
Jiwa laki-lakinya dipertaruhkan.
Sebuah kejujuran harus ia ungkapkan.
Cintanya kini diuji dengan sebuah keberanian untuk membuktikan siapa jati diri suami Dhea siapa itu mas bojo,siapa sebenarnya abi dari Syifa Anajib.
Kumandang suara sholawat terdengar di menara
masjid Al-Mutaqien.
Warna lembayung yang menghias cakrawala memamerkan pesonanya,membuat terpana mata yang menatapnya.
Suasana senja membuat angannya terbang ke masa kecilnya,tersenyum dia akan kejailannya.
Orang yang selalu dia tunggu setiap senjanya,dan dia rindu selama dipondoknya.
Kini sudah resmi jadi istrinya,umi dari bidadari kecilnya.walaupun untuk saat ini bapak dan ibunya
belum mengetahuinya.
Anajib keluar dari kamarnya.
Saat dia melintas di kamar Dhea, terdengar tangis Shifa dan suara Dhea masih terus muntah-muntah.
Nampak Anajib berhenti sejenak di depan pintu.
Tak terlihat ada bapak dan ibunya.
Sepertinya beliau bersama ibu sudah pergi ke masjid duluan.
Akhirnya Anajib memutuskan masuk .
Entah kenapa jantungnya masih suka deg degan
ketika mendekat pada orang yang ia cinta.
Syifa nampak rewel,entah apa yang membuatnya
menangis. Melihat abinya masuk ia langsung turun dari ranjangnya dan melangkah menuju abinya. Dhea nampak semakin lemas tak berdaya.
Kini tangan Anajib menyentuh kening Dhea.
"Umi kamu panas."
Katanya mulai khawatir.
Habis sholat Maghrib nanti abi akan membawamu
berobat,kata Anajib sambil terus berusaha mengusap-usap kening Dhea.
Tiba-tiba,Dhea menyuruhnya keluar.
"Abi keluar saja,bauuuu.. ueekkkk."
Dan Dhea mulai muntah lagi.
"Sembarangan abi sudah mandi,bau wangikan?"
Protes Anajib gemes,sambil memapah tubuh Dhea
yang berusaha menghindar dan mendorongnya.
Namun lengannya Anajib cukup kuat untuk menahan setiap dorongan Dhea,dan akhirnya ia
pasrah ketika lengan itu memapahnya.
Syifa nampak terdiam melihat uminya yang terus
memuntahkan isi perutnya.
Melihat Syifa selalu menatap uminya,sang abi mendekat pada Syifa.
"Umi nggak papa sayang.."Bisiknya di telinga buah hatinya.
"Kuatkan sholat?"
Tanya Anajib pada Dhea.
Dhea hanya mengangguk.
"Oke abi akan menjadi imammu!"
Dan Anajib mengelar sajadah.
__ADS_1
Dhea dan Syifa menjadi makmumnya.
Setelah selesai sholat,Anajib bergegas mengeluarkan mobil.
Anajib mengajak berobat,namun Dhea menolaknya.
"Kutu buku,aku tidak mau yaa kamu kenapa-napa, sekarang aku sudah pulang sudah kewajibanku untuk menjagamu dan menjaga Syifa."
Suara Anajib mulai sedikit kesal.
Akhirnya Dhea menurut.
Dan berangkatlah Anajib mengantarkan Dhea.
Syifa selalu tak mau jauh dari abinya.
Mobil itu meluncur perlahan.
Rumah nampak sepi ketika suami istri itu pulang dari masjid.
Langkah sang ustadz menuju kamar Anajib.
Ingin beliau menanyakan alasan apa yang akan Anajib berikan, kenapa sampai alpa sholat berjamaah.
Namun alangkah kagetnya beliau ketika kamar itu nampak kosong.
Akhirnya beliau memutuskan menunggu.
Dan di ruang tunggu Anajib nampak cemas.Dhea terlihat lemas kepalanya selalu menyandar didada
bidang suaminya. Sampai nama Dhea dipanggil.
"Bu Dhea."Panggil petugas.
Anajib berdiri dan memapah Dhea.
"Silahkan duduk bapak,ibu."
Sapa bu dokter dengan ramah.
Dhea diminta untuk berbaring.Lalu dokter itu mulai memeriksa.Setelah selesai dipriksa Dhea
duduk kembali.
Kata dokter itu.
Anajib nampak kaget bercampur bahagia.
Setelah berkonsultasi Anajib dan Dhea pun pulang.
Di dalam mobil Anajib memeluk dan mencium perut Dhea dan kini ia memeluk anaknya.
"Bidadari abi mo punya adik."
Kata sang abi sambil mencium Syifa.
"Umi aku mo punya adik ya mi?"
Tanya Syifa pada uminya,sang umi hanya tersenyum.
"Aku bukan saja mengandung anak kita bi,tapi hatiku juga mengandung semua kebahagiaan di dunia karena kamu adalah cinta dalam hidupku
suamiku dan sahabat terbaikku."
Bisik Dhea sambil terus menyandarkan kepalanya di pundak orang yang ia cintai dan rindukan selama ini.
Dan akhirnya mobil merah itu menepi.
Syifa turun dan berlari,"eyang,aku mo punya adik."
Teriak Syifa tanpa dosa.
Dhea turun dari mobil,dan disusul Anajib.
Tatapan penuh tanya itu sudah menantinya.
Syifa sangat gembira.
Kaki Dhea terasa lemas melintas sang ustadz dan istri. Yang sedang duduk di teras.
Dhea memilih masuk ke kamar.
Baru saja ia merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Terdengar suara tegas itu mulai mengintrogasi.
"Sakit apa Dhea,mas?"
Terdengar suara ibu ustadz,mengalihkan pembicaraan karena takut melihat sang ustadz yang mulai meninggi.
Namun pertanyaan ibu justru awal masalah baru.
"Dhea hamil."
Jawab Anajib.
"APAAA...?"
Suara beliau begitu sangat kaget.
"Panggil Diaaaa..!"
Suara itu begitu menakutkan.
Bu ustadz segera membawa pergi Syifa.
Anajib bergegas memanggil Dhea.
Ia langsung menerobos masuk,lalu mendekat pada
tubuh Dhea yang sedang berbaring.
"Dhe,bapak mo bicara!"
Bisiknya pelan.
Dhea perlahan bangun dan duduk di tepi ranjang.
Diluar dugaan Anajib,tatapan mata Dhea diantara derai air matanya.
Dhea memeluk tubuhnya lalu katanya.
"Aku memang mencintaimu,hanya rasa dalam cinta,bukan hanya dalam rahasia,meski luka yang akan ku terima,ku mohon katakan yang sejujurnya
tak ingin selamanya aku dalam rahasia."
Isak Dhea dalam tangisnya.
Kini Anajib membawanya dalam peluknya.
Dan suara itu sangat mengagetkan keduanya.
"RAHASIA.?"
"RAHASIA APA YANG KALIAN PUNYA..?"
Bentak beliau sambil menarik tubuh Anajib yang sedang memeluk Dhea.
Belum juga Anajib jujur mengatakan yang sebenarnya.
Tiba-tiba.
PLAKK PLAKKK
Bibir itu pecah dan berdarah.
"Jangan bilang Dhea hamil anakmu!"
Kata beliau penuh emosi dan meninggalkan keduanya.
Dhea mendekat kearah Anajib dan tangannya bergetar membersihkan darah dibibir yang pecah suamianya.
"Jangan takut abi akan menyelesaikan semuanya,
kita akan hadapi bersama."
Bisik Anajib dan membawa Dhea dalam peluknya.
****
🌺Sampai jumpa lagi di episode berikutnya🌺
Terimakasih semua atas dukungannya.
Dan mohon maaf bila masih banyak salah dalam
penulisannya. 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1