
๐บ Tiada awan dilangit yang tetap selamanya.
Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca.
Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya. Kamulah yang membiarkannya
datang.
Sunyinya malam,semakin menambah sunyi dihati seorang Dhea. Namun walaupun malam semakin larut tapi matanya tak mampu ia pejamkan.
Sebenarnya dan sejujurnya hatinya sudah mulai penat melalui hari-hari hanya berdua dengan Syifa.
Tak terasa usia Syifa kini sudah empat tahun lebih.
Walaupun tinggal berempat dalam keluarga ningrat ini tapi tetap saja Dhea hanya bisa berbagi rindunya dengan berdua dengan Syifa.
Entah kenapa akhir-akhir ini hatinya mulai terasa sunyi,sekarang hatinya ingin belahan jiwanya cepat kembali.
"Cepatlah pulang abi..,"
Bisiknya dalam hati,kini dia tak beda dengan Syifa
yang selalu merengek meminta abinya cepat kembali. Dhea bisa merasakan perasaan sunyi hati Syifa selama ini yang tak ada abi di sisi.
Tapi Dhea tak bisa menyalahkan Anajib,atau menyalahkan takdir.
Karena semua ini sudah menjadi pilihan hidupnya.
Menjadi istri seorang Anajib Putra Ramadhan.
Dan pilihan hidupnya harus ia bayar mahal.
Ya hari-harinya harus rela hidup terpisahkan
dengan belahan jiwanya,yang sedang menuntut
ilmu.
Saat ini ia harus sabar menghadapi hari-harinya. Seperti yang suaminya pesankan.
Rasa lelahnya memaksanya terpejam dalam sunyinya malam bersama sunyi hatinya.
Kumandang adzan subuh membangunkannya.
Yang baru saja melenyap dalam hitungan menit.
Tiba-tiba rasa mual itu begitu menyiksa.
Uekkkk uekkk uekkk.
Susah payah Dhea melangkah kekamar mandi.
Kepalanya terasa melayang.
Suara Dhea yang sedang memuntahkan isi perutnya,terdengar sang ustadz dan istrinya.
Keduanya saling pandang.
"Coba bu bawain air hangat untuknya,dan bilang kalau sakit tak usah berangkat bekerja dulu."
Kata sang ustadz bijak.
"Baik pak."
__ADS_1
Jawab sang istri,dan melangkah mengambil air putih hangat untuk Dhea.
Dan ustadzpun beliau melangkah menuju masjid untuk sholat berjamaah.
"Dhe..."
Suara istri ustadz memanggil Dhea.
Dengan langkah yang lunglai Dhea membuka pintu kamarnya.
Cekrekk.
Pintupun terbuka.
"Ini ibu bawaan air hangat ayo di minum!"
Beliau memberikan gelas yang berisi air hangat
itu pada Dhea.
"Terimakasih bu."
Dan Dhea segera meminumnya,tapi rasa mual itu menolak air putih yang ia minum.
Uekkkkk uekkkk
Buru-buru Dhea melangkah lagi ke kamar mandi.
Mendengar suara uminya Syifa terbangun.
Dan melihat istri sang ustadz yang ada di kamarnya,ia bertanya.
"Eyang kok di kamar aku?"
Tanya Syifa heran melihat orang yang ia panggil eyang duduk di tepi ranjangnya.
"Nggak sayang,eyang hanya memberi umi minum."
Jawab beliau sambil tersenyum.
Dan Dhea sudah keluar dari kamar mandi.
"Kalau sakit jangan dipaksain untuk kerja,maaf Dhe..,selama ini mas bojomu itu ngasih nafkah nggak?"buat kamu dan Shifa?"
Tanya beliau begitu mengagetkan Dhea.
"Alhamdulillah,ngasih bu."
Jawab Dhea lirih,dan hatinya terasa perih.
"Yaa udah,kalau mo sholat,ibu juga mo sholat dulu,
nanti kalau mo berobat bilang aja,biar sopir yang anter!"
Selesai bicara beliau melangkah pergi keluar kamar.
Dan selesai sholat Dhea menghubungi mbak Lily.
Dhea minta ijin hari ini tidak kerja dulu karena ia merasakan kondisinya benar-benar kurang vit.
Walaupun tak berangkat kerja,toh Dhea tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah tangganya.
Ingin sebenarnya ia bawa rebahan,atau malas-malasan,tapi bukan saatnya dirinya mo bermanja pada siapa?"
__ADS_1
Setelah memandikan Syifa ia membantu menyiapkan sarapan dan Syifa sendiri sudah ia latih untuk makan sendiri jadi tak perlu ia suapi.
Di sebuah ruang pak bos nampak mondar-mandir.
Sesekali ia berdiri dibalik tirai dan pandangannya
seperti sedang menunggu.
Saat pintu itu di ketuk dari luar beliau menitah
masuk orang yang mengetuk pintunya.
"Masuk."
Titahnya.
Wajah mbak Lily yang cantik muncul dihadapannya
dan "kenapa bukan Dhea yang membawa semuanya?"
Bisik hatinya kecewa.
"Maaf pak Dhea ijin untuk hari ini."
Kata mbak Lily sambil menyerahkan semua pekerjaan Dhea yang harus beliau periksa.
"Oke,taruh saja,tak perlu kamu bacakan." Perintahnya dan meminta mbak Lily untuk
meninggalkan ruangan.
Di belahan bumi yang berbeda seorang pemilik wajah ganteng itu dengan bangga mengenakan baju toga untuk menjalani prosesi wisudanya.
Ada rasa bahagia ketika namanya dipanggil dengan peraih predikat cumlaude.
"Alhamdulillah."
Bisiknya dalam hati,bibirnya tersenyum penuh arti
dengan selesainya ia menuntut ilmu.
Dengan begitu tugasnya mempersembahkan prestasi buat kedua orang tuanya.
Kini tinggal tugasnya membahagiakan pendamping hidupnya beserta bidadari kecilnya.
Lembayung selalu setia menghias cakrawala.
Begitu indahnya lukisan alam itu nampak nyata.
Begitu juga hati Dhea merasa berbunga mendengar belahan hati akan segera kembali
untuknya dan Syifa.
"Jaga ia dalam penerbangannya buat hamba,dan bidadari kami,sehatkan selalu ia Tuhan,tak rela belahan jiwaku kenapa-napa."
Walau dirinya sendiri masih kurang vit Dhea sibuk panjatkan doa buat belahan jiwanya.
Dan ia akan selalu menanti seorang Anajjb dengan
cinta dan doa.
๐บ๐บ Sampai jumpa di episode selanjutnya๐บ๐บ
Terimakasih buat kakak semua,atas dukungannya.
__ADS_1
Mohon maaf bila masih ada salah dalam penulisannya...๐๐๐