
Pagi ini adalah pagi yang mendebarkan hati Dhea, Karena Dhea baru menyadari kalau pagi-paginya selalu dalam pengawasan Anajib.
Setiap melewati jalan masjid ini, ternyata dia selalu memperhatikannya.
"Mobil merah itu sudah terparkir di halaman masjid sepagi ini.? Padahal hatinya ingin sekali melihat, ada siapa saja disana. tetapi dirinya tak berani hanya sekedar menoleh saja.
"Huchhh.."
Nafas Dhea terasa legaaa..., karena masjid itu sudah ia lewati.
Sinar matahari pagi menyambutnya. Ketika kayuhan sepeda Dhea terhenti dihalaman sekolah. Salma sahabat yang duduk satu bangku dengannya. Sudah tersenyum manis kearahnya.
Setelah Dhea menyimpan sepedanya, Ia bergegas menghampiri Salma.
"Assalamualaikum... " sapa Dhea.
"Walaikumsalam.." jawab Salma.
Lalu keduanya bersalaman.
"Dheee... , rencananya libur semester kamu mo liburan kemana..? tanya Salma pada Dhea.
Yang sedari tadi hanya terdiam dibangkunya.
"Entahlah.." jawab Dhea singkat.
Dhea sudah tak tertarik lagi dengan liburan semesternya.
Dhea kira liburannya akan selalu dilewati bersama Anajib, setiap senja mengaji bersamanya. tetapi kenyataannya tidak seindah harapannya. "cepat sekali Ia kembali lagi ke pesanten," bisik hati Dhea.
Begitu cepatnya liburan Anajib berakhir.
Dhea kira liburannya sama waktunya dengan liburan disekolah Dhea.
"Halloooo..." Diajak ngobrol malah melamun..!
"Mang enak apaa..? Dicuekin..!
Salma ngomel karena merasa tak dianggap oleh Dhea, yang sejak datang hanya banyak diam.
Pak Gunawan masuk kelas , membuat ocehan Salma terhenti. KM memimpin doa, Dilanjut pak Gunawan mengabsen . Lalu beliau membagikan
kertas ulangan, sambil terus mengingatkan supaya kami mengerjakan ulangannya dengan teliti.
"Dhea terus berusaha fokus mengerjakan ulangannya.' Tapi entah kenapa hatinya selalu merasa kecewa, tiap kali ingat isi surat sitawa lebar itu. alamat tak bisa Ia temui lagi di senja ini karena Anajib sudah balik lagi ke pesantren.
"Jangan melamun terussss..."
Tetapi kerjakan dengan benar.!!
Salma berbisik ditelinga Dhea. Yang dibisikin hanya tersenyum. Dhea rasa hari ini terasa lama, dari hari-hari biasanya.
Akhirnya bel pulang berbunyi. Dhea dan Salma
melangkah kedepan untuk menggumpulkan kertas ulangannya.
Seperti hari-hari kemaren , setiap bel berbunyi Dhea dan Salma selalu keluar kelas bersama.
dan akan berpisah kala Dhea menuju tempat Ia menyimpan sepedanya.
Salma melambaikan tangannya, dibalas dengan
lambaian tangan Dhea.
"Bismillah... Dhea mulai mengayuh sepedanya.
Panasnya sinar matahari siang ini, masih terasa
panas seakan membakar kulitnya.
__ADS_1
Siang ini masih sama dengan siang sebelumnya.
Dhea terus berjuang melawan panasnya sinar matahari, yang tak pernah mau kompromi dengannya. "uuchhh..," Di dunia saja panasnya seperti ini ..!
Bagaimana panas neraka..?? batin Dhea sambil menghibur hatinya.
Dan akhirnya nafas Dhea terasa legaaa..,
Didepan sana sudah nampak masjid tempatnya menggaji. berarti rumahnya sudah semakin dekat. Ketika Dhea melewati masjid itu ,
Mobil merah itu masih diposisinya. masih terparkir dihalaman masjid seperti tadi pagi.
Dhea terus mengayuh sepedanya, tanpa menoleh sedikitpun, Dia tak peduli lagi dengan mobil itu.
toh dari pagi mobil itu terparkir disitu, kata hati Dhea . Tak ada yang ingin Dhea lakukan selain ingin cepat-cepat meluruskan badannya.
Assalamualaikum...
Dhea langsung mendorong masuk sepedanya tanpa menunggu ibu menjawab salamnya.
Buru-buru Dhea salin seragam , lalu Ia melompat
ke kasurnya. Ia sudah tak hiraukan cacing-cacing diperutnya yang sudah menjerit kelaparan.
Rasa lelahnya mengalahkan rasa laparnya.
Tetapi matanya sulit untuk dipejamkan, akhirnya tangan Dhea mengeluarkan amplop-amplop biru
dari persembunyiannya. "entah sudah berapa kali Dhea menggulang-ulang untuk membacanya." Sampai akhirnya matanya terasa lelah dan tertidur bersama surat-surat itu.
"TOK... TOK... TOK.." Dheee.. Dheeee.."
Terdengar suara ibu membangunkannya.
"Yaaa... bu" jawab Dhea . Dia berharap ibunya berhenti mengetuk pintu kamarnya.
Dhea bangun lalu beranjak menutup korden kamarnya, ketika matanya melihat indahnya senja. Dhea berdiri terpaku dibalik jendela kamarnya. "Senja itu... selalu indah untuk dipandang.." bisik Dhea sambil berlalu keluar kamarnya.
Entah kenapa Senja ini hati Dhea tak seperti biasa, hatinya malas untuk melangkah ke masjid
Tetapi Dhea tetap paksakan langkahnya terus melangkah untuk menuntut ilmu agama.
mungkin semua karena "Ia tak ada..?
Batin Dhea bertanya-tanya.
Siti dan Aminah sudah melangkah duluan, kepadasan Dhea menyimpan mukena dan musafnya dulu . Baru menyusul kedua sohibnya.
"Dheee dulua yaaa kata Aminah dan Siti, meninggalkan Dhea dengan anak yang lainnya.
Air matanya jatuh membasahi pipinya, Dhea sengaja memperlambat wudhunya karena Ia tak ingin ada yang melihat tangisnya. Tetapi semakin lama tangisnya bukannya berhenti malah menjadi-menjadi. "lagi dan lagi Dhea mengulangi wudhunya... ia berharap air matanya berhenti bersama air wudhunya.
Suara komad terdengar, Dhea melangkah meninggalkan padasan dengan terburu-buru.
Ia berharap ada suara yang akan memanggil namanya ..., tapiii harapnya hanya sia-sia.
Sholat magrib telah usai, Dhea beserta teman-temannya dengan sigap duduk berjajar.
Seperti senja-senja sebelumnya, Tatapan mata yang sangat tajam mengabsen mereka satu persatu. Tatapan itu berhenti pada Dhea, lalu suara penuh wibawa itu menyapa Dhea.
Menanyakan Muraja'ahnya, lalu tatapan itu beralih ke Aminah, dan senja ini giliran Aminah dan Siti untuk setor hafalannya.
Saat sholat isya tiba akhirnya pak ustad mengakhiri kajiannya.
Siti meminta Dhea menemaninya untuk mengambil air wudhu, Dhea melangkah dibelakang Siti. nampak Salman sedang bercanda dengan seseorang.
Siti sudah masuk duluan, Dhea sebenarnya tidak berniat untuk berwudhu, Entah kenapa air matanya susah diajak berdamai. lagi dan lagi
Dhea membasuh mukanya untuk menghilangkan air matanya. ketika Dhea hendak melangkah masuk. ada suara yang menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Haiii... kamu ."
Ada yang tertinggal nich !
Suara ituuu .?
mimpikah aku..?
Bisik Dhea. Bukankah yang punya suara itu sudah pulang ke pesantren.?
Dhea menghentikan langkahnya, sebelum Ia menoleh ke asal suara itu, Ia sempat berdoa Yaa Allah semoga suara itu nyata..., bukan hanya khayalan karena sebuah harapan dari sebuah kerinduan hati Dhea.
Ketika Dhea membalikkan badan , Anajib berdiri
tepat dihadapannya Wajahnya semakin terlihat bersih, dan tawa lebar itu menghiasi wajahnya.
"Kamuuuu. ?
Akhirnya Dhea berani menyapanya.
"Bukankah kamu sudah pulang ke pesantren.?
Dhea terus bertanya, " Anajjb terus tertawa..
"Kamu sedih yaaa...?? Tanyanya yang cukup
membuat Dhea malu dibuatnya.
Keduanya tidak pernah menyadari , ada seseorang yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. Hingga akhirnya ..
"EEHEMMM.,,"
"EEHEMMM..."
Deheman itu cukup mengejutkan keduanya.
"Dheee.. masuk !!
Suara itu terdengar menakutkan.
Dan tatapannya semakin tajam.
Sang pemilik tawa lebar masih tertawa dan melangkah dibelakang bapaknya, sambil terus menoleh kearahnya.
Dhea tak bisa menata hatinya, air matanya terus berjatuhan sepanjang sholatnya.
Dhea merasa sedih kalau harus berpisah dengan Si tawa lebar.
"Ada apa dengan hati ku..??.
Ingin rasanya sholat isya ini tak berakhir.
karena Ia tak ingin kehilangan tawa itu.
Sepanjang jalan pulang dari masjid Dhea banyak diam.
Siti dan Aminah seperti paham suasana hati temannya.
Malam ini Dhea tersiksa dengan semua rasa.
kenapa aku tak rela bila Ia harus pulang ke pesantren. Tetapi semua kenyataan kadang tak seindah yang kita inginkan.
Dhea menghela nafas panjang..
Dan terus menenangkan hatinya, dan terus paksa matanya untuk tidur. supaya pagi harinya Dhea tidak bangun kesiangan.
Sampai di sini dulu kakak.
Terimakasih semua yang sudah berkenan mampir 🙏
__ADS_1
Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya 🙂