Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 36


__ADS_3

Nampak Siti dan Aminah melangkah menuju padasan, ketika keduanya melihat Dhea di hukum. mereka malah tertawa "woooiii.."


Makanya jangan pada "NAKAL"!!


Lalu keduanya berlalu sambil tertawa.


"Punya teman nggak ada akhlak..!!


Melihat teman di hukum bukannya prihatin,


Malah mentertawakan, "Nasibbbb... Nasibbb."


Keluh Dhea dalam hati.


"Heyyyy..., kamu malah melamun..!!


Sini lapnya tawa lebar mendekat dan mengambil lap dari tangan Dhea.


Ketika pak ujang dan Salman berlalu.


Tangan itu menarik tangan Dhea.


Padasan itu nampak sepi.


Yang berwudhu cepat-cepat berlalu, melangkah


masuk kembali mereka takut tertinggal Rakaat.


Di padasan tinggal berdua.


Dhea merasa takut ketika tangan itu membawanya dalam pelukannya.


Badan Dhea merasa panas dingin, ketika wajah


itu sangat dekat. "Dan tawa lebar itu berbisik"


"Dheeee..., aku sangat merindukan mu..,"


Ingin Dhea bertanya, cuma ituu..??


"Tapi bibir itu sudah menyentuhnya."


Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.


Lagi dan lagii.., dan hanya padasan yang menjadi


saksi bisu, kenakalan tawa lebar.


Tangan itu mulai menyikap hijab Dhea, ketika bibir itu mendarat di lehernya.


Dhea kumpulkan keberanianya lalu tangannya


Mendorong tubuh itu, "Dosaaaa tahu kata Dhea Dengan suara bergetar dan setengah melayang.


Pemuda yang di kuasai rindu dan nafsu itu


Menarik Dhea dan membawa dalam peluknya.


Bibir itu menyentuh bibir Dhea sangat dalam dan


lumayan lama.


Bibir itu seketika melepas ciuamannya, ketika Dhea menggigit bibir Anajib sampai berdarah.


"Auuhhh" suara Anajib.


Dan darah itu.., Anajib mengelapnya dengan tangannya.


"Dhea merasa bersalah , "


Maaf.., kata Dhea membantu membersihkan darah di bibir orang yang ia cintai.


Melihat Dhea ketakutan ,

__ADS_1


Anajib tersenyum nggak papa katanya .


"Ayoo kita wudhu..!


Sepertinya kita sudah ketinggalan dua rakaat katanya.


Dhea dan Anajib pun berwudhu.


Dan melangkah mengejar rakaat yang tertinggal


Ketika masuk dan sebelum menghilang oleh pembatas Nampak Anajib memengang bibirnya.


Dhea nggak salah, tapi kenapa selalu merasa bersalah..??


Karena rasa cinta??


Tapi cintakah , Anajib padanya??


Hati Dhea berkecamuk dalam setiap rakaatnya.


Shalatpun sudah usai.


kamipun merapikan mukena dan musaf.


Ketika berjalan keluar masjid , Dhea melihat tawa lebar masih khusuk dengan sholat sunahnya.


Syukurlah aku terbebas dari pandangan nakalnya.


Sepanjang jalan pulang Dhea hanya diam.


dan cukup menyimak candaan kedua sohibnya.


Sesekali Dhea hanya tersenyum ketika ada candaan mereka yang menyindir Dhea.


Persimpangan itu akhirnya memisahkan ketiganya.


Dhea melangkah penuh beribu cerita.


Dhea mengucap salam.


"Assalamualaikum buu."


"Walaikumsalam " jawab ibu.


Dhea mencium tangan ibu.


Yang sedang menonton acara TV.


Kamu nggak makan??


Tanya ibu ketika Dhea langsung masuk kamar.


"nggak bu masih kenyang ."


jawab Dhea .


Dan Dhea pun menutup pintunya rapat-rapat.


Menyimpan mukena dan musafnya.


Menuju meja belajar.,


Menyiapkan buku pelajaran dan ngecek PR.


Lalu membuka buku yang bersampul pink.


Itu bukan buku pelajaran, Tetapi buku tempat Dhea mencurahkan semua isi hatinya.


Yaa.., sahabat Dhea selain Siti dan Aminah.


Buku itu dan lembayung senja.


Dhea mulai mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


"Heyyyy, kamu...


kenapa kamu cuma bilang rindu itu saja..??


Andai kamu tahu..


Aku di sini juga merindukanmu.


Rindu ku lebih dari rindu mu...


Bahkan bukan hanya rasa rindu yang ada dihatiku..


Tapi lebih dari itu.., "Ya itu rasa cinta ku pada mu.


Anajib...


Haruskah aku menjadi Fatimah..??


"Yang mencintai dalam diam.."


Atau mungkinkah aku menjadi Khadijah...??


"Yang datang untuk menyatakan rasa..."


Anajib...


Aku yaa hanyalah aku..


Yang hanya mampu memendam perasaanku


Dalam-dalam, dan biarlah rasa cintaku tersimpan bersama senja dan air wudhu di padasan.


Lalu Dhea berhenti menulis, Dan ia tutup bukunya.


Dhea menghapus air matanya.


Lalu Ia tengelamkan kepalanya di bantalnya.


Hatinya penuh rasa.


Anajib.. , aku sadar yang kita lakukan adalah dosa.


Tapi aku menjadi "BODOH"..!


karena rasa cintaku pada mu..


Dhea terbayang apa yang mereka lakukan.


Lalu tangan itu menyentuh bibirnya sendiri.


lalu lagi dan lagi air mata itu berurai..


***


Di kamar yang berbeda ..


Pemuda yang mulai tumbuh dewasa semakin


Terlihat jelas gantengnya dengan kumis dan jambang menghias wajahnya.


"Melihat tampangnya Orang sudah bisa menyimpulkan anak pondokan"


Wajah itu selalu tersenyum. terbayang kenakalannya.


walaupun bibirnya ada luka tak menggurangi


senyum manisnya.


Ia mulai terlelap dengan menyentuh bibir yang terluka penuh makna..."


***


NEXT

__ADS_1


__ADS_2