
🌺 Sore kembali pulang..
Namun,keindahan senja kelihatan menghilang.
Ketika perselisihan kini yang datang.🌺
Lelah mata ini menunggumu untuk datang.
Apa mungkin kamu lupa hari?"
Hari ini,hari sabtu.
Hari yang kamu janjikan.
Dhea bener-bener kecewa,ketika senja mulai menghilang,namun tak nampak tanda-tanda Anajib datang.
Hati Dhea semakin dibakar api cemburu,bila ingat
di sana tempatnya Anajib mengajar ada sosok wanita yang bapak dan ibu Anajib harapkan.
Gejolak hati wanita yang sedang mengandung anak keduanya itu tak bisa ia sembunyikan.
Entahlah rasa itu begitu membakar hatinya.
Kini ia memilih masuk ke kamarnya,dan membiarkan Syifa menunggu sang abi bersama eyangnya. Dhea merasakan lelah seharian bekerja
apalagi dengan kondisi perut yang semakin membesar. Kini ditambah lelah pikirnya menunggu
orang yang ia dan Syifa rindukan.
Tak nampak batang hidungnya.
Ketika adzan magrib berkumandang.
Terdengar suara tangis Syifa membawa langkahnya keluar kamar.
Tangis Syifa semakin kencang,seakan-akan mengalahkan suara adzan yang sedang dikumandangkan.
Dhea mendekat menghampiri Syifa yang sudah berada dalam gendongan eyang putrinya.
"Umi,kenapa abi bohong..."
Protes Syifa dalam tangisnya.
Nampak sang eyang putrinya hanya diam.
Dan eyang kakungnya,mendekat lengkap dengan tatapan tajamnya.
Kini tangan itu mengusap-usap pucuk kepala Syifa.
"Abi sedang di jalan." Kata beliau menenangkan Syifa.
Mendengar abinya sedang di jalan,akhirnya tangis itu berhenti dan ia minta turun dari gendongan.
"Sekarang ambil mukenanya,eyang tunggu!"
Perintah beliau mengajak Syifa ke masjid.
Langkah kecilnya bergegas masuk kamar mengambil mukenanya.
Syifa dan kedua eyangnya segera melangkah menuju masjid samping rumah.
Sampai Syifa kembali dari masjid.
Sang abi yang berjanji pulang itu tak kunjung datang.
Dan malampun berlalu...
Kini sudah masuk hari Minggu.
Minggupun sudah menjelang senja.
Dan senjapun sudah mulai menghilang begitu suara adzan magrib itu pun mulai berkumandang.
Seperti biasa keluarga sang ustadz segera bersiap melangkah menuju masjid samping rumah.
Dan Syifa akan selalu ikut serta.
Dhea memilih tinggal,ia memilih solat di rumah.
Baru saja ia mengucap salam,terdengar suara pintu depan ada yang mengetuk.
Tok...tok...tok.
Dhea bergegas melangkah menuju pintu depan.
__ADS_1
Cekrekkk.
Pintupun sudah terbuka.
"Assalamualaikum."
Salamnya diantara senyum manis yang tersungging dibibir merahnya.
"Walaikumsalam."
Jawab Dhea lalu mencium punggung tangannya.
Setelah itu tak ada yang keluar dari bibir Dhea.
Kini malah ia melangkah pergi meninggalkannya.
Setelah menutup kembali pintu itu.
Pemilik tubuh tinggi itu menyusul langkah Dhea.
Hal yang paling ia benci kalau belahan jiwanya ngambek,dan sudah mulai diam,dan pasang wajah jutek.
Setelah di dalam kamar wajah itu tak ada ramah-ramahnya padanya.
"Oke,bilang pada abi dimana letak salahnya?"
Bisik Anajib berusaha sabar menghadapi bumil yang sedang manyun.
Dhea tetap diam.
Tapi air matanya berurai membasahi pipinya.
Melihat ada air mata,hal yang Anajib tak suka.
Kini keduanya terdiam.
Dan lengan yang kokoh itu berusaha merengkuhnya. Namun tak ia sangka bumil itu menepisnya.
"Heiii..,segitu marahnya,apa salah abi?"
Nada suara mulai meninggi,wajah ganteng itu terlihat menahan emosinya.
"Abi tak pernah salah,tapi umi yang selalu salah.."
"Abi nggak usah janji-janji kalau tak bisa menepati!" Dhea terus berkata-kata.
Dan perdebatan itu begitu terdengar dari luar kamar. Ada sepasang telinga yang sedari tadi menyimak perdebatan itu. Sesekali kepala itu nampak menggeleng. Dan dahi itu nampak berkerut karena suara di dalam kamar itu bercampur dengan suara tangis.
Masih untung Syifa masih di masjid belajar ngaji.
Bersama eyang putrinya.
"Oke,maaf abi telat pulangnya,udah atuh,abi sudah minta maaf,oke mulai besok
tidak tinggal di pondok tapi abi akan tempuh pulang pergi."
Akhirnya ia mengalah pada bumil.
Kini ketika lengan itu meraih tubuhnya,Dhea membiarkan dirinya dibawa dalam peluknya.
Amarah itu sudah mulai reda.
Ketika suara Syifa teriak memanggil sang umi.
Bersamaan pintu itu dia buka.
Dan begitu kagetnya dia,wajahnya seketika berseri
matanya terbelalak,dan teriakan itu kini memanggil sang abi.
"Abiiiiii...." Teriaknya girang.
Lalu sang abi merentangkan tangannya.
Dan hup.
Tubuh mungilnya sudah berada dalam pelukan abinya. Tangan kecilnya membelai wajah sang abi.
"Abi,kok pulangnya lama?"
"Aku cape nunggunya!"
Protesnya sambil terus memeluk abinya.
"Oke,abi minta maaf dehhh."
__ADS_1
Kata sang abi sambil melirik Dhea yang memilih melangkah keluar kamar,menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Suasana meja makan nampak hening.
Hanya terdengar suara sendok yang berdenting diatas piring.
Selesai makan malam Dhea seperti biasa merapikan meja makan,dan dilanjutkan mencuci
piring kotor bekas makan keluarga.
Saat Dhea mencuci piring di dapur,ruang keluarga itu nampak hening tak ada percakapan antara anak dan bapak,seperti biasanya.
Setelah Dhea merapikan pekerjaannya.
Ia memilih kembali ke kamarnya,ketika ia melintas ruang keluarga tak nampak siapa-siapa.
Sang ustadz dan istri ternyata sedang di kamar.
Nampak keduanya sedang dalam obrolan tentang
perdebatan antara Dhea dan Anajib anaknya.
***
Dan di dalam kamar Anajib sedang menyimak Syifa yang bercerita tentang teman-temannya di sekolahnya.
"Abi aku besok sekolahnya mo diantar abi,pokoknya!"
Terdengar suara Syifa memutuskan kehendaknya.
Sang abi tidak langsung mengiyakan.
Namun kini tatapan matanya meminta pendapat istrinya. Dhea paham isyarat meminta persetujuannya.
Tiba-tiba Dhea bersuara.
"Abi tidak perlu berjanji,kalau besok tidak mampu menepati!"
Nada suara Dhea itu seperti sebuah sindiran untuk sang abi Syifa.
Anajib nampak tersenyum mendengarnya.
Namun ia memilih diam tidak menolak atau berjanji pada Syifa.
Setelah menyiapkan perlengkapan Sekolah Syifa.
Dhea mengajak Syifa untuk segera tidur,berharap
esok harinya tidak terlambat bangunnya.
Sunyinya malam ini tak sesunyi malam-malam yang Dhea maupun Anajib lalui.
Malam ini kedua hati itu saling bertemu.
Ketika sang buah hati sudah lelap dalam mimpinya.
Anajib membawa Dhea dalam peluknya.
Ketika belahan jiwa menuntut haknya walau hati masih menyimpan cemburu padanya,dan sisa amarah kala senja masih ia rasa.
Dhea tak mampu menolaknya.
Ia tetap melaksanakan kewajibannya.
Tak ada suara perdebatan diantara keduanya,kini
yang terdengar desahan nafas dan bisikan cinta.
Dan akhirnya keduanya tersenyum bahagia.
Semesta seperti ikut merasakan kebahagiaan keduanya.
"Bukan masalah apa yang kau lakukan,tapi kau harus bertanggung jawab apa yang kau ciptakan."
Hidup akan selalu memiliki ombak yang tinggi,
begitu juga dalam perjalanan cinta Anajib dan Dhea.
🌺 Sampai jumpa diepisode selanjutnya 🌺
Terimakasih kakak semua🙏🙏🙏
Atas hadir dan dukungannya.
Mohon maaf bila ada salah-salah dalam penulisannya.🙏🙏🙏
__ADS_1