
Jangan sedih.
Karena Tuhan mengirimkan harapan,disaat-saat
yang paling putus asa.
Hidup itu terus berjalan.
Bersamaan dengan waktu yang terus berputar.
Hari-hari yang pasangan itu lalui,tak lepas dari
tatapan demi tatapan penuh pengawasan sang bapak.
Namun semua itu tak mempengaruhi keputusan
seorang Anajib. Yang memilih tinggal bersama anak dan istrinya. Dari pada tinggal di pondok,
seperti harapan sang bapak agar lebih fokus dalam pengabdiannya pada pondok.
Dan ada harapan lain,semoga Anajib dan Ashofa
semakin dekat. Walaupun Anajib sudah memiliki
istri Dhea.
"Toh dalam Islam seorang laki-laki diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu?"
Yang penting ia mampu dan bisa berbuat adil pada istrinya.
Begitulah isi hati dari sang bapak.
Karena beliau masih berharap Ashofa putri sang kyai atau sang ustadz Maliki,pemilik pondok pesantren di mana Anajib jadi salah satu pendidik
di sana.
Saat matahari mulai condong kebarat,bersamaan itu motor Dhea menepi di teras rumah joglo nan luas itu. Nampak moge suaminya sudah terparkir.
Dhea menghela nafas lega karena sang belahan jiwa sudah pulang.
Namun sampai ia melepas helm dan jaketnya.
Pemilik tubuh tinggi itu tak nampak,dan dimana
Syifa,bidadari kecilnya juga tak menyambutnya.
Setelah ia menyimpan helmnya,kini Dhea melangkah masuk rumah sambil mengucap salam.
Hening tak ada yang menjawab salamnya.
Lalu Dhea melangkah menuju kamarnya,namun kini ia menahan langkahnya saat terdengar suara Syifa yang rewel.
"Abi,aku pengen sepeda seperti punya Riri..!"
Rengek Syifa.
'Ya sayang,Syifa nabung dulu,baru nanti beli sepedanya!"
Terdengar suara abinya memberi pemahaman.
Mendengar rengekan Syifa sebenarnya hati Dhea
terluka. Ada uang tabungan mereka tapi itu untuk persiapan persalinannya.
Honor Anajib sang suami,memang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Nominalnya sangatlah jauh berbeda ketika Anajib menjadi 'Asdos' waktu di Mesir. Tapi Anajib memilih pulang ke Indonesia
setelah menyelesaikan study nya.
Dan memilih mengabdikan ilmunya di pondok.
Semua ia lakukan juga demi istri dan anaknya.
Semua itu semakin menambah rasa kecewa bapaknya.
"Demi Dhea?"
"Semua demi Dhea?"
Itu amarah beliau di suatu hari.
Kini Dhea mengetuk pintu kamarnya.
Tak lama pintu itu terbuka,Syifa langsung berlari
memeluknya.
"Umi,aku pengen sepeda seperti Riri..!"
Kini Syifa kembali merengek padanya.
"Oke sayang,Insya Allah ya,bila uangnya sudah cukup nanti beli sama abi!"
Jawab Dhea sambil melirik sang abi.
Dhea melihat Anajib yang sudah berbaring.
"Tak seperti biasanya."
Bisik Dhea sambil mendekat.
Kini ia duduk ditepi ranjang,lalu bertanya pada suaminya.
"Abi kenapa?"
__ADS_1
Tanya Dhea sambil menatap Anajib yang terus berbaring. Tangan Dhea menyentuh kening suaminya.
"Abi badanmu panas,kamu sakit bi..?"
Bisik Dhea sambil terus memeluk tubuh suaminya.
Anajib nampak tersenyum.
"Aku nggak papa,sayang."
Jawabnya sambil menatap Dhea dan tangannya sambil mengelus perut besar Dhea.
"Tapi badan abi panas."
Kata Dhea mulai cemas kini Dhea malah merasa
bersalah,sepertinya suaminya kelelahan karena perjalanan dari kota kecil ke pondok butuh waktu dua jam untuk laju motor sedang, jadi pulang pergi empat jam perjalanan itu pikirnya.
Syifa ikut-ikutan tangan kecilnya menyentuh dahi sang abi.
"Abi sakit yaaa umi?"
Tanyanya pada sang umi.
Dhea hanya mengangguk.
"Oke Syifa jaga abi ya,umi mo mandi."
Pesan Dhea pada anaknya sambil melangkah pergi
untuk mandi.
Melihat sang umi mandi.
Syifa memilih keluar kamar dia mo ke eyang putri katanya pada sang abi,lalu langkah kecilnya meninggalkan abinya.
"Eyang..., eyangg..."
Suara Syifa terus memanggil eyangnya.
Hanya hitungan detik kedua eyangnya mendekat.
Nampak eyang kakung hanya berdiri dan menatap tajam.
Berbeda dengan eyang putrinya kini yang mendekat.
"Sayang,kalau memanggil eyang tidak perlu teriak.!"
Kata beliau sambil menuntun Syifa untuk duduk.
"Ada apa?"
Lanjut eyang putrinya,bertanya pelan pada Syifa.
Jawabnya polos.
Seketika kedua eyangnya saling tatap.
Lalu eyang putri Syifa buru-buru melangkah
menuju kamar Anajib.
Perlahan beliau ketuk pintu kamar.
Nampak wajah Dhea kaget melihat ibu mertuanya
berdiri penuh tanda tanya.
"Boleh ibu masuk?"
Tanya beliau pada Dhea.
Dan Dhea langsung membuka lebar pintu kamarnya.
Kini sang ibu mertua masuk kamar, langsung
menghampiri Anajib yang berbaring diranjang.
"Kamu sakit apa mas?"
Tanya beliau,sambil duduk ditepi ranjang.
Anajib melirik sekilas ke Dhea yang duduk diujung ranjang.Tak ingin istrinya semakin disalahkan kini
Anajib bangun dari posisi berbaringnya dan berusaha duduk menyandar.
"Nggak sakit bu,cuma ingin rebahan saja!"
Katanya pada sang ibu.
Tapi sayang,ibunya tak langsung percaya begitu
saja, kini nampak Tangan beliau mengecek suhu
badan Anajib,dan wajah itu sangat kaget.
"Ajak suamimu,berobat!"
kata beliau pada sang mantu.
"Baik,bu.."
Jawab Dhea tak berani membantah.
__ADS_1
Lalu beliau berlalu dan melangkah pergi keluar
kamar.
Kini Dhea malah merasakan perutnya terasa kencang dan pinggangnya terasa sakit.
Dhea mengelus perutnya dan menarik nafas.
"Auhhh uhh."
Dhea seperti terlihat menahan sakit.
Melihat orang yang ia cintai menahan rasa sakit Anajib langsung mengelus-elus perut besar istrinya. Dia tak tahu kalau istrinya mengalami kontraksi.
"Umi,apa sudah saatnya bersalin?"
Tanya Anajib sambil terus mengelus-elus perut Dhea. Kini wajah ganteng itu nampak panik dan bercucuran keringat.
Melihat suaminya yang grogi,Dhea terus berusaha kuat menahan rasa sakit itu.
"Abi ayo antar umi sekarang kebidan!"
kata Dhea sambil menunjuk tas yang memang sudah ia siapkan,Ia sudah pengalaman melahirkan Syifa tanpa hadirnya Anajib di sisinya.
Akhirnya Anajib ssgera membawa Dhea ke bidan.
Setahu ibu dan bapaknya mereka pergi untuk berobat Anajib.
Mobil itu melaju perlahan.
Dhea kini mencengkram lengan orang yang di sampingnya.
Ada rasa perih yang Anajib rasakan.
Namun ia tahan dan tetap biarkan Dhea terus mencengkram lengannya.
Suasana jalan raya mulai sepi memudahkan Anajib
melajukan mobilnya.
Dan Akhirnya mobil Avanza merah itu menepi.
Buru-buru Anajib memapah Dhea.
Baru kali ini pemilik wajah ganteng itu merasakan
detak jantungnya berdetak tak karuan.
Keringat terus bercucuran membasahi wajah gantengnya. Setelah memapah Dhea untuk duduk di ruang tunggu. Kini tubuh tinggi itu nampak panik mendafar. Melihat kondisi Dhea para perawat itu membawa kursi roda dan membawa Dhea ke sebuah ruang siap bersalin.
Anajib melangkah tak mau ketinggalan.
Tak ingin ia membiarkan Dhea berjuang sendiri.
Dhea terus mencengkram lengan Anajib.
Sungguh tak tega hati seorang Anajib menyaksikan belahan jiwanya mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan buah hatinya.
"Uuhw...uuhwww..!"
Suara Dhea dalam bimbingan bu bidan.
"Ayoo bu .., Tarik nafas..!"
kalimat itu terus terdengar berulang-ulang.
Entah sudah berapa kali jarum jam itu terus berputar. Bak bumi yang terus berputar pada porosnya.
Begitu juga lisan Anajib tak sedetik pun terhenti
selalu memanjatkan doa untuk kelancaran persalinan Dhea.
Setelah melewati proses pembukaan demi pembukaan,dan akhirnya suara tangis bayi itu
begitu indah terdengar.
Air mata itu menetes membasahi jenggotnya.
Bibirnya terus merangkai doa.
Menyambut buah hatinya yang siap menyongsong
hari esok bersama.
Anajib mencium sayang kening Dhea yang basah oleh keringatnya.
Terimakasih sayang,atas perjuangannya.
bisiknya ditelinga Dhea.
Dan kini ia melangkah memeluk bayi merah itu,
siap untuk membisikkan adzan di telinga putranya.
Lengan kekar itu kini penuh luka,begitulah sebuah kebahagiaan kadang berdampingan dengan goresan luka.
Memang Tuhan menciptakan segalanya dengan sempurna.
***
๐บSekian dulu kakak,sampai jumpa di episode selanjutnya..๐บ
Dan terimakasih atas hadir dan dukungannya.
__ADS_1
Mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisannya ๐๐๐