
Terkadang,kesulitan harus kamu rasakan terlebih
dulu sebelum kebahagian yang sempurna datang kepadamu.
Anajib benar-benar dibuat gemes oleh kelakuan
Dhea,belum sempat ia menjelaskan kalau tak akan
dirinya menghianatinya.
Dhea sudah pasang sikap cuek padanya.
Sebelum Anajib kembali ke Mesir Dhea sudah menghindar darinya.
"Wanita memang sulit dipahami jalan pikirnya."
Keluh hati Anajib yang kini sedang berbaring membuang penat di kamarnya.
Kini jari- jari tangan Anajib sibuk menghubungi no kontak Dhea. "Aku harus segera beritahu Dhea.
Sebelum cemburu membakar hatinya."
Bisik Anajib dan akhirnya panggilan 'VC' pun terhubung.
π±"Assalamualaikum,umi..."
Sapa Anajib sambil terus menatap wajah yang terpangpang nyata dilayar ponselnya.
π±"Walaikumsalam."
Jawab Dhea dari sebrang sana terlihat wajah itu
nampak murung,seperti menyembunyikan sesuatu
dan lihat kelakuan sikutu buku nggak mau menatap wajah Anajib.Dan semua itu membuat
seorang Anajib semakin gemas.
π±"Kutu buku,tak beradab sekali kamu,suami ngajak bicara tak kamu tatap wajah ganteng suamimu ini!"
Anajib berusaha bercanda.
π±"Aku pusing dengan hubungan ini,kalau memang abi memilih Ashofa...."
Dhea tidak menyelesaikan kalimatnya kini air mata itu begitu jelas terlihat oleh Anajib.
Hati mana yang tak terluka melihat air mata membasahi pipi orang yang ia cinta.
π±"Heiii jalan pikiranmu sendiri yang membuatmu
ragu,abi tidak pernah setuju dengan perjodohan itu!" Kini suara Anajib yang terdengar
sedikit marah.
π±"Bener ya abi,umi akan pegang kata-kata abi."
Kini nada suara Dhea juga terdengar tegas.
π±"Abi harap umi bersabar tunggu abi,sabarlah tinggal tunggu abi wisuda,setelah itu kita akan selalu hidup bersama-sama dengan Syifa bidadari kecil kita."
Anajib terus berusaha meyakinkan hati Dhea yang mulai meragukannya.Setelah itu Anajibpun mengakhiri telponnya.
π±"Oke sudah dulu ya umi,jaga kesehatan dan jaga Syifa,"Assalamualaikum."salam Anajib menutup pembicaraannya.
π±,"Walaikumsalam warahmatullah.."
Balas Dhea.
Kini hati Anajib sedikit lega setidaknya Dhea tau
kalau dirinya tidak pernah mengaamiini perjodohan itu.
Kini Anajib melangkah keluar kamar.Dan nampak ustadz Sanusi sedang duduk dihamparan permadani beliau sepertinya sedang membaca koleksi kitabnya.
Langkah Anajib mendekat pada beliau.
Menyadari kehadiran Anajib beliau menghentikan
kegiatan bacanya.Wajah beliau nampak tersenyum
ramah. "Mari duduk sini."ajak beliau pada Anajib.
__ADS_1
Dan Anajib duduk dekat sang ustadz.
Ingin hatinya menceritakan kisah cintanya.
Namun hatinya nampak ragu.
Sepertinya ustadz Sanusi paham gelisah hati Anajib.
Lalu beliau menepuk pundak Anajib.
"Ada apa anak muda?"
"Bicaralah mungkin ada yang bisa ustadz bantu."
Dan wajah itu tersenyum seakan siap mendengarkan curahan hatinya.
Akhirnya Anajibpun menceritakan semua.
Dari awal kisah cintanya,sampai akhirnya ia memilih menikah dengan Dhea dan lahirlah Syifa
buah hati mereka.
"MasyaAllah,ustadz bangga pada antum berani memilih jalan yang benar,dan menghindari zina."
Ustadz Sanusi sependapat dengan sikap Anajib.
Cuma disini yang jadi penghalang restu orang tuanya Anajib yang ingin menjaga dan melestarikan kasta ningratnya.
"Antum sudah berani ambil sikap,dan antum harus berani tunjukkan sikap!"
Kata sang ustadz memberi wejangan pada Anajib.
Dan Anajib nampak mengangukkan kepalanya
tanda paham apa yang sudah ustadz sampaikan padanya.
****
Di tempat kerjanya Dhea masih sering merasakan pusing.Akhir-akhir ini ia terlalu khawatir akan nasibnya dengan Syifa.
Dhea akan terima dan ikhlas bila ia tidak akan diterima di keluarga ningrat itu.
Bagaimanapun darah Anajib sudah mengalir dalam tubuh Syifa.
Dhea tak menyadari pak bos memergokinya dirinya selalu melamun dalam kerjanya.
Dari CCTV semua jelas nyata gerak gerik Dhea.
Apa yang menimpa orang yang ia cintai seakan hatinya ikut merasa khawatir akan kesehatan Dhea.
"Dhe...,sulitnya aku meluluhkan hatimu,sejak sekolah dulu aku ingin bisa membantu apapun
yang menjadi beban hidupmu,tapi kamu seperti mengunci mati hatimu untukku,aku berjanji harus bisa memilikimu."
Bisik hati pak bos yang gegana karena hasratnya
ingin memiliki seorang Dhea.
Jam pulang kerja sudah tiba.
Dheapun sigap merapikan semua file-filenya.
Sebelum meninggalkan mejanya Dhea pastikan
tak ada yang tercecer pekerjaannya.
Setelah yakin ia pun melangkah menuju tempat parkir setelah mengenakan jaket dan helmnya
tubuh mungil itu melajukan motornya.
"Wow,punya nyali juga sekarang kamu Dhee,dulu
kamu akan teriak-teriak ketakutan dan akan memeluk erat pinggangku bila aku melajukan mogeku dengan kecepatan tinggi."
Sang bos berdecak semakin salut pada perubahan
wanita pujaannya,dan senyum itu menghias bibir merahnya. Lalu beliau menitah sopir untuk mengikuti motor Dhea. Dan selalu menjaga jarak dengan lajunya.
Di rumah keluarga ningrat Syifa kecil sudah menanti uminya pulang dari kerjanya.
Dan kaki kecilnya melompat-lompat senang ketika
__ADS_1
motor sang umi menepi di halaman luas itu.
"Umi pulang,umi pulang!"
Suara Syifa menyambutnya.
Melihat kegembiraan anaknya mampu menghapus
gelisah hatinya.
"Assalamualaikum." Salam Dhea sambil menyambut Syifa yang berlari kearahnya.
"Walaikumsalam,umi.."
Jawab Syifa sambil salim dan memeluknya.
Pelukan tangan mungil Syifa mampu memberinya kekuatan.
Sayang kita akan hadapi bersama apapun itu akhir kisah kita.
Bisik Dhea dalam hatinya sambil menuntun Syifa membawanya masuk ke kamarnya.
Nampak sepi tak ada ustadz maupun istrinya sang ustadz.Tadi di depan Syifa bermain sendiri.
Dan hanya ada sopir pribadi keluarga ini yang sedang mencuci mobil.
Dhea membuka pintu kamar.
Syifa langsung menerobos masuk duluan.
Seperti biasa ia akan naik keranjang dan mengajak ngobrol foto abinya.
"Abi janji yaa,cepat pulang awas kalau abi bohong."
Kata Syifa sambil menatap foto itu.
Dhea membiarkan anaknya dan ia pergi untuk mandi. Selesai mandi dan dibaju Dhea menghampiri anaknya.
"Syifa kok tadi mainnya sendirian,emang eyang kemana?"
Tanya Dhea pelan-pelan.
"Tadi Syifa main sama eyang uti umi,tapi eyang utinya dipanggil eyang akung."
Jawab Syifa begitu lancar.
"Ada apa yaaa..?"
"Mungkinkah mereka sudah mulai menjaga jarak dengan Syifa,"
Batin hati Dhea perih,melihat kenyataan yang ada.
Kini gelisah hatinya hadir menyiksanya.
Tapi kekuatan cintanya menepis semua gegana
yang ada.
Biarkan hati bicara,katakan semua rasa kita
hentikanlah kebisuan membohongi kita.
Biar hati yang berjanji tentang rasa cinta kita
tulus dari hati.
Dan hati tak mungkin bisa berdusta.
Hati Dhea terus bersenandung cinta.
Dan Dhea meluruskan pinggangnya sambil memejamkan matanya.
Dan telinganya terus mendengarkan obrolan Syifa dengan abinya.
πΊπΊπΊ Sampai di sini dulu kakak ...πΊπΊπΊ
Jumpa lagi di episode selanjutnya.
Terimakasih atas dukungannya.πππ
Dan mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisaannya.π
__ADS_1