
Ketika kata dan kalimat terasa tidak bisa
mewakili perasaannya,air matalah yang akhirnya
ungkapannya.
Bintang-bintang mulai muncul dipermukaan.
Tebaran sebagai hiasan malam kelam.
Anajib maupun Dhea tetap tenang menghadapi
tangisan Muhammad Fatir Anajib,anak kedua mereka.
Entah kenapa bayi mungil nan rupawan itu tak biasanya tangisnya lama tak mampu keduanya
merayu menghentikannya.
"Cup sayang soleh umi,"kata Dhea terus berusaha
memberi ASI,berharap bayinya berhenti menangis.
Anajib masih sabar menemani,walau sejujurnya
matanya sudah terasa perih karena menahan kantuknya. Kini hatinya semakin merasakan begitu
besar dan berat perjuangan Dhea waktu membesarkan Syifa anak pertamanya,seorang diri
Dhea tanpa kehadirannya.
"Abi tidur saja,besok pagi abi pergi ke pondok."
Suara Dhea menyadarkannya dari lamunannya.
Dan ia menuruti kata-kata istrinya.
Anajibpun segera meluruskan punggungnya.
Begitu cepat mata itu terlelap,akhirnya Anajib tidur dengan menghampar kasur dilantai.
Akhirnya tangisan Fatir pun terhenti.
Dan suasana menjadi senyap. Pemilik tatapan tajam itu segera masuk ke kamarnya.
Jiwa dan hati beliau memang masih keras pada prinsipnya. Namun entahlah beliau tidak bisa tidur
mendengar Fatir kecil rewel.
"Hemmm,Anajib besok harus ke pondok tapi jam segini belum tidur."
Batin beliau mengkhawatirkan Anajib.
Sang malam terasa sunyi berselimutkan kelam.
Dan berhiaskan bintang-bintang bertaburan.
Suara adzan subuh terdengar berkumandang.
Begitu terdengar menggema dari menara masjid
sebelah rumah.
Mungkin karena semalam rewel dan nggak tidur-tidur,bayi kecil itu masih lelap dalam tidurnya begitu juga dengan penghuni kamar lainnya. Sampai beliau dan sang istri pulang dari masjid. Suasana kamar itu belum terdengar ada tanda-tanda kehidupan.
"Bu...,sepertinya mereka belum bangun."
Kata beliau pada istrinya.
__ADS_1
"Sepertinya belum pak,biar ibu yang akan membangunkan mereka."
Kata sang istri pada pak ustadz.
Dan sedetik kemudian terdengar pintu kamar Anajib di ketuk dari luar. Dhea begitu kaget saat terbangun suaminya masih tertidur dengan nyenyaknya. Perlahan Dhea mendekat dan tangannya kini menepuk lembut pipi suaminya.
"Abi..,ayo bangun sudah siang!"
Kata Dhea pelan-pelan tak ingin sampai terdengar
sang ustadz bapak mertuanya.
Dan akhirnya mata itupun terbuka. Nampak ia bangun lalu duduk sebentar baru melangkah ke kamar mandi yang ada di kamar mereka.
Kini Dhea bergegas melangkah ke dapur,niat hati untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Namun ternyata sang ibu mertua sudah menyiapkan segalanya. Ada rasa malu bergejolak
dihati seorang Dhea,lalu ia mendekat dan meminta maaf pada ibu mertuanya.
"Maaf ibu,saya kesiangan."
Suara Dhea pelan nyaris tidak terdengar.
"Nggak papa ibu maklumi semalam terdengar Fatir rewel mungkin kalian kelelahan."
Kata ibu mertuanya,maklum.
"Mas apa tidak lebih baik kamu itu tinggal di pondok.!"
Suara pak ustadz terdengar begitu tegas.
Diluar dugaan suara ustadz terdengar dari dalam kamar mereka,sedang menasehatin Anajib.
Dhea yang berniat masuk kamarpun ia urungkan.
Ketika terlihat beliau keluar dari kamar mereka
Setelah itu ia segera melajukan MOGE nya. Setelah
tak nampak bayangan suaminya Dhea melangkah
masuk kembali ke rumah,segera dia bangunkan Syifa dan membantu Syifa mandi maupun menyiapkan sarapannya setelah selesai.
Dhea bergegas mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Ketika suaminya masih cuti,suami berperan banyak membantu pekerjaannya.
Baru saja Dhea selesai menjemur semua baju cucian,sudah terdengar tangis Fatir menghentikan
kegiatannya.
Syifa berpamitan untuk pergi sekolah bersama
eyang putrinya,dan nampak beliau juga sudah rapi
untuk berangkat ngantor kini beliau melangkah mengeluarkan motornya.
"Eyang kakung hati-hati yaaaa..."
Terdengar suara Syifa berpesan pada eyang kakungnya.
Setelah abi berangkat ke pondok,Syifa dan eyang putri berangkat ke TK,dan beliau juga sudah berangkat. Dhea merasakan rumah itu terasa sunyi. Dan tangis Fatir terdengar menghiasi rumah joglo yang masih kental dengan semua aturan-aturan priyayi.
Dhea sibuk memandikan Fatir yang mulai rewel lagi. Hatinya berusaha tenang entah kenapa dari semalam Fatir rewel,atau mungkin lapar dan Dhea
terus berusaha mendiamkan anaknya.
__ADS_1
Akhirnya tangisnya berhenti dan kini bayi kecil itu
nampak tertidur lagi.
Kesempatan untuk Dhea manfaatkan untuk mandi.
Memiliki bayi Dhea sudah terbiasa segala sesuatu ia kerjakan dengan kilat,begitu juga ketika mandipun tak bisa lama-lama.
Baru saja ia keluar dari kamar mandi terdengar telpon rumah berdering.
Buru-buru langkahnya menuju meja telepon.
"Assalamualaikum."
Terdengar seseorang menyapa dengan salam dari sebrang.
"Walaikumsalam..."
Jawab Dhea.
"Maaf bu ini saya kepala sekolah dimana bapak dinas. Saya hanya mo bertanya kok jam segini bapak belum sampai sekolah?"
Dan belum sempat Dhea bertanya bapak siapa yang dimaksud,Anajib suaminya atau bapak ustadz mertuanya. Telpon itu sudah terputus.
Seketika kaki yang tadinya kokoh kini terasa lemas
tak mampu untuk berdiri. Detak jantungnya mulai berpacu,hatinya gelisah.
Tak mampu Dhea berkata-kata kini ia bingung siapa yang harus ia hubungi dulu.
Wajahnya mulai nampak khawatir ketika ia hubungi suaminya tidak ada jawaban.
"Bapak siapa yang dimaksud yaa..?"
Mas Anajib,atau jangan-jangan pak ustadz.
Dhea tak berani hanya sekedar menghubungi nomer kontaknya beliau.,
Kini Dhea memilih untuk menunggu.
Jantungnya hampir copot mendengar suara pintu
depan ada yang ngetuk. Buru-buru ia melangkah
ke ruang tamu,alangkah kagetnya Dhea melihat pak bosnya.
Begitu juga Amir tak kalah kagetnya.
Amir berusaha mendamaikan gemuruh hatinya. Hati Dhea berdetak kencang ia duga pak bos akan memecatnya.
Tak taunya dia kebetulan yang menolong pak ustadz dari kecelakaan tunggalnya.
Katanya dia pas kebetulan melintas di jalan yang sama Amir berusaha menghubungi anak pak ustadz namun sayang nomer anaknya tak aktif makanya Amir berusaha mencari alamat korban.
Dan sang ustadz kini sudah ditangani di rumah sakit besar,"parahkah beliau..? bisik hati Dhea.
Dan Amirpun selesai menceritakan sampai dia sampai kerumah dimana sekarang Dhea tinggal.
"Ooohhhh...,begitu ceritanya."
Kata Dhea dan tak lupa ucapkan terimakasih sebelum pak bos pamit meninggalkannya.
Setelah menutup pintu,Dhea kembali menuju kamarnya gundah hatinya tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Berbeda dengan gejolak yang ada dihati Amir sang bos yang tak menyangka akan berjumpa dengan pujaan hatinya,tanpa sengaja.
Amir yang merasakan rindunya selalu menyiksa jiwanya yang selama Dhea cuti rindu hatinya selalu terpendam,kini muncul kembali kepermukaan.
__ADS_1
***
🌺Sekian dulu,jumpa lagi di episode selanjutnya🌺 Terimakasih atas semua dukungannya.🙏🙏🙏