Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Teman Baru


__ADS_3

Sementara itu, Marcel hanya bisa memandangnya dengan sinis, tak terima dipermalukan di hadapan umum seperti ini oleh Marvel.


“Kalian berdua, silakan duduk di tempat yang masih tersedia,” suruh Marvel, Melati pun mengedarkan pandangannya ke arah kursi yang masih kosong tersebut.


Melati berjalan ke arah tempat yang ia lihat, begitu pun Marcel. Ia mendapatkan kursi yang agak jauh dari Melati, sehingga ia tidak bisa berbincang bersama dengan Melati selama acara ini berlangsung.


Melati duduk di sebelah seorang wanita, yang baru pertama kali ia jumpai itu. Karena tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun, Melati pun menundukkan pandangan setelah sampai pada kursi sebelah wanita itu.


Wanita itu pun ternyata merespon baik kedatangan Melati, bahkan memberikannya ruang agar Melati bisa dengan mudahnya duduk di kursi kosong yang berada di sebelahnya.


“Silakan, Mbak!” ucap wanita itu dengan sangat sopan, membuat Melati menyadari bahwa tidak semua orang di ruangan ini yang membenci dirinya sepenuhnya.


Melati tersenyum di hadapannya, “Terima kasih, Mbak!” ucapnya yang merasa senang bisa bertemu dengan wanita yang sangat baik itu.


Wanita itu menyodorkan tangannya ke arah Melati, “Saya Sasha, Mbak. Nama Mbak Melati ‘kan ya?” ujarnya, yang memang sudah kenal dengan Melati, karena ia mendengar Melati menyebutkan namanya saat Melati berada di depan sana tadi.


“Halo, Sasha! Iya, nama saya Melati. Salam kenal, yah!” ujarnya sembari menjabat tangan Sasha.


Mereka saling melemparkan senyuman, menimbulkan kenyamanan di antara mereka. Setelah dirasa cukup, mereka pun saling melepaskan tangan mereka.


“Usia berapa, Mbak Sasha?” tanya Melati.


“25 tahun, Mbak!” jawabnya, membuat Melati tersenyum malu mendengarnya.


“Wah ... masih muda. Saya udah 28.”


Sasha menyeringai kecil, “Wah ... berarti Mbak Melati jangan panggil saya dengan sebutan Mbak. Justru saya yang harus manggil Mbak Melati pake kata Mbak,” ucapnya yang sangat antusias berbicara dengan Melati.


“Wah ... bener juga kamu, Sha! Jadi merasa tua nih aku,” ucap Melati, dengan sedikit tawa yang masih tertahan.

__ADS_1


“Ah, usia hanya angka, Mbak. Nanti juga kita ngerasain yang namanya tua itu gimana.” Sasha terdengar sangat dewasa bagi Melati.


Mendengar ucapan Sasha itu, Melati menjadi agak diam, karena memikirkan sesuatu.


‘Aku aja udah tua, ya? Gimana Ibu sama Bapak? Aku belum bisa bikin mereka bahagia, belum juga ngasih mereka cucu. Kasihan mereka, kalau belum bisa merasakan itu semua,’ batin Melati, yang malah takut memikirkan orang tuanya yang sudah beranjak tua itu.


“Mbak di sini jadi apa?” tanya Sasha.


“Sekretaris, Sha.”


Sasha memandangnya dengan sangat senang, “Wih ... aku punya teman sekretaris! Hebat banget! Padahal aku aja di sini cuma jadi office girl!” gumamnya yang memang sangat senang bisa berteman dengan Melati.


Melati agak tersipu mendengarnya, “Hebat gimana, Sha?” tanyanya kebingungan.


“Hebat, karena gak banyak orang yang bisa dapetin posisi itu. Mbak Melati pasti pinter banget, jadi dapat posisi itu! Tau, gak? Aku seneng banget bisa temenan sama orang yang pintar! Bisa sharing tentang hal yang sama sekali gak aku tau!” ucapnya berterus-terang kepada Melati.


“Asik, hari pertama kerja dapat temen!” gumam Sasha yang memang sangat ekstrovert dengan lingkungannya, berbeda dengan Melati yang introvert.


Marvel yang sedang menerangkan tentang materi hari ini, menjadi sangat terganggu dengan ucapan mereka yang bahkan terdengar sampai ke depan mimbar. Lagi-lagi, Marvel menyadari kalau yang berbicara sejak tadi adalah Melati.


‘Kenapa Melati harus banyak banget skandalnya, sih?’ batin Marvel, yang merasa sangat bingung harus bersikap seperti apa di hadapan Melati yang melenceng dengan harapannya.


“Yang belakang, tolong diam sedikit!” pekik Marvel sedikit kuat, membuat semua orang menoleh ke arah yang Marvel pandang.


Lagi-lagi itu adalah Melati yang membuat onar. Orang-orang yang memang sejak tadi tidak menyukainya, malah berusaha untuk lebih menjatuhkan Melati di hadapan Marvel.


Seseorang datang di hadapan Melati dengan wajah yang sinis, “Mau saya keluarkan kedua orang ini, Pak?” tawar staf lama, yang berusaha untuk mencari muka di hadapan Marvel.


Melati dan Sasha menjadi sedikit takut, karena mereka yang tidak sadar sudah berbicara dengan cukup keras, sampai Marvel yang berada di depan saja mendengar apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


“Maaf, Pak! Jangan usir kami dari sini,” ujar Melati, berusaha untuk meminta maaf kepada staf lama tersebut.


Marvel menghela napasnya dengan kasar, ‘Lagi-lagi harus ada staf lama yang berusaha ingin menjilat,’ batinnya yang sudah mengerti dengan sikap staf lama yang ingin mengusir Melati dari sana.


“Tidak perlu. Saya hanya mau menegur Melati sendiri. Cukup saya, dan jangan sampai ada orang lain yang ikut menegur. Lagipula, ini permasalahan kecil, tidak perlu sampai mengusir mereka dari aula ini,” tolak Marvel, membuat staf lama tersebut kesal dan semakin membenci Melati saja.


‘Duh ... awas kau Melati! Aku kasih pelajaran nanti!’ batinnya yang merasa sangat tidak bisa terima ditegur seperti itu oleh Marvel, karena seseorang yang sangat tidak ia sukai.


“Mari kita lanjutkan acara ini. Saya mohon, jangan ada orang yang mengganggu lagi jalannya acara ini,” ucap Marvel, yang berusaha mengingatkan tentang hal ini lebih dulu kepada mereka.


Acara pun dilanjutkan kembali, dengan Melati dan Sasha yang lebih bisa menjaga sikap mereka, saat materi berlangsung.


***


Acara penyambutan karyawan baru kali ini, telah usai dengan meriah. Acara ditutup dengan makan siang, yang sudah disiapkan oleh pihak kantor. Acara makan siang ini juga sekaligus acara penyambutan CEO baru, yang baru saja menjabat kemarin di kantor ini.


Ini adalah inisiatif Marvel dan juga para kepala tim. Mereka sudah lama sekali tidak merasakan makan bersama, sejak pergantian CEO yang lalu. Hal itu yang membuat mereka rindu, dan ingin kembali menggelar makan siang bersama dengan para karyawan yang masih bertahan di perusahaan ini.


Melati mengedarkan pandangannya ke arah ruangan aula yang cukup besar ini. Ia melihat banyak sekali orang yang mengantre, untuk mengambil makanan yang sudah tersedia di tempatnya.


Sasha memandangnya dengan senyuman, “Mbak Melati, ayo kita ambil makan siang! Aku udah laper banget,” ajaknya dengan penuh semangat, Melati hanya diam saja sembari memandangnya dengan tatapan tak enak.


“Emm ... ngambil makan siang?” tanya Melati yang tidak yakin dengan hal itu.


“Iya, makan siang,” jawab Sasha dengan sangat polos.


Melati terdiam sejenak, karena ia masih ingat dengan bekal makan siang yang sudah Ibu siapkan untuknya.


‘Kalau aku makan di sini, bekal makan siang yang udah Ibu siapin dari subuh, gak akan kemakan, dong?’ batin Melati, yang merasa sangat bimbang dengan keadaan.

__ADS_1


__ADS_2