Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Perasaan Yang Tak Bisa Dipaksakan


__ADS_3

Cinta ... betapa hati ingin memiliki, tetap takdirlah yang akan menentukan, ke mana langkahmu akan terhenti, perasaanmu akan berlabuh, cinta tetap akan karam jika ia tak bertuan.


Sedih, sendu, kesal, gundah-gulana, Marvel rasakan. Napasnya tercekat, sesaat setelah membaca pesan singkat yang Melati kirimkan padanya.


Hati dan perasaannya terobrak-abrik, ketika mengetahui dirinya tak memiliki kesempatan lagi, untuk bersama memintal perasaan kasih dan sayangnya lagi, bersama dengan Melati.


Marvel terdiam, dengan air mata yang terus-menerus keluar dari pelupuknya. Ia tidak bisa membohongi perasaannya, karena ia juga sangat mencintai Melati, walau dengan pertemuan yang singkat ini.


Lagu ‘Jodoh pasti bertemu’ mengiringi setiap tetes air mata, yang masih saja keluar dari pelupuk matanya. Setiap liriknya menggambarkan tentang perasaannya saat ini, dan juga hubungannya dengan Melati.


Matanya ia pejamkan, sembari menyandarkan tubuhnya pada dipan ranjang tidurnya, yang berukuran king bad size.


Suhu ruangan yang dingin, seakan tidak terasa, karena suhu tubuhnya yang sangat panas. Marvel merasa gejolak perasaannya naik turun, hingga ia sendiri tak mampu untuk mengendalikannya.


‘Mel ... apa salah saya benar-benar gak bisa kamu maafkan? Apa alasan kamu menjauhi saya, dan keluar dari perusahaan saya, itu karena kamu ingin menikah dengan lelaki yang kamu maksud?’ batin Marvel sendu, tak bisa menerima semua kenyataan ini.


Sepanjang malam, Marvel hanya memikirkan tentang permasalahan ini. Lagu dari penyanyi bernama Afgan tersebut, tak henti-hentinya diputar, pada latar belakang layar handphone miliknya.


Setiap lirik ia resapi, sampai terus menyentuh hatinya yang sedang rapuh.

__ADS_1


Ah.


Marvel telah kalah oleh keadaan, dan juga orang yang beruntung sudah bisa mendapatkan wanita sebaik Melati.


Napasnya ia hela dengan kasar, saking sempitnya saluran pernapasannya saat ini.


“Andai waktu bisa diputar kembali,” gumamnya, yang merasa sangat kesal dengan keadaan mereka saat ini.


Saking tidak bisa melupakan Melati, Marvel pun terus-menerus melihat pesan singkat yang dikirimkan Melati padanya.


Matanya terkejut, karena foto profil akun Melati, yang sudah berubah menjadi abu-abu.


Betapa sesaknya dada Marvel saat ini, karena ia merasa kalau saat ini adalah batas dari hubungan mereka.


“Ya ... mungkin udah batasnya,” gumam Marvel, yang merasa sudah tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


Handphone-nya berdering, membuat Marvel memperhatikan seketika ke arah handphone-nya.


Harapannya adalah Melati yang menghubunginya, tetapi ternyata ... Laura yang telah menghubunginya.

__ADS_1


Pandangan Marvel seketika berubah masam, ia sebenarnya sangat malas menerima telepon dari Laura.


Marvel menghapus air matanya, “Halo?” sapa Marvel, sesaat setelah menerimanya.


“Halo, Kak Marvel ....” Suara Laura terdengar seperti orang yang sedang menangis.


Marvel mengetahuinya, tetapi ia sama sekali tak menghiraukannya.


“Ada apa?” tanya Marvel datar.


Sejenak, mereka hanya bisa diam. Laura sama sekali tidak menjawab pertanyaan Marvel, sementara Marvel sangat tahu kalau Laura pasti sedang menahan tangisnya.


“Kalau gak mau bicara, saya--”


“Kak!” pangkas Laura, membuat Marvel terdiam mendengarnya. “Jangan dimatiin teleponnya!” ujarnya.


“Lantas mau kamu apa? Ngomong sesuatu gak mau, dimatiin pun gak mau, kamu kenapa senang banget membuang-buang waktu saya, sih?” tanyanya dengan nada yang semakin meninggi, membuat perasaan Laura semakin terluka saja mendengarnya.


“Kak ... bisa bersikap baik gak sih, sama aku?” tanya Laura, Marvel hanya terdiam, tak menghiraukan apa pun yang Laura ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2