
Jangan pernah anggap remeh cinta.
Mencintai bukanlah apa-apa, dicintai adalah sesuatu tetapi untuk mencintai dan dicintai itu adalah segalanya.
Anajib dan Dhea mereka memiliki cinta sejati.
Begitu juga dengan Amir pun memiliki cinta sejati.
Bila hati tak mampu memiliki cukup mencintainya
dalam diam. Dan selalu mengenangnya dalam setiap doa-doa yang di panjatkan.
Amir cukup bahagia walau hanya mampu memandang Dhea dari kejauhan.
Kadang kerinduannya membawanya berkunjung ke rumah joglo. Dengan alasan berkunjung pada sang ustadz yang sudah Amir tolong.
Dengan demikian Amir berharap bisa berjumpa dengan Dhea. Wanita pujaannya yang tak lain menantu ustadz yang sudah ia tolong.
Entahlah dalam usianya yang sudah cukup dewasa
harusnya Amir sudah waktunya berumah tangga.
Entah sampai kapan Amir akan bisa berdamai dalam kecewanya karena cintanya pada Dhea tak terbalas.
Salah satu perang terberat dalam hidup Amir adalah berperang melawan kerinduannya pada seorang Dhea. Apalagi saat Dhea ikut suaminya tinggsl di pondok. Adakalanya Amir rindu sangat
rindu pada sosok Dhea. Yang posisinya tak
ada yang mampu menggantikan kedudukan Dhea
di hatinya.
Mbak Lily sang sekretaris pribadinya yang mengharapkan cinta Amir tak pernah Amir beri kesempatan singgah di hatinya.
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta.
Suara sang malam seakan berlagu.
Manakala hati menggeliat mengusik renungan mengulang kenangan. Akan kisahnya saat-saat bersama Dhea walau masa itu sudah lama berlalu ingin Amir membasuh perasaan rindunya pada Dhea. Malam ini mobil mewah pak bos sudah terparkir di halaman rumah joglo sang ustad.
Saat yang benar-benar tak terduga oleh Amir.
Suasana rumah yang selalu sepi setiap saat ia berkunjung. Malam ini jauh berbeda suara canda tawa terdengar mengisi suasana malam.
Sang ustadz menyambutnya dengan ramah. Lalu Amir mencium punggung tangan sang ustadz.
Dan seperti biasa beliau akan membawa Amir dalam pelukannya. Segitu dekatnya beliau pada Amir. Merasa tak mampu membalas pengorbanan Amir yang merelakan darahnya untuk menyelamatkan sang ustadz.
Dan seisi rumah seperti menyambut seorang pahlawan penyelamat sang eyang kakung.
Jantung Amir seakan berhenti berdetak ketika sosok yang ia rindukan benar-benar nyata di hadapannya.
Malam ini benar-benar skenario Tuhan yang mengatur proses Amir bisa masuk dalam keluarga nigrat itu.
Syifa sudah mulai malu-malu ketika Amir menyapanya. Sedangkan Fatir sudah mulai dekat.
Dengan Amir.
"Panggil om Amir !"
Kata Dhea membiasakan Syifa dan Fatir untuk
__ADS_1
memanggil Amir pak bosnya yang mendadak jadi anggota keluarga ningrat semenjak menolong sang ustadz Amir sering berkunjung dan tak jarang ustadz menahannya untuk bermalam.
Rumah joglo itu bak rumah ke dua bagi Amir.
Anajib tak masalah dengan kehadiran Amir.
Karena ia sendiri pernah seperti itu waktu jaman kuliah di UNY. Ketika libur semester rumah Beni adalah rumah ke dua baginya.
Suasana di meja makan malam ini terasa hangat.
Bagi sang ustadz dan istri.
Malam ini hati ke dua orang tua Anajib tak mampu
pungkiri sumber kebahagiaannya berada saat
keduanya berada diantara ke dua cucunya.
Berbeda dengan suasana hati Amir.
Amir terus berusaha tampil kuat diluar meski sebenarnya hancur dan remuk di dalam hatinya.
Makan semeja dengan orang yang ia cintai namun
ia ada bukan untuknya.
Semakin lama sebuah perasaan di pendam,
semakin besar pula perasaan itu hidup di hati Amir. Orang yang ada di hidup Amir pasti ada masanya. Namun jujur tak mampu Amir hindari
Dhea satu-satunya yang ia cintai.
membereskan meja makan. Dan Syifa tanpa diminta sudah pandai membantu uminya mencuci
piring kotor bekas makan bersama.
Yang berada di ruang keluarga semua perhatian tertuju pada Fatir yang sedang merajuk pada abinya.
"Abi pokoknya besok beli sepedanya!"
Suara Fatir terdengar oleh Dhea dan Syifa.
"Insya Allah sayang nanti Fatir nabung dulu yaa!"
Terdengar jelas sang Abi menasehati Fatir.
Ada rasa perih di hati Dhea, kata-kata Anajib adalah kata-kata yang berapa tahun yang lalu
dia berikan buat Syifa kecil yang menangis minta sepeda.
Diluar dugaan.
Tiba-tiba..
"Besok Fatir beli sama eyang kakung!"
Terdengar jelas kalimat itu keluar dari bibir yang
jarang bicara.
Nampak Syifa menoleh pada sang umi.
__ADS_1
"Eyang banyak uangnya ya umi?"
Tanya Syifa polos.
"Alhamdulillah.!"
Jawab Dhea pada Syifa anak pertamanya.
Wajar saja Syifa bertanya sang eyang banyak uangnya. Karena didikan Anajib maupun Dhea
kalau anak-anak minta sesuatu mereka harus menabung dulu.
Fatir semakin dekat dengan sang eyang.
Malam-malamnya tidur bersama beliau.
Dhea merasa bapak mertuanya sangat memanjakan Fatir tapi tidak dengan Syifa. Anak pertama mereka. Dulu Syifa pernah menangis
meminta sepeda namun beliau tak membelikannya. Dhea segera menepis perasaannya.
Lembayung senja sudah lama menghilang berganti dengan sunyi dan pekatnya malam.
Menyelimuti semesta dalam kepatuhan.
Jiwa-jiwa terlelap dalam buaian mimpinya.
Dhea istri yang selalu taat dan melaksanakan kewajibannya ketika Anajib menuntut haknya.
Lengan yang kokoh itu membawa Dhea dalam peluknya. Tatapan mata yang teduh itu begitu menghujam kerelung hati Dhea.
Usia pernikahan yang sudah lumayan lama.
Namun sikap Dhea yang pemalu masih merasa
malu ketika tubuh polosnya dalam tatapan suaminya. Kekuatan cinta keduanya yang mampu
membuat rumah tangganya masih bertahan.
Kini bibir itu semakin tak mampu lagi menahan.
Dan Dhea hanya pasrah dalam ketaatan.
Akhirnya keduanya saling tengelam dalam surga dunia dalam selimut yang halal.
Dhea tak pernah tau ada sekeping hati yang terluka. Di kamar yang berbeda Amir masih dalam keyakinannya. Tawakal pada Tuhan lewat doa-doanya. Walaupun ia sadari semua sudah berakhir namun Amir terus berharap dipersatukan oleh takdir.
Amir terus berusaha kuat.
Kini hatinya semakin tulus bahkan ia berjanji tak akan menyerah. Walau sakit ia rasa namun baginya melihat orang yang ia cintai bahagia.
Itu sudah cukup baginya.
Biarlah sang waktu yang akan menjawab semua.
***
🌺 Sampai jumpa di episode selanjutnya🌺
Mohon maaf up nya suka telat🙏
Terimakasih buat kakak semua, atas like dan dukungann
__ADS_1