisiknya dalam doa,kini ia semakin terhanyut dalam doanya hingga waktu solat Subuh tiba.


***


Suasana Subuh itu awal kesibukan Dhea.


Biasanya ada suami yang membantu pekerjaannya


kini ia harus rela mengerjakannya sendiri.


Alhamdulillah Syifa anak yang patuh apa kata umi.


"Syifa ayo bangun!"Nanti terlambat lho."


Kata Dhea pada anaknya.


Bener saja Syifa langsung bangun.


Lalu dia duduk sambil mengucek matanya.


"Umi nanti kalau abi pulang sekolahnya dianter abi yaa umi!" Kata Syifa pada uminya.


"Yaaa, Sayang,sekarang mandi dulu ya!"


Perintah sang umi pada Syifa.


Setelah menyiapkan Syifa untuk beragkat sekolah. Kini Dhea pamit pada pak ustadz dan bu ustadz untuk berangkat kerja.


Dengan kondisi perut yang semakin membesar itu


tak menyurutkan langkah Dhea untuk bekerja.


Lambaian tangan Syifa mengantarkannya.


Mampu memberi energi positif pada jiwanya.


"Aku harus kuat buat anak-anakku." bisik hati Dhea


Apalah arti luka di hati yang di goreskan oleh manusia. Kalau masih ada cinta dan kasih sayang Tuhan yang mampu membasuh semua luka yang ada...


Dan roda motor itu terus menakluknya bisingnya


jalan raya menuju tempat kerjanya.


Dan pemilik tatapan setajam mata elang sudah setia menanti kehadirannya.


Akhirnya motor Dhea memasuki halaman luas perusahaan dan ia segera memarkirkan motornya.


Langkahnya pasti menuju meja kerjanya.


Dan...


🌺 Sampai jumpa di episode berikutnya kakak🌺


Terimakasih atas hadir beserta dukungannya



🙏🙏🙏

__ADS_1


Mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisaannya


__ADS_2