Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Simalakama


__ADS_3

Melati merasa geli, karena ia tidak bisa membayangkan tentang hal itu.


Walaupun ia adalah seorang janda, tetapi ia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak ia cintai.


Namun, saat ini adalah permasalahan tentang kedua orang tuanya. Ia tidak ingin mereka sampai masuk ke dalam jeruji besi.


Karena kedua orang tua Melati, adalah belahan jiwa baginya. Selain mereka, tidak ada lagi yang bisa menjadi tempat berlabuh hatinya.


‘Aku gak bisa ngeliat mereka masuk penjara, tapi aku juga gak mau nikah sama orang tau itu,’ batin Melati, merasa sangat bingung memikirkannya.


Pandangannya kosong, suara golakan air seakan tidak terdengar di telinganya. Padahal air tersebut sudah hampir kering, tetapi Melati belum mendengar air tersebut.


Per sekian detik kemudian Melati tersadar dari lamunannya. Ia memandang ke arah alir yang sudah nampak kering, sehingga air yang ia takar seukuran cangkir kecil, hanya tinggal seperempatnya saja.


“Ah!” gumamnya yang merasa terkejut menyadarinya.


Buru-buru Melati memutar pemantik kompor, dan mengangkat alir tersebut.


Ia mendelik tak percaya, karena ia hampir saja mendapatkan musibah yang bisa membuatnya kehilangan rumah satu-satunya, milik orang tuanya ini.

__ADS_1


Napasnya mencekat, tangannya mengelus dada, ia merasa sangat bersyukur karena sudah terhindar dari musibah seperti itu.


“Hampir aja ....” Melati menghela napasnya dengan kasar, saking tidak bisa bernapas karena melihat musibah ini.


Melati kapok, dan tidak akan pernah melakukan lagi, hal yang ia lakukan tadi, saat ia memasak air.


“Gak lagi-lagi, deh!” gumamnya, yang lalu segera mengambil cangkir tersebut, dan mengurungkan niatnya untuk membuat minuman teh manis untuknya sendiri.


Melati melangkah keluar ruangan dapur, dan menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sosok yang sangat membuatnya geli itu.


Ya, Pak Sodik.


GLEK!


Melati menelan salivanya, merasa sangat tertekan melihat sosok lelaki tua yang ada di hadapannya itu.


Memang benar, saat ini sudah waktunya Melati memberikan jawaban dari opsi yang diberikan olehnya. Melati saja sampai lupa waktu, saking terlalu dalam ia memikirkan masalah ini.


Malam ini, Pak Sodik sudah datang untuk meminta jawaban pada Melati. Ia tersenyum sumringah, sampai tidak luntur senyumannya sejak pertama melihat Melati di hadapannya.

__ADS_1


“Selamat malam, Melati. Apa kabar hari ini?” sapa Pak Sodik, membuat Melati merasa semakin kesal melihatnya.


Memikirkannya saja sudah membuatnya kesal, apalagi melihatnya. Itu sudah membuatnya muak.


Melati hanya mengangguk, ketika mendengar pertanyaan dan sapaan dari Pak Sodik. Ia lalu mendekati kedua orang tuanya, dan duduk di sebelah mereka.


“Melati ... kamu habis ngapain?” tanya Bapaknya.


“Habis bikin minuman, tapi gak jadi,” jawab Melati, membuat mereka mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka saling memandang satu sama lain, membuat Melati semakin muak saja melihat ke arah Pak Sodik.


Pak Sodik tersenyum melihat calon istrinya itu, “Bagaimana Melati? Apa kamu sudah menentukan jawaban, dari opsi yang sudah saya berikan kemarin?” tanyanya, menagih jawaban dari pertanyaannya kepada Melati.


Melati mendelik tegang, saking bingungnya ia mendengar ucapan Pak Sodik. Matanya melirik ke arah Ibu Bapak, berharap ada sebuah harapan yang bisa membuat mereka kembali bersama Melati, tanpa harus mengorbankan dirinya.


Namun, yang Melati lihat dari mereka adalah tatapan yang suram, yang mereka sendiri pun sebenarnya sangat membutuhkan bantuan Melati.


Seperti buah simalakama.

__ADS_1


__ADS_2