Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 8 Hariku Penuh Warna Dengan Hadir Mu


__ADS_3

Dhea baru tahu ternyata liburan di pondok pesantren itu lebih awal dari sekolahan, atau Instasi pendidikan umum.


"Malam ini Dhea belajar penuh semangat."


Tawa lebar itu selalu membuatnya tersenyum bahagia. "kata siti beda lagi.


Siti selalu bilang benci lihat tawanya Anajib.


kok bisa..?


Siti bilang dia ketawa menang kalau habis berbuat jail. Entah dia jail dengan nyipratin air wudhunya ke Dhea". atau memindah tempat menyimpan sendal kita.


Biarlah Siti dengan pendapatnya.


Tapi bagi Dhea, tawa itu mampu memberi semangat dalam hari-hari Dhea. Biarlah semua rasa Dhea simpan sendiri. tak perlu Ia ceritakan semua pada Siti ataupun Aminah. malam ini Dhea bawa semua bahagianya bersama mimpinya, berselimutkan dinginnya malam.


Hari ini Dhea hatinya penuh warna.


Hari ini hari pertama Dhea menghadapi Ulangan Semester Genap. "Masuk materi jam pertama lancar jaya. begitu juga masuk jam keduapun tanpa kendala. Tiba- tiba salma berbisik ditelinga Dhea, "dhee... semoga kamu mendapatkan nilai seratus yaaa.."


Aamiin... Dhea mengaminin doa salma tanpa curiga. "Salma berbisik lagi, seratus yang nolnya dua". lalu cekikikan disamping Dhea.


Melihat Dhea nampak bingung, Salma kasihan juga. akhirnya Salma nggak tahan menahan tawanya, lalu dia berbisik lagi , "yaaa iya lah Dhea... seratus nol dua.


kalau nolnya bukan dua bukan seratus namanya.


Kata Salma sambil terus Tertawa.


Akhirnya Belpun berbunyi, menandakan waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal Ulangan


sudah habis. " Dhea melangkah maju untuk mengumpulkan kertas ulangannya.


Dan disusul salma dibelakangnya.


Dheapun lalu merapikan peralatannya , Sampai Dhea yakin tak ada yang tertinggal. Dhea bersama Salma melangkah menuju halaman sekolah. Salma melambaikan tangannya kearah Dhea.


Okeee Dhe .. hati-hati yaaa. pesannya untuk Dhea. yang mulai mengayuh sepedanya.


Panas matahari siang ini, seakan tidak mau bersahabat dengan Dhea. Penuh perjuangan bagi Dhea untuk menaklukkan panjangnya jalan aspal yang harus ia lalui, dibawah terik sinar matahari. Dengan kondisi perut yang lapar, dia harus terus mengayuh sepedanya.


Nafasnya sedikit lega, ketika dia melintasi jalan raya depan masjid . Berarti jarak rumahnya sudah dekat. satu belokan lagi dan akhirnya sampai juga.


Suasana rumah nampak sepi, mungkin ibu sedang ada keperluan diluar. lalu Dhea mendorong masuk sepedanya.


"Buru-buru Dhea masuk kekamarnya , tak ada yang ia ingin lakukan selain segera baringkan badannya. padahal perutnya terasa lapar tapi Dhea tak tertarik lagi buat makan.


Ia sempatkan salin baju seragamnya terlebih dulu sebelum ia tidur.


Dhea pejamkan matanya untuk usir semua lelahnya. Ingin rasanya Dhea cepat-cepat lulus dari MTSnya. Dengan begitu Ia tidak perlu panas-panasan mengayuh sepeda dibawah terik matahari. Sebenarnya tidak masalah ketika pas berangkatnya. karena matahari masih bersinar hangat, dan udara pagi juga bagus buat kesehatan. Yang Dhea butuh perjuangan ketika pulang sekolah karena harus mengayuh sepeda dibawah teriknya cahaya matahari siang hari.


Namun selama ini Dhea punya cara tersendiri untuk menyemangati dirinya.


Dia selalu mengingat tawa lebar itu untuk selalu menemani setiap kayuhan sepedanya.


"Entah sudah berapa lama Dhea terlelap bersama capenya."


Sampai suara ibu membangunkannya, mengingatkan Dhea untuk segera sholat Ashar.


Dhea beranjak untuk sholat Ashar.


selesai sholat , Dhea sempatkan membantu ibu merapikan rumah. Dan tak terasa senja pun telah tiba.


Dhea pun dengan perasaan yang penuh kegembiraan segera melangkah ambil mukena, beserta musafnya. Dan sebelum pergi Dhea tak lupa pamit pada ibunya.


Terlihat Siti dan Aminah sudah menunggu di teras rumahnya. ketiga lalu berjalan menuju masjid. "Si jahil sedang liburan" suara Siti mulai memecah keheningan diantara ketiganya.


Sekarang kejailannya malah bertambah.


suara Aminah menambahkan, Dhea hanya diam

__ADS_1


menyimak kedua sohibnya.


Tampak Anajib seperti biasa, Dia suka berdiri dipintu masjid.


"Duchhhh sudah ada yang menanti... nichhh." Suara Siti dan Aminah mulai menggoda.


Dhea merasa langkahnya seperti berat untuk melangkah. Dhea memegang tangan Siti berharap bisa mengurangi beban langkahnya.


Ketiganya lalu menuju Padasan untuk berwudhu.


Siti paling pertama, lalu Aminah.


Kini giliran Dhea untuk mengambil air wudhu, kedua sohibnya itu malah pergi meningalkannya.


"Duchhh punya teman tidak beradab."


masa kalian tegaaaa... tinggalin aku protes Dhea.


" Tuchhh ada temennya tunjuk mereka, kearah Anajib yang melangkah ke arah tempat wudhu.


Dhea merasakan jantungnya mulai berpacu,


Dia merasa senang dan takut. tampak Anajib mulai mengambil air wudhu, Dhea segera buru-buru melangkah pergi.


"Haiii ada yang terlinggal."


suara Anajib menghentikan langkah Dhea, Ketika Anajib mulai dekat.


Lalu ia berkata sisa-sisa air wudhu muuu.! candanya, sambil mencipratkan sisa air wudhu yang masih tersisa diwajahnya.


"EHEMMM.."


Suara itu mengagetkan keduanya.


Dhea langsung masuk shaf perempuan . Dan nampak Anajib berjalan dibelakang Bpknya.


"uchhh... keluh Dhea. kenapa tatapan itu selalu berhenti diarah Dhea.


"Ayooo lanjutkan Moraja'ahnya, sampai ayat keberapa kemaren..??


Suara itu sebenarnya tidak terlalu keras , tapi cukup membuat Dhea bergetar antara takut nggak lancar, dan kenapa Dhea merasa malu.


Yaa sipemilik tawa lebar itu selalu memperhatikannya.


"Dhee.."


Suara ustad cukup mengagetkannya.


Ketika namanya dipanggil.


"Kenapa diam, lanjutkan !


suara ustad memerintahnya.


Dhea mulai melanjutkan setorannya, sebenarnya Dhea sangat terbantu, karena QS.


Al-waqiah itu ayatnya pendek-pendek.


"Heeemmmm..."


hanya suara itu aja untuk menilai usahaku bisik Dhea.


Tapi tak apalah, yang penting lancar tanpa kendala.


Akhirnya kajian ditutup dengan datangnya


waktu Isya.


Dan usai sholat berjamaah Dhea segera melangkah keluar masjid.

__ADS_1


Tiba-tiba Salman menghentikan langkahnya.


" Dhee biasa canda Salman sambil menyodorkan amplop biru.


Dhea tenggak-tenggok memastikan tatapan itu tak mengawasinya.


Tampak Siti dan Aminah, berdebat dengan Anajib yang terus tertawa , " Awas yaaa ... nanti


ku laporkan pak Ustad ancam Siti pada Anajib.


Akhirnya dia beri tahu sendal kami. Disembunyikan di antara bunga kertas.


Dhea mendengarkan kedua sohibnya terus ngoceh sepanjang jalan pulang. Dan seperti biasa Dhea hanya diam menyimak.


"Okeee sampai jumpa besok yaaa. ."


Kedua sohibnya melambaikan tangan ." menandakan kami harus berpisah


dipersimpangan jalan.


Tak sabar Dhea dengan isi amplop biru itu.


Sampai rumah Dhea langsung menuju kamarnya.


Amplop itu dikeluarkan dari halaman musafnya.


Dhea memastikan pintu kamarnya sudah terkunci.


"Dhea menyandarkan badannya.


Kertas itu terlihat dihiasi basmalah berbentuk kaligrafi. dan tulisannya tersusun dengan rapi.


"Haiii... kamu."


Sekarang kamu tambah sombong.


Setiap hari ku lihat kamu.


Lewat depan Masjid, menaiki sepedamu.


"Tapiiii sayang ."


kamu tak pernah pedulikan aku.


Aku berharap kamu melihatku.


Tapi setiap aku berharap, kuhanya telan kecewaku.


O yaaa..


Besok aku sudah harus balik kepesantren.


Berarti aku tak bisa lihat kamu lagi.


Tapi aku senang.


Hafalanmu semakin banyak dan semakin


lancar.


Okeeee... selamat belajar.


Air mata Dhea jatuh satu persatu..


Dan lama kelamaan Dhea tengelam dalam Tangisnya diantara sunyi malam.


Sampai di sini dulu kakak reader.


sampai jumpa di episode selanjutnya Yaa 🙂

__ADS_1


__ADS_2