
Marcel tersadar dari lamunannya, kemudian menahan tangan Melati kembali. Kini, mereka saling berhadapan kembali seperti tadi, dengan tatapan Marcel yang sangat tajam ke arah mata Melati.
“Paling enggak, ucapin terima kasih karena udah gue tolong tadi!”
Melati meremehkan Marcel di hadapannya, “So, Pak Marcel gak benar-benar tulus nolong saya tadi?” tanyanya, membuat Marcel tak bisa menjawab pertanyaannya.
Memang itu adalah tujuan Marcel, yang ingin mendekati siapa saja yang ia inginkan. Sebelum mengetahui sikap dan sifat Melati, Marcel pada awalnya sangat ingin memanfaatkan keadaan, dengan mendekati Melati setelah ia menolongnya. Marcel berpikir, Melati adalah tipe wanita yang sama seperti para wanita lainnya yang sudah ia dekati. Ia berpikir, kalau Melati bisa dengan mudahnya luluh, hanya karena mendengar kenyataan tentang Marcel yang merupakan anak dari pemilik kantor yang menaungi Melati ini.
Namun ternyata, kenyataan tidak seindah ekspetasinya. Melati sama sekali tidak tertarik, walaupun ia mengetahui Marcel adalah putra dari pemilik kantor ini. Ia malah mengatakan hal yang bisa membuat Marcel tak habis pikir jadinya.
“G-gue tulus nolong lo, tapi masa lo gak mau sama sekali ngucapin terima kasih ke gue, sih?” bantahnya dengan gugup, membuat Melati tersenyum manis di hadapannya.
“Terima kasih, Pak Marcel! Berkat Bapak, para satpam itu jadi gak berani lagi melecehkan saya,” ucap Melati dengan sangat tulus, tetapi Marcel malah menganggap kalau ucapan Melati hanya untuk meledeknya saja.
“Lo ngeledek gue, ya?” tanya sinis Marcel, yang membuat Melati sampai menghela napasnya dengan kasar.
Pemikiran Marcel yang sempit, sangat membuat Melati tidak bisa berkata-kata lagi. Ia merasa apa saja yang ia lakukan dan katakan, sangat tidak masuk di pikiran dan nalar Marcel.
“Bapak kena penyakit jiwa bipolar disorder, ya?” tanya Melati dengan tegas, sontak membuat Marcel mendelik tak percaya dengan apa yang menjadi ucapannya itu.
“Berani banget lo ngatain gue?!” pekiknya kesal, sampai semua orang yang ada di sana menoleh ke arah mereka.
Marvel masih memperhatikan mereka dari kejauhan, karena ternyata sikap Melati yang seperti itu di hadapan Marcel. Ia jadi paham, sikap Melati yang tidak mudah dihardik oleh atasannya sekalipun.
‘Dia ternyata gak gila hormat. Dia juga gak memanfaatkan kedudukan dan status Marcel, buat bikin masalah di kantor ini,’ batin Marvel, yang merasa sedikit lega dengan sikap dan sifat bawaan dari Melati.
Marcel mendelik kesal ke arah mereka, “Ngapain lo pada ngeliatin gue?!” pekiknya sinis, membuat semua orang kembali kepada aktivitasnya masing-masing.
__ADS_1
Mereka masih belum mengetahui kedudukan dan status Marcel. Oleh karena itu, mereka jadi sinis ke arah Marcel. Karena Marcel tidak mudah ditindas seperti Melati, mereka jadi tidak banyak bicara, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tatapan mereka melontarkan rasa sinis pada Marcel.
Melihat mereka yang terus memperhatikan dirinya dengan sinis, Melati semakin tidak suka dengan keadaan ini. Ia merasa harus secepatnya pergi jauh dari Marcel, agar mereka tidak membicarakannya lagi.
“Lepasin saya, Pak!” pinta Melati dengan tegas, tetapi Marcel memandangnya tak kalah tegas.
“Gak! Gue gak akan lepasin lo!” bentaknya, membuat Melati tak tahan dengan sikap otoriternya itu.
“Lepasin, atau saya akan teriak?” ancam Melati, Marcel tertawa mendengar ancamannya itu.
“Lo ngancem gue? Lo yang cuma sekretaris di kantor ini, ngancem gue yang adalah anak dari pemilik kantor ini? Baru kali ini gue nemu cewek yang berani kayak lo!”
Melati hanya bisa sabar mendengar ucapan Marcel, yang menurutnya cukup masuk akal. Ia tidak memiliki kebijakan apa pun, menyangkut hal ancam mengancam. Apalagi yang ia ancam, adalah anak dari pemilik kantor tempat ia bekerja.
Dengan sangat terpaksa, Melati harus merendah di hadapan Marcel, agar Marcel tidak menambah ricuh suasana yang ada.
“Jadi saya harus apa sekarang?” tanya Melati yang benar-benar sudah mengalah di hadapan Marcel.
Marvel yang masih memperhatikan mereka, mendadak bingung karena melihat Marcel yang menyodorkan handphone ke arah Melati.
‘Kenapa dia ngasi handphone-nya ke Melati?’ batin Marvel bertanya-tanya.
Tak hanya Marvel, Melati pun bertanya-tanya dengan dirinya sendiri tentang hal yang dilakukan Marcel itu.
Melati memandang ke arah handphone tersebut, kemudian memandang kembali ke arah wajah Marcel.
“Apa maksudnya?” tanya Melati yang benar-benar tidak mengetahui arti dari yang Marcel maksudkan.
__ADS_1
“Masukin nomor lo di kontak HP gue!” jawabnya ketus, membuat Melati merasa enggan melakukannya.
“Ih, gak mau!” ketus Melati, membuat Marcel kembali mendelik mendengarnya.
“Baru kali ini gue ditolak minta nomor cewek! Baru sama lo gue ditolak begini!” gumamnya, membuat Melati menyunggingkan senyumannya di hadapan Marcel.
“Bagus, deh! Anggap aja pengalaman,” gumam Melati, yang masih terdengar jelas oleh Marcel.
Hal itu yang memicu amarah Marcel, karena ucapan asal Melati itu.
“Masukin nomor lo, atau gak akan gue lepasin tangan lo, sampai jam pulang kantor!” ancam Marcel, sontak membuat Melati ketakutan mendengarnya.
Ancaman demi ancaman, membuat Melati semakin muak saja dengan sikap Marcel. Ia memandang sinis Marcel, dan mengutuk Marcel diam-diam di hatinya.
‘Kalau bukan karena dia anak Pak Davies, gak akan aku mau nurut sama yang dia bilang! Aku sumpahin dapet cewek yang sama posesifnya, otoriternya, bipolar disordernya kayak dia!’ batin Melati, yang mengutuk Marcel dalam hati.
Dengan terpaksa, Melati mengambil handphone yang sudah sejak tadi disodorkan Marcel, kemudian memasukkan nomor teleponnya ke dalam kontak handphone Marcel. Hal itu membuat Marcel senang, dan menyunggingkan senyumannya di hadapan Melati.
Sebaliknya, hal itu justru sangat membuat Marvel geram. Ia memandang sinis ke arah Marcel, dan merasa kalah start oleh adiknya sendiri.
‘Marcel! Kenapa dia malah ngedeketin Melati?’ batin Marvel, yang tidak bisa menerima kenyataan ini.
“Pak Marvel,” panggil Andre, yang tiba-tiba saja datang di hadapan Marvel.
Marvel yang sedang memperhatikan Melati dan Marcel, mendadak mengalihkan fokus ke arah Andre yang sudah berada di hadapannya saat ini.
Andre sangat menyadari, kalau Marvel kini sedang memperhatikan Melati dari kejauhan. Hal yang tidak ia sangka, ternyata Melati sedang berbincang dengan Marcel, sampai bersentuhan langsung seperti itu. Andre menyimak ekspresi wajah Marvel, yang sepertinya sedang dilanda rasa cemburu.
__ADS_1
“Cie ... ternyata lagi perhatiin sang pujaan hati!” ledek Andre, membuat Marvel bertambah tidak mood saja jadinya.
“Sudahlah, Ndre! Saya lagi gak mau bercanda!” ujarnya, yang merasa sudah sangat kesal karena melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.