
Jangan terlalu banyak khawatir lakukan yang bisa kamu lakukan,semua serahkan pada Allah,Tuhan semesta alam.
Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya jika kamu orang-orang yang meyakini. (QS. 44: 7)
Motor scoppy berwarna putih membelah jalan aspal,penghubung antara kota kecil dan jogja tempat Dhea bekerja,berangkat pagi dan pulang sore hari. Semua Dhea lakukan demi menjemput rezeki,berbekal sebuah keyakinan Tuhan selalu menjaganya.
"Mas bojo senja ini aku sangat merindukan mu."
Batin Dhea perih menahan rindu pada orang yang sedang menuntut ilmu nun jauh di negeri orang.
Tak terasa motornya sudah memasuki plataran.
"Umii..."
Suara Syifa menyambutnya.
Dhea turun dari motornya,setelah menstandarkan
motornya,ia melepas helmnya.
Lalu Dhea membentangkan tangannya.
Menyambut Syifa yang berlari ke arahnya.
"Assalamualaikum."
Sapa Dhea pada bu ustadz sambil salim.
"Wallaikumsalam.."
Jawab beliau,sambi berjalan masuk ke dalam rumah ,dan disusul Dhea bersama Syifa.
Sesampainya di kamar,kini Syifa minta diambilkan
foto yang ditempel di dinding kamar.
"Umi..,itu abi ambil!"
Syifa berdiri menghadap dinding,kepalanya menegadah sambil tangannya menggapai-gapai
foto yang ditempel di dinding.
Tanpa pikir panjang Dhea menuruti kemauan anaknya. Dhea memberikan foto itu pada Syifa yang sedang duduk di atas ranjang.
"Abi..,kapan pulang?"
Kini Syifa memeluk foto itu sambil tangan kecilnya
mengusap foto abinya.
Dhea membiarkan Syifa sendiri di kamar karena ia
akan mandi.
"Sayang, umi mandi dulu yaa,Syifa diam-diam di kamar!"
Dhea berpesan pada anaknya sebelum pergi ke kamar mandi.
Syifa hanya mengangguk.
Dan terus menatap foto Anajib.
Melihat Dhea pergi mandi,bu ustadz memilih untuk menemani Syifa di kamar.
Bu ustadz menghentikan langkahnya.
Samar-samar bu ustadz mendengar ada obrolan.
"Itu suara Syifa, ngobrol dengan siapa dia?"
Bu ustadz melangkah masuk,sambil terus berpikir.
Penasaran melihat Syifa memeluk sesuatu.
Kini langkahnya tertahan tak ingin menganggu
__ADS_1
Syifa yang sedang berkata-kata.
"Abi,kapan pulang?"
"Abiiii...cepat pulang..!"
Syifa kini terdengar menangis.
Tak tega melihat Syifa memanggil-manggil abinya.
Kini bu ustadz mendekati Syifa.
"Sayang,kenapa?"
Bisik beliau menenangkan Syifa.
Melihat tangan Syifa memeluk foto Anajib.
Beliau tidak heran,karena Syifa tahunya foto Anajib itu foto abinya.Karena sejak Syifa bayi Dhea selalu mengenalkan foto itu adalah abinya pada Syifa.
"Eyang,kapan abi pulang?"
Kini Syifa mulai rewel,dan terus memanggil abinya.
Mendengar Syifa teriak-teriak memanggil abi.
Dhea buru-buru melangkah menuju kamar.
Sesampainya di kamar,Syifa sudah mulai tenang.
Kali ini sang ustadz ikut turun tangan di gendongnya Syifa,dan di bawanya keluar dari kamar.
"Dhee ibu mau tanya boleh?"
Kini beliau duduk di tepi ranjang dan mulai bertanya .
"Bagaimana sejujurnya hubunganmu dengan mas bojo?"
Suara itu memang pelan tapi cukup membuat Dhea kaget. Hening tak ada jawaban.
"Kamu pasti tahu rumah atau tempat tinggal mas bojomu,bapak akan mencari dan memperjelas statusmu." Kata bu ustadz.
Dan akhirnya beliau memutuskan keluar kamar.
Kini Dhea memilih menghubungi mas bojonya.
Nomer kontak Anajib langsung terhubung.
"Assalamualaikum,Abi."
"Walaikumsallamwarahmatullah..."
"Apa kabar,umi,mana bidadari kecil abi?"
Suara Anajib menanyakan kabar.
"Syifa rewel,nanyain abi terus,dan ibu tadi malah menanyakan hubungan kita,umi harus jawab apa
kalau bapak yang bertanya?"
"Umi jawab saja mas bojo umi sedang kuliah."
Percakapan itu belum selesai, tiba-tiba terputus.
"Astagfirullah,dasar jailnya kambuh."
Keluh Dhea sambil menatap ponselnya.
Di negara orang, di rumah ustadz Sanusi kamarnya Anajib juga kesal.
"Astaga kebiasaan lama yang belum hilang pasti kamu lupa ngisi daya,umi omel Anajib dengan gemesss.
Dhea lalu memilih keluar kamar dan dia nampak
Syifa sudah terlihat mulai tenang.
__ADS_1
Dan senjapun menjelang.
Keluarga ningrat bersia-siap bertolak, ke masjid.
untuk sholat berjamaah.
Sepulang dari masjjd Dhea membantu istri pak ustad menyiapkan makan malam.
Semua sudah duduk di meja makan.
Istri sang ustadz menyendokkan nasi buat pak usatad. Baru Dhea menyendok nasi dan ia memilih
nyuapi Syifa,baru dirinya makan.
Selesai makan Dhea merapikan meja makan,dan mencuci piring.
Melihat Syifa melihat TV,Dhea memilih masuk kamar. Dan Dhea meluruskan kakinya.Dhea meraih
Foto Anajib yang masih di atas kasur.
"Abi rindu yang paling menyedihkan ialah ketika rindu pada seseorang yang tidak bisa di sentuh."
Ternyata Dhea merasakan kerinduan yang dirasakan Syifa.
Rindu yang paling menyedihkan.
Dan tak terasa air mata Dhea jatuh membasahi
foto Anajib yang ada dalam peluknya.
Tiba-tiba ponsel yang ada di meja kamar bergetar.
Drettt drettt
Dhea langsung mengangkat panggilan Ponselnya.
"AssalamualIkum,mbak Lily menyapa dari sebrang.
"Walaikumsalam,ya mbak ada apa?"
Dhea bertanya heran, tumben mbak Lily malam-malam telpon.
"Dhe..., besok jangan sampai kesiangan,Pak bos
biasanya kalau datang selalu pagi-pagi."
"Karena pak bos,sepertinya sudah terpesona pada hasil kerja mu."
Dan telponpun terputus.
Dhea pun melanjutkan menatap wajah orang yang terkasih.
"Bodo ama dengan pak bos."
Bisik hati Dhea,karena kesan pertama berhadapan dengan beliau Dhea merasa tak dianggap.
Dhea memilih keluar kamar.
Syifa sudah tertidur di depan Tv.
"Maaf bu, mau mindahin Syifa."kata Dhea pada istri sang ustad yang nemeni Syifa.
"Yaa sana."jawab beliau.
Dan Dhea tertidur bersama Syifa dan foto Anajib.
Dalam doa ku relakan dirimu jauh untuk saat ini.
Demi cita-cita yang suci.
Bagi mu nurani,sampai jumpa dilain hari.
Untuk abi,umi dan Syifa untuk bisa berjumpa lagi.
Dan akhirnya Dheapun tertidur memeluk Syifa dan foto Anajib.
__ADS_1
****
🌺🌺 Sampai di sini dulu kk,terimakasih atas dukungannya🙏🙏