
Kepergian Marvel dari rumah Melati, membuat hatinya terasa sangat sakit. Rasanya, ia tidak ingin sampai ada hal seperti ini, terjadi dalam hubungannya dengan Melati.
Namun apa daya, Marvel tidak bisa mengubah keadaan dengan memutar waktunya. Ia juga tidak bisa mengubahnya dengan cara meminta maaf kepada Melati.
Kini, ia hanya pasrah, bergantung pada keadaan yang saat ini membuatnya jatuh dan terpuruk.
Dilangkahkan kakinya ke arah ruang tamu kediamannya. Di sana, sudah ada banyak sekali orang yang menunggu, membuat Marvel mendelik kaget melihat keberadaan mereka.
Mereka memandanginya seperti saat itu, saat hendak menindak kasus dan kesalahan yang ia lakukan.
Semua mata menatap ke arah Marvel, membuat Marvel menghela napasnya dengan panjang.
Saat ini, tak hanya ada keluarganya, tetapi juga ada Laura di sana. Hal itu membuat Marvel semakin bingung harus berbuat apa.
Marvel memandang ke arah mereka dengan datar, “Ada apa, ini?” tanyanya yang berpura-pura tidak mengerti dengan keadaan ini.
__ADS_1
Padahal, Marvel sudah mengetahui, dirinya pasti akan dicecar habis-habisan, karena mereka pasti sudah tahu ke mana tujuan Marvel pergi tadi.
“Kamu mau bicara sambil berdiri?” tanya Ayahnya, mengulangi ucapannya kala itu.
Marvel memang terkadang lupa akan sopan santunnya. Apalagi kalau suasananya sudah lebih dulu mencekam dari sebelumnya.
Marvel pun duduk di hadapan mereka, dengan mata tajam mereka memandang ke arahnya, seperti sedang menghakiminya dengan sinis.
“Kamu tahu, salah kamu apa?” tanya Ayahnya, Marvel memandangnya dengan datar.
“Kamu sudah bikin Papa malu tau, gak! Mengejar seorang janda, kamu sampai melakukan trik konyol dengan melakukan penyamaran di kantor!” bentaknya, sontak membuat Marvel mendelik kaget mendengarnya.
Tatapannya ia alihkan ke arah Marcel, karena hanya ia yang mengetahui semuanya di kantor, selain Andre.
‘Pasti dia! Sialan memang!’ batin Marvel yang merasa sangat kesal dengan sifat Marcel, yang selalu membuat keonaran.
__ADS_1
“Kamu tahu, di kantor kerjaan kamu gak terurus? Kamu malah ngurusin janda yang gak jelas, sementara kerjaan kamu dilimpahkan sama Andre!” bentak Ayahnya, membuat Marvel memandang ke arahnya kembali.
Ini memang salahnya, karena obsesinya terlalu besar kepada Melati. Ia sampai membuat pekerjaannya terbengkalai, hanya karena mengubah jati dirinya menjadi seorang office boy.
Tak disangka, hal itu ternyata tercium juga oleh Ayahnya, membuatnya merasa kesal dengan orang yang ia curigai telah membeberkan rahasia ini pada Ayahnya.
“Marvel salah, Pah. Tapi ... Melati sama sekali gak salah. Jangan hukum kami dengan cara yang seperti ini. Kasih kami kesempatan, untuk menjalani cinta kami ini!” ujar Marvel, sontak membuat Ayahnya tak terima.
Matanya mendelik, “Apa-apaan kamu? Sudah ada Laura di sini, kamu masih membahas soal cinta bulshit kamu sama si janda mandul itu?!” pekiknya, yang merasa sangat marah dengan anak sulungnya itu.
Marvel tidak peduli soal perasaan Laura, yang kini berada di hadapannya. Yang ia pedulikan, hanyalah rasa cintanya terhadap Melati, yang saat ini nasibnya sedang di ujung tanduk.
Marvel memandang ke arah Laura, yang saat ini memandangnya dengan tatapan yang sinis.
“Laura? Memangnya siapa dia? Kenapa kalau saya ngomong soal Melati di hadapannya?” tanya Marvel dengan ketus, membuat Laura mendelik kaget mendengarnya.
__ADS_1
Laura tidak menyangka, kalau ternyata Marvel benar-benar tidak memedulikan soal hati dan perasaannya. Hal itu membuat Laura menjadi sangat kesal mendengarnya.