
Saat yang paling Dhea benci parpisahan dengan
belahan jiwanya.
Dari semalam hatinya sudah merasakan bagaimana sunyi hatinya manakala orang yang ia
cintai pergi lagi.
Walau suaminya berusaha meyakinkan ia akan pulang tiap akhir pekannya.Tak membuat Dhea mengiyakan kepergiannya. Dhea malah sibuk mengenakan hijabnya sambil memantas diri didepan meja riasnya.
"Sayang,jaga Syifa dan my baby ya.,"
Bisik Anajib terus memeluk pinggang Dhea dari belakang dan terus mengucapkan kata-kata cinta
yang akan selalu ia jaga.
"Andaipun aku minta jangan pergi!"
'Tohh..,akhirnya tak mungkin jugakan dirimu
akan tinggal,dan menjaga aku dan anak-anak kita?"
Dengusss Dhea berusaha melepaskan dirinya
dari pelukan suaminya.
Namun lengan itu begitu kuat,jadi sia-sia Dhea melepasnya dirinya.
Dan kini tubuh Dhea dibalik posisi sekarang Dhea maupun Anajib saling berhadapan. Mata itu saling menatap tak ada kata-kata yang terucap diantara keduanya.Anajib membungkukkan badannya dan bibir itu secepat kilat menguasai bibir Dhea.
Keduanya hanyut dalam ciuman perpisahan antara keduanya.
Dan di luar sang ustadz sudah mondar-mandir menunggu munculnya Anajib dari kamar.
Akhirnya orang yang di tunggu pun keluar juga.
Diikuti Dhea di sampingnya.
Syifa nampak asyik memberi ikan peliharaan keluarga eyangnya.
Melihat sang abi berjalan menghampirinya Syifapun berlari menyambutnya.
"Abi.... "panggilnya sambil memeluk sang abi.
Orang yang di panggil abi pun membungkuk.
Dan hup Syifa memeluk leher abinya.
"Abi pergi sebentar yaa sayang,Syifa jaga umi dan dede bayi ya!'
Pamit sang abi pada Syifa.
"Abi jangan lama-lama ya!"
Kata Syifa sambil terus memeluk sang abi manja.
"Siap."
Jawab sang abi sambil mencium sayang pucuk kepala sang anak.Setelah pamit pada anaknya
Anajibpun berlalu melangkah masuk ke dalam mobil yang berwarna merah.
Dhea menatap orang yang didalam mobil,yang nampak melambaikan tangannya.
Susah sekali air mata itu ia bendung,toh akhirnya
jatuh juga segera ia seka sebelum ada yang melihatnya. Namun orang yang sedang melambaikan tangan itu tahu dan paham apa yang Dhea rasa.
Mobilpun melaju perlahan tapi pasti meninggalkan orang-orang yang terkasih.
Setelah mobil itu berlalu Dhea segera melangkah mengambil jaket dan helmnya.
"Dhe..."
__ADS_1
Suara bu ustadz memanggil namanya.
Dan dia menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan hari pertama Syifa disekolahnya?"
Tanya beliau,seakan mengingatkan ia kalau hari ini hari pertama Syifa masuk sekolah TK.
DEG.
Kini hati Dhea nampak merasa tak tega melihat Syifa tak didampingi abi atau uminya untuk hari pertamanya masuk sekolah.
Tapi kalau ia memilih mendampingi ,syifa,bagaimana dengan pekerjaanya. Kini ia putuskan Syifa yang meminta.
"Syifa sayang,umi hari ini berangkat kerja atau tungguin Syifa sekolah?"
Tanya Dhea pada anaknya. Syifa menatap uminya
dan ia bilang.
"umi kerja aja,aku ditunggu eyang aja umi."
"Ochhh anak pintar,bidadari kesayangan abi dan umi,terimakasih ya sayang."
Kata Dhea sambil memeluk anaknya.
"Oke,umi berangkat kerja dulu ya,selamat belajarnya."
Dhea nampak menyemangati anaknya.
Dan setelah pamit Dhea melajukan motornya.
Berusaha mengejar waktu tak ingin tiap harinya
selalu kesiangan datang ketempat kerjanya.
Kini motornya sudah menepi dan langsung ia memarkirkan motornya.
Masih menatapnya dari balik tirai di sebuah ruangannya. Hatinya akan merasa tenang kalau melihat Dhea sudah hadir walau bukan untuk mengisi hatinya,setidaknya hadirnya mampu membasuh rindunya.
"Pagi semua.."
Sapanya ketika langkahnya menuju meja kerjanya.
"Pagi Dhe."
Jawab mbak April dan yang lainnya.
Dan Dhea segera melaksanakan tugasnya.Dan ia
tidak pernah menyadarinya semua aktivitasnya selalu terekam dalam CCTV. Dan orang yang selalu duduk di kursi kekuasaan itu selalu memandangnya diam-diam.
***
Di pondok pesantren milik ustadz maliki nampak mulai ramai dengan kegiatan belajar.
Jadwal belajarnya begitu padat seperti halnya pondok pesantren yang lainnya.
Nampak mobil Avanza berwarna merah itu menepi
dan masuk kearea tempat parkir pondok.
Lalu pak Soleh segera turun dan membukakan pintu mobil buat sang majikan.
Lalu pemilik tubuh tinggi itu melangkah disamping sang bapak menuju rumah sang pemilik pondok.
Ustadz Maliki sudah menyambutnya.
"Assalamualaikum warrahmatullah.."
Sapa Anajib beserta bapaknya sambil mengulurkan tangannya untuk salaman.
"Walaikumsalam warahmatullah.."
__ADS_1
Jawab beliau dan mempersilahkan masuk Anajib
dan bapaknya.
Sang ustadz Maliki nampak gembira karena Anajib menerima tawaran beliau untuk mengajar di pondok miliknya,setelah merasa cukup mengantar
Anajib. ustadz Abdulpun berpamitan.
Dan berpesan pada Anajib untuk selalu tanggung jawab pada tugasnya.
Ustadz Maliki menunjukkan kamar yang berada di sebuah bangunan yang letaknya dekat dengan Asrama.
"Silahkan untuk istirahat dulu nak!"
Kata beliau bijak,dan langsung meninggalkan
Anajib.
"Terimakasih."
Jawab Anajib sambil melangkah masuk.
***
Waktupun terus berjalan.
Dan senjapun menjelang ketika motor Dhea yang baru pulang kerja melintas masjid yang menyimpan penuh kenangan.
Hatinya kini terasa sunyi lagi,ketika motorpun
menepi tak ada senyum manis yang menanti.
Rumah joglo itu masih mempertahankan gayanya.
Begitu juga dengan pemiliknya yang masih merasa tersiksa dengan kisah cinta sang putra.
Tak ada yang tau dibalik rencana menjodohkan Anajib dengan Ashofa,ya karena tanggung jawab Anajib hari-harinya akan dihabiskan mengamalkan ilmunya di pondok.
Dengan begitu silsilah ningratpun akan terus terjaga karena Ashofa juga memiliki turunan darah biru sama dengan Anajib putra kebanggaanya.
Tapi tak menyangka Anajib memutuskan sendiri jodohnya. Dengan Dhea yang dari awal sudah beliau sengaja jauhkan darinya.
Kini kenyataannya istri dan anak Anajib harus rela menerima hidup jauh dari Anajib.
Sejujurnya hatinya sudah mulai menyayangi Syifa
anak perempuan yang sudah nampak kecerdasaannya,sikapnya tingkah lakunya bak Anajib kecilnya.
Dan Suara motor Dhea menyadarkannya.
Melihat motor itu menepi beliau memilih masuk kerumah tak tega hatinya melihat menantu yang sedang hamil harus terpisah jauh dari suami dan hari-harinya tetap bekerja.
"Tapi itu adalah jalan yang kalian putuskan untuk kalian tempuh."
Bisik hati beliau sambil berlalu menuju kamarnya.
"Umi..."
Teriakan Syifa menyambutnya.
Dan Sang umi membungkuk membawa Syifa dalam peluknya.
"Sayang,bidadariku pelipur laraku penguat hatiku."
Bisik Dhea sambil menuntun Syifa masuk ke dalam rumah.
Lembayung menjadi saksinya sekeping hati yang kini berada dipondok sedang mengenangnya.
🌺🌺 Sampai jumpa di episode selanjutnya🌺🌺
Terimakasih atas kehadiran beserta dukungannya.
Mohon dimaafkan bila masih banyak kesalahan dalam penulisannya🙏🙏🙏
__ADS_1