
Hati pemilik tatapan tajam itu kini penuh dengan kebencian sangat jelas terlihat dan sengaja beliau tunjukkan pada Dhea.
Sang ustadz merasa usahanya untuk menjauhkan
Dhea dengan Anajib adalah sia-sia,kini nampak rasa kecewa pada Dhea yang sudah beliau berikan
fasilitas hidup dan biaya kuliah,itu sudah Dhea khianati.
Apalagi kini saat beliau putuskan Anajib menetap di pondok pun,dengan terang-terangan Anajib tentang hanya demi seorang Dhea?"
"Sungguh tak tau diri!"
"Ini balasan yang Dhea berikan untukku?"
Pikir pak ustadz dalam hatinya,beliau memiliki amanah dari orangtuanya untuk meneruskan silsilah darah birunya.
Anajib adalah satu-satunya cucu dari pemilik darah biru itu.
"Bila Anajib saja menjatuhkan pilihannya pada Dhea,Siapa harapan keluarga ningrat kini?"
Pertanyaan itu selalu bergejolak pada hati sang ustadz.
Kini tatapan tajamnya menatap pemandangan di depan matanya.
Nampak Anajib mendorong motor besarnya.
Dan orang yang sedang hamil besar itu membawakan helm beserta jaketnya,mengikuti di belakangnya.
Kini langkah mereka terhenti,Anajib memakai jaket yang diberikan istrinya,lalu nampak perempuan itu mencium punggung tangan Anajib.
"Hati-hati ya bi."Pesannya sambil menatap wajah itu.
"Ya sayang,abi akan selalu hati-hati!"
Jawabnya sambil membungkukkan badannya.
Bibir itu bertemu sebentar dan kini tangan itu mengelus sayang perut besar istrinya.
Dan ciuman itu begitu jelas terlihat oleh pemilik tatapan mata tajam. Beliau menghela nafas panjang lalu di hembuskan menahan kekesalan.
Roda motor itu menjauh menghilang diantara kabut pagi di kota kecil dan terus melaju menuju
pondok tempatnya mengajar.
Sebenarnya jarak yang lumayan bila ditempuh dengan pulang pergi.
Tapi semua Anajib yang memutuskan.
Semua demi Dhea. Sekeras dan seego apapun
laki-laki airmatanya akan menetes juga bila hatinya terluka melihat orang yang ia cintai berurai air mata,apalagi kini Dhea dalam kondisi mengandung anak keduanya.
Dan Dhea masih bekerja untuk mengisi waktunya.
Walau ia sudah meminta Dhea untuk tinggal di rumah saja,Dia selalu menolak.
Alasan nggak enak dengan bapak dan ibu.
Perasaan Dhea yang selalu merasa bersalah.
Karena tidak bisa memenuhi janjinya pada sang ustadz. Semakin membuat Dhea tak enak hati kalau hanya diam di rumah,sedangkan Anajib
mencari nafkah untuknya dan Syifa.
Memang sudah kewajiban suaminya untuk menafkahinya. Tapi rasa bersalahnya pada sang ustadz menyiksanya setiap geraknya.
Dengan ia keluar untuk bekerja setidaknya membebaskan dirinya walaupun hanya sesaat
dari pengawasan mata tajamnya.
Ketika melihat Dhea melangkah masuk rumah.
Beliau menghindar dengan memilih masuk lagi ke kamarnya.
Hari masih terlalu pagi untuk membangunkan Syifa untuk mandi dan pergi sekolah.
Dhea memilih untuk mencuci baju-baju kotor milik semua anggota keluarga ningrat itu.
Perutnya yang sudah membesar,membuatnya tak selincah dulu. Perlahan Dhea menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga.
Setelah itu,ia baru melangkah menuju kamar untuk membangunkan Syifa.
Dan Syifa dengan mudah dibangunkan,pemilik paras cantik itu kini nampak sangat bersemangat.
__ADS_1
Selesai mandi Syifa memakai baju seragam dibantu uminya.
"Oke Syifa sarapan dulu,nanti tinggal berangkat sekolah dengan eyang putri!"
Kata sang umi pada Syifa.
Tiba-tiba Syifa nampak menghentikan suapannya.
"Umi,aku berangkat sekolahnya dianter abi saja!"
Protes Syifa mulai rewel dia.
Kedua eyangnya hanya nampak diam melihat sang cucu mulai merenggek pada uminya.
Dhea berusaha membujuk Syifa.
Namun ia juga tidak berani memberikan janji pada anaknya.
"Sayang,abikan sedang bekerja!"
Kata Dhea memberi paham pada Syifa.
"Abi semalam tidak pernah berjanjikan?"
Kini Dhea mengingatkan Syifa.
"Tapi abi,nanti pulangkan umi?"
Tanyanya minta kepastian pada uminya.
Dhea hanya menggangguk.
Dan akhirnya Syifapun menuruti nasehat uminya.
"Ya udah,Syifa diantar eyang saja umi."
Katanya,sambil menyelesaikan sarapannya.
Setelah berhasil memahamkan Syifa,Dheapun
pamit pada sang ustadz beserta istrinya.
Dan terakhir menghampiri dan memeluk Syifa.
Dheapun menghidupkan motornya dan bayangannyapun menghilang dari pandangan mata orang yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan.
Setelah beberapa saat kemudian,motor pun memasuki gerbang perusahaan.
Dan kini Dhea membawa langkahnya menuju meja kerjanya.
Tak ada yang terlewat dari tatapan mata elang itu.
Setiap gerak wanita yang sedang hamil besar itu.
Selalu memperhatikan di depan layar.
"Sejujurnya hatiku tak rela melihatmu masih bekerja dalam kondisimu yang sedang hamil besar,dimana tanggung jawab suamimu Dhee..?"
Bisik hatinya geram,seakan tak rela orang yang ia cintai menderita.
Nampak langkah Dhea mendekat pintu ruangannya. Benar saja tak lama terdengar pintu itu diketuk dari luar.
"Masuk!"
Titahnya.
Dan wajah yang selalu dia perhatikan diam-diam itu,kini nampak nyata di hadapannya.
Dengan membawa tumpukan map-map yang berisi file-file yang harus ia ACC.
"Permisi pak."
Sapa Dhea dengan hormat,walau kini ia tau,sang bosnya tak lain teman SMAnya dulu.
"Silahkan!"Katanya.
Lalu Dhea menyimpan semua map-map itu diatas mejanya.
"Duduklah!"Perintahnya.
Dan Dheapun duduk tanpa ada rasa apa-apa.
Amir yang duduk tepat di depan Dhea,merasakan
__ADS_1
getar-getar cintanya semakin nyata.
"Entah apakah Dhea merasakan atau tidak akan gejolak yang aku rasa,bagiku tiap hariku bisa menatapmu sebuah kebahagiaan tersendiri."
Bisik hati Amir,sambil terus menanda tangani
tumpukan kertas itu.
Sengaja Amir perlambat geraknya berharap dia bisa berlama-lama mencuri pandang Dhea dari dekat. Setelah puas dia mencuri pandang pujaan hatinya Amir meminta Dhea kembali lagi ketempatnya.
"Terimakasih pak."
Kata Dhea sambil sedikit membungkukkan badan tanda menghormatinya.
Amir tersenyum manis pada Dhea.
Dan sebagai rasa hormatnya Dheapun membalas
senyumannya.
Dhea berdiri dari duduknya lalu melangkah keluar
dari ruangan pak bosnya.
Setelah seharian bekerja tak terasa.
Waktu pulang yang semua karyawan tunggupun tiba,semua senang tak terkecuali hati Dhea.
Roda motor Dhea terus menaklukkan padatnya suasana jalan raya. Bersama datangnya sang senja motor itu terus melaju dan akhirnya menepi di plataran rumah bergaya joglo asli itu.
Pandangannya sesekali menyisir setiap pojok rumah joglo itu.
Dan motor besar itupun belum nampak.
Ada sedikit kecewa dihatinya,namun segera ia tepis rasa itu,mungkin di jalannya macet.
Jadi pulangnya telat,begitu isi hati Dhea untuk
menghibur dirinya.
Ketika Dhea membuka helm dan jaketnya terdengar teriakan sang buah hatinya.
"Umi.."
Teriak Syifa sambil melangkah di samping pemilik tubuh tinggi itu,nampak tersenyum manis menyambutnya.
Dhea terpaku tak percaya,menatap Syifa berjalan sambil menggandeng tangan abinya.
kini Syifa memeluk kakinya dan tubuh tinggi itu membungkuk mendaratkan ciuman di keningnya.
"Assalamualaikum,bumil."Bisiknya.
"Walaikumsalam.."
Jawab Dhea dan segera mencium punggung tangan suaminya.
"Kenapa,melihat abi segitunya?"
"Umi terpesona yaa,dengan kegantengan abi?"
Canda Anajib pada Dhea yang masih nggak percaya,Anajib benar-benar tepati janjinya untuk pulang pergi ke pondoknya.
"Senja memang begitu cepat pergi,namun senja berjanji akan kembali lagi setelah pergi,begitu juga seperti janji Anajib pada Dhea."
Hari-harinya ia akan kembali bersama sang senja,
dan tak akan Anajib biarkan mata itu lelah menantinya,walaupun dengan menolak kehendak sang bapak untuk menetap di pondok.
Ternyata Anajib tak sanggup untuk terpisah lagi.
Dan....
🌺Sampai jumpa lagi di Episode selanjutnya 🌺
Tak lupa Author ucapkan.
"Taqoballahu minna waminkum,siyamana wasiyamakum."
🙏🙏🙏🙏🙏
Dan terimakasih masih mendukung dan menemani
ku,dalam menulis.❤❤
__ADS_1
Mohon maaf,bila masih banyak kesalahan dalam penulisannya,author akan terus belajar untuk memperbaikinnya.