
Jangan halangi jarak itu.
Kini kau telah datang,namun aku tak bisa menyambutmu.
Abi kini kau sangat dekat denganku.
Namun aku tak mampu memelukmu.
Abi...
kamu yang selama ini ku tunggu,ku rindu.
Hingga akhirnya kamu datang.
Namun sayang aku hanya mampu memandangmu.
Semua penghuni rumah sibuk menyambut seorang
Anajib. Pagi sekali sepasang suami istri itu bertolak ke bandara Adisutjipto yogyakarta.
Karena kali ini ustadz membelikan tiket pesawat kairo ke jogja jadi beliau tidak jauh-jauh harus menjemput di Jakarta.
Tidak seperti waktu berangkat dulu,ustadz harus jauh-jauh mengantar ke bandara Soekarna Hatta Jakarta karena titik pemberangkatan supaya saudara yang di Jakarta dan pak lek yang di Bandung bisa melepas pemberangkatannya.
Syifa ikut serta menjemput ke bandara.
Terkecuali Dhea sang umi.
Dhea tetap masuk kerja dengan motor scoopy yang selalu setia menemani setiap harinya.
Karena Dhea bagi ustadz dan istri bukan siapa-siapanya Anajib.
Di mata beliau Dhea yang sekarang sudah yatim piatu memiliki suami,mas bojo yang meninggalkan Dhea dan anaknya Syifa.
Bagi ustadz Abdul Dhea tidak diijinkan pindah dari rumah beliau,karena kasihan mas bojo Dhea adalah laki-laki brengsek yang tidak tanggung jawab.
Di dalam mobil nampak suami istri itu berbincang tentang Dhea. Karena Syifa duduk di depan.
Jadi beliau leluasa berbincangnya.
"Bu gemana kalau Dhea dan Anajib ketemu,sekarang malah Dhea tinggal dengan kita?"Kata ustadz pada istrinya.
"Lhoo Dhea sudah bersuami dan sudah memiliki
anak Syifa nggak mungkin mereka akan ada rasa lagi pak."Kata sang istri.
Tiba-tiba Syifa bertanya.
"Eyanggggg Syifa mo menjemput abi yaa?"
Pertanyaan Syifa di luar dugaan mereka.
"Bukan sayangg...."
Kata bu ustadz pada Syifa.
"Kata umi sebentar lagi abi akan datang."
Syifa terus berkata-kata.
Ustadz dan istri memilih diam.
Karena mereka tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Sudah bu biarkan Syifa mau menganggap apa pada Anajib,nanti kita kasih pengertian pada Anajib kalau sampai Syifa menganggap Anajib adalah abinya."
Kata pak ustad pada istrinya dan dibalas anggukan
kepala tanda setuju oleh sang istri.
Tak terasa mobil berwarna merah itu memasuki
tempat parkir di bandara.
Sang ustadz berjalan menuju tempat tunggu.
Ibu ustadz menuntun gadis kecil yang berwajah cantik mengenakan hijab berwarna ping.
Syifa hari ini nampak cantik.
Dhea berharap sang abi akan memeluk buah hatinya.
Setelah duduk diruang tunggu beberapa saat.
Pesawat yang membawa putra kebanggaan landing dengan selamat.
Nampak dari kejauhan seorang tinggi tegap melangkah semakin dekat dan wajah ganteng itu semakin terlihat nyata gantengnya dengan jambang dan jenggot yang menghiasi wajahnya.
Syifa berlari dan berteriak.
Abii.... dan gadis kecil itu memeluk Anajib.
Ustadz dan istri saling pandang.
"Bidadari abi."
Bisik Anajib sambil membungkuk dan memeluk gadis kecil itu.
Syifa terus berkata-kata kini sang abi sudah membawanya dalam gendongannya.
"Ya sayanggg.."
Jawab Anajib,sambil mencium sayang kening Syifa.
Lalu Anajib salim pada bapak dan ibunya.
"Apa kabar pak,bu?"
Sapanya pada bapak dan ibunya.
"Alhamdulillah,bapak dan ibu sehat."
Jawab sang ustadz dan istri.
Setelah saling sapa langkah mereka menuju mobil.
"Eyang Syifa duduknya sama abi."
Kata Syifa nggak mau dipangku bu ustadz.
Lalu Syifa langsung melompat kebangku depan.
Sepanjang jalan Syifa terus bercerita.
Anajib hanya menyimak cerita anaknya.
"Maafkan abi Syifa terpaksa harus berdrama."
__ADS_1
Bisik Anajib tersiksa.
Dhea maupun Anajib sudah sepakat untuk berdrama mereka sepakat akan sebagai orang yang tidak memiliki hubungan maupun ikatan di hadapan bapak dan ibu.
Mobil itu akhirnya sampai di depan rumah.
Pak sopir turun dan membukakan pintu mobil buat pak ustadz dan keluarga.
"Mas kamu tidur di kamar tamu ya,karena kamarmu di tempati Dhea dan anaknya,ibu dan bapak terpaksa jemput ia dari Bandung,setelah tahu Dhea sudah menikah dan punya anak tapi sayang suaminya yang namanya mas bojo itu meninggalkan Dhea dan anaknya."
Kata sang ibu bercerita panjang lebar pada Anajib.
"Baik bu nggak masalah."
Jawab Anajib sambil melangkah ke kamar tamu.
Matanya terus mencari di mana Dhea istrinya.
Namun hatinya tak berani bertanya.
"Bisa-bisa nanti bapak dan ibu tahu."
Drama yang mereka mainkan.
Di tempat kerjanya Dhea 'Gegana'
Gelisah Gundah Gulana.
Saat jam pulang tiba detak jantungnya semakin cepat berpacunya.
Sepanjang perjalanan pulang Dhea berusaha fokus mengendarai scoopynya.
Setelah beberapa waktu sampai juga Dhea di rumah sang ustadz.
"Assalamualaikum."
Salam Dhea sebelum masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam."
Suara itu menjawab salam Dhea.
Keduanya hanya saling pandang.
"Abi aku rindu."Bisik Dhea sambil melintas di hadapan orang yang sudah lama ia rindu.
"Kamu sangat dekat namun tak mampu ku memelukmu."
Bisik hati Dhea terus berharap bisa memeluk
orang yang ia rindukan tapi apa daya.
Keduanya harus bermain peran selama Anajib belum lulus dari S2 nya.
Di bawah atap yang sama namun di kamar yang berbeda.Anajib selalu chat istrinya hanya untuk melepas rindunya.
Anajib hanya punya waktu dua pekan di Indonesia.
Kini keduanya harus pandai memanfaatkan waktu itu,tanpa ada kecurigaan bapak dan ibunya.
****
💕💕💕 Sampai di sini dulu kakak reader..
__ADS_1
Dan terimakasih untuk kakak semua atas dukungannya🥰🥰🥰🥰