
Maafkanlah duhai cinta.
Aku belum bisa buatmu bahagia.
Karena terlalu lemah dan tak berdaya.
Setelah keduanya sama-sama menikmati surga dunia,keduanya saling menatap.
Dan senyum nakal Anajib menghias bibirnya.
Lalu wajah ganteng berhias kumis tipis beserta jambang itu mendekat lalu ia berbisik pada Dhea.
"Terimakasih sayang kau selalu membuatku merasa tenang dan bahagia,namun maafkan aku
belum bisa buatmu bahagia."
Dan bibir Anajib mengecup sayang kening Dhea.
Tiba-tiba suara teriakan Syifa mengagetkan keduanya.
"Abii... abi,dipanggil eyang kakung!"
Terdengar jelas suara Syifa dari balik pintu.
Dan tangan mungilnya mulai mengedor-ngedor
pintu kamar mereka.
Sang abi langsung bergegas menyambar handuk
dan bergegas masuk kamar mandi.
Dan uminya buru-buru mengenakan gamisnya lalu
melangkah membukakan pintu kamar.
Pintupun terbuka Syifa langsung menerobos masuk.
"Umi dimana abi?" Tanya Syifa.
"Abi sedang mandi sayang."
Jawab sang umi sembari merapikan kamar,dan menyiapkan baju koko beserta sarung buat abinya.
Setelah mendengarkan penjelasan uminya,Syifa
keluar lagi dari kamar.
Anajibpun keluar dari kamar mandi.
Dan sebelum Dhea berlalu untuk mandi,ia memberi tahu padanya.
"Abi dipanggil bapak,tadi Syifa yang bilang buru sana temuin beliau." Kata Dhea pada Anajib.
Yang sudah rapi mengenakan sarung dan baju kokonya.
"Sebentar lagi maghrib,biar nanti sepulang dari masjid saja menemui beliau."
Jawab Anajib sembari duduk di kursi lalu ia membuka musafnya.
__ADS_1
"Oke."
Jawab Dhea dan berlalu melangkah untuk mandi.
Baru saja Dhea selesai mandi.
Terdengar suara adzan maghrib itu menggema dari menara masjid.
Langkah kaki mereka beriringan menuju masjid.
Dan nampak Syifa melangkah riang diantara keduanya.
Tatapan tajam itu seperti berkilat seperti menyimpan sebuah rencana.
Manakala sepasang suami istri itu melintas melewatinya.
Seperti biasa beliau selalu berdehem untuk mengisyaratkan atau memberi tanda pemberitahuan sesuatu yang kurang berkenan di hati beliau.
"Bapak sudah berusaha menerima kenyataan kalau Anajib dan Dhea itu sudah sah menjadi sepasang suami istri,sampai akhirnya para tetanggapun juga sudah mengetahuinya."
Kata beliau pada sang istri yang berjalan disampingnya.
Dan langkahnya kini memasuki masjid.
Semua jamaah sudah berdiri berjajar di shaf masing-masing.
Selesai sholat berjamah jamaahpun satu persatu meninggalkan masjid.
Syifa berlari menghampiri abinya yang masih duduk dalam tilawahnya
"Abi..,ayoo pulang!"
Dan ia berdiri lalu melangkah pulang.
Syifa begitu bahagia digendong.
Dhea sibuk menyiapkan makan malam.
Setelah semua siap keluarga ningrat itu,makan
malam. Semua sibuk dengan suapannya masing-masing. Syifa sudah bisa makan sendiri.
Sesekali sang umi membantu memotongkan lauknya. Begitu nampak bahagia dan pemandangan keluarga harmonis.
Itu sepintas terlihat gambaran keluarga itu.
Tapi berbeda dengan apa yang bergejolak dalam hati sang ustadz.
"Mas bapak mo bicara."
Terdengar suara beliau menahan langkah Anajib.
Dan Anajibpun duduk menghadap beliau.
Dhea berusaha mendengar apa yang beliau sampaikan pada suaminya,namun percakapan itu
tak terdengar olehnya. Setelah merapikan meja makan Dhea memilih mengajak Syifa masuk kamar. Syifa rewel ingin abi saja yang baca ceritanya.
"Umi abi saja yang baca ceritanya."
__ADS_1
Kata Syifa beralasan nggak mau dengan umi.
"Sayang abi sedang ngobrol sebentar dulu dengan eyang,."
Bujuk Dhea pada anaknya.
Di ruang keluarga pembicaraan itu akhirnya sudah selesai dan sang ustadz sudah memberi keputusan. Anajib tak kuasa menolaknya.
Setelah mengaamiinkan keputusan itu.
Ia pamit pada bapaknya untuk masuk kamar.
Dhea nampak menyiapkan baju kerjanya buat besok. Dan bidadari kecil itu sudah mulai terlelap dalam tidurnya.
Dia nampak ragu menyampaikan keputusan itu pada Dhea. Namun setelah ia pikir-pikir akhirnya
ia memilih berbicara.
Dhea membaringkan tubuhnya untuk meluruskan pinggangnya. Dhea heran melihat suaminya hanya
duduk terdiam di tepi ranjang.
"Abi kenapa?"
Tanya Dhea pada suaminya.
"Mulai besok abi harus tinggal di pondok ustadz Maliki, karena Abi insyaAllah mulai besok sudah mulai mengajar di sana."
Jawab Anajib sambil merebahkan tubuhnya disamping Dhea.
Jujur saja Dhea mulai cemburu,dan memilih diam
saja ketika Anajib minta jawabannya.
Seperti sudah hafal dengan sifat Dhea,kini Anajib
memilih berbaring di samping Dhea.
Sekarang keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing dan tak terdengar lagi pembicaraan diantara keduanya.
Heningnya malam semakin nyata terasa di hati seorang Dhea,yang diam-diam meneteskan air mata. Sudah terbayang olehnya apalagi kalau Anajib akan pergi lagi.
Lengan itu terus memeluk Dhea.
Namun ia pun sama hatinya berkecambuk membayangkan akan meninggalkan Dhea dan Syifa.
Dan tak terasa air mata itu menetes membasahi jenggotnya. Hatinya berbisik dalam doa semoga Allah akan selalu menjaga rumah tangganya.
"Maafkan aku cinta belum bisa buatmu bahagia."
Bisiknya sambil memeluk tubuh Dhea.
Matanya berusaha ia pejamkan berharap anak dan istrinya selalu dalam penjagaan Tuhan.
***
🌺 Sekian dulu kakak jumpa lagi di episode berikutnya🌺
Terimakasih pada semua atas dukungannya🙏
__ADS_1
Mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisan.