Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Perkara Sakit Perut 2


__ADS_3

Marvel menepuk keningnya dengan cukup kencang, ‘Pantesan aja dia agak lama tadi. Kalau air dispenser ‘kan langsung bisa,’ batinnya yang merasa sedikit kaget mendengar ucapan Melati.


“Ya sudahlah gak apa-apa. Lain kali, jangan terlalu panas. Kalaupun mau masak di panci, kamu tambahin air suhu ruangan juga,” ujar Marvel, yang berusaha menahan emosinya di hadapan Melati.


“Iya, maaf ya Pak,” ucap Melati, membuat Marvel terdiam mendengarnya.


Marcel masih berada di tempatnya, membuat Marvel kembali memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan bersama Melati, di hadapan Marcel.


Marvel berdeham sembari kembali memegang perutnya, “Aduh ... masih sakit aja nih perut saya,” gumamnya, membuat Melati merasa sedikit bersalah mendengar ucapannya.


“Aduh ... maaf ya, Pak. Sekarang perut sama lidahnya jadi sakit, gara-gara saya,” gumam Melati, membuat Marvel tersenyum mendengarnya.


“Gak apa-apa, Mel. Tapi saya mau minta tolong lagi sama kamu satu hal,” ucap Marvel, membuat Melati memandang ke arahnya.


Melati memandangnya dengan rasa penasaran, “Memangnya mau minta tolong apa, Pak?” tanyanya.


“Tolong ... temenin saya makan siang. Perut saya sakit banget, kayaknya telat makan deh,” ucap Marvel, membuat Melati terdiam mendengarnya.


Melati benar-benar bingung, karena Marvel yang tiba-tiba saja mengajaknya untuk makan siang bersama. Melati menjadi berpikir keras, mendengar ajakannya itu.


‘Kalau aku tolak, aku gak enak karena dia itu Bos. Kalau aku terima, gak enak sama Pak Marcel kalau nanti dia ngeliat kita makan bareng, gimana? Tadi aku udah nolak dia soalnya,’ batin Melati, merasa sangat bingung untuk menerimanya atau tidak.


“Melati?” panggil Marvel, Melati tersadar dari lamunannya.


“Oh, ya Pak!” gumam Melati, yang terkejut mendengar Marvel memanggilnya.


“Gimana? Kamu mau nemenin saya?” tanya Marvel, membuat Melati semakin bingung harus menjawab seperti apa.

__ADS_1


Marcel memandangnya dengan tatapan sinis, ‘Melati, awas lo Mel kalau sampai mau nerima ajakan Bang Marvel!’ batinnya yang sudah duluan mengancamnya dalam hati.


Melati memandang ke arah Marvel dengan ragu, “Ya sudah, Pak. Bapak mau saya temani makan di mana? Pesan saya, tolong jangan di restoran yang terlalu mewah, karena saya punya pengalaman trauma, dan gak mau lagi makan di resto mewah,” ucap Melati menjelaskan keadaannya, membuat Marvel dan Marcel kaget mendengarnya.


‘Gila, sampai trauma dia makan malam bareng gue?! Harusnya gue yang trauma makan malem bareng dia. Malu-maluin!’ batin Marcel, merasa aneh dengan yang Melati pikirkan.


Marvel memandang bingung ke arah Melati, ‘Yang dia maksud trauma makan di resto mewah, maksudnya waktu makan malam sama Marcel semalam?’ batin Marvel, yang merasa memiliki firasat ke arah sana.


Marvel memandang dalam ke arahnya, “Saya gak makan di resto mewah. Lagipun saya gak suka makan di resto mewah, saya lebih suka makan di tempat yang biasa aja,” ucapnya membuat Melati mengangguk-angguk mendengarnya.


“Oke deh, Pak. Saya izin ke ruangan saya sebentar ya, Pak. Saya mau rapihin meja saya, nanti saya ke sini lagi, Pak,” ucap Melati meminta izin kepada Marvel.


“Gak usah, Mel. Nanti kita ketemu di lobi lantai dasar, ya,” ucap Marvel, membuat Melati tersenyum dan mengangguk mendengarnya.


“Baik, Pak. Saya permisi dulu ya Pak,” ucapnya pamit, meninggalkan ruangan tersebut.


“Gak bisa gitu dong Bang Marvel! Bisa-bisanya mau makan siang bareng Melati!” bentak Marcel dengan emosi yang sangat menggebu-gebu, membuat Marvel memandangnya dengan datar.


Marvel melirik ke arah pintu ruangannya, yang masih belum tertutup dengan rapat. Ia pun kembali memandang ke arah Marcel, dengan tatapan yang mematikan.


“Mana sopan santun kamu? Masuk gak ketuk pintu, datang langsung marah-marah, pintu pun gak ditutup kembali,” ujar Marvel, membuat Marcel kesal mendengarnya.


“Persetan! Ini masalah Melati! Pokoknya Bang Marvel gak boleh makan siang sama dia!” bentak Marcel, yang merasa tidak rela mendengar Melati yang hendak makan siang bersama dengan Marvel.


Marvel memandangnya dengan sebelah alis yang terangkat, “Apa urusannya sama kamu? Saya mau makan dengan Melati, atau dengan siapa pun karyawan di kantor ini, apa hak kamu melarang seorang CEO untuk makan siang bersama karyawannya?” tanya Marvel dengan nada yang sinis, membuat Marcel merasa sangat kesal mendengarnya.


“Ya ... paling enggak jangan makan siang sama Melati, dong! ‘Kan bisa sama karyawan yang lain? Kenapa harus Melati?” sanggah Marcel, yang masih tetap tidak mau menerima kenyataan tersebut.

__ADS_1


Marvel melangkah ke hadapan Marcel, dan berdiri sangat dekat dari telinga Marcel.


“Memangnya kamu siapanya Melati? Pacarnya, kah?” tanya Marvel dengan nada datar, membuat Marcel sedikit gemetar mendengar ucapannya jika sudah seserius ini Marvel berbicara.


“Ya, gue pacarnya Melati!” jawab Marcel dengan tegas, tetapi tidak membuat Marvel percaya begitu saja dengan yang Marcel katakan.


“Mana ada pacar yang membuat pacarnya sampai trauma, karena makan malam dengan dia?” ujar Marvel, sontak membuat Marcel mendelik kaget mendengarnya.


Marvel melangkah mundur dari hadapan Marcel, “Kamu jangan ngaku-ngaku kalau Melati itu pacar kamu. Sebelum kamu masuk ke kantor ini, saya sudah lebih dulu kenal sama Melati. Jangan coba-coba merebut yang sudah saya temui lebih dulu!” ujar Marvel, berusaha mengingatkan kembali kepada Marcel.


Marcel benar-benar tidak bisa menerima perkataan Marvel itu. Tujuannya pun tidak ingin membuat Marvel mendapatkan semuanya yang ia inginkan dengan sempurna. Ia ingin membuktikan, paling tidak dalam urusan ini ia lebih unggul dibandingkan Marvel.


Marcel memandangnya dengan dalam, “Selama dia belum bisa gue dapetin, gue gak akan pernah berhenti buat deketin dia! Pokoknya, gue harus bisa dapetin dia!” ujarnya, membuat Marvel agak gondok mendengar ucapannya yang sangat kukuh dengan pendiriannya itu.


Marvel menggertakkan gigi gerahamnya, ‘Marcel sialan ini! Kenapa dia gak mau nyerah aja, sih? Kenapa juga dia deket sama cewek yang lagi gue incer?’ batinnya yang merasa sangat keberatan dengan yang Marcel lakukan.


“Inget, gue gak akan pernah biarin Melati jatuh ke tangan lo!” bentak Marcel, yang sudah benar-benar tidak bisa membiarkan Melati bersama dengan Marvel.


Marvel memandangnya dengan tajam, “Kenapa? Kenapa dari sekian banyak wanita di kantor ini, kenapa harus Melati?” tanyanya yang merasa sangat kesal dengan Marcel.


Marcel menyunggingkan senyumannya di hadapan kakaknya, “Simpel, karena dia adalah wanita yang lo incar! Lo gak akan pernah dapetin dia, sampai kapan pun!” jawabnya, yang lalu segera pergi dari hadapan Marvel.


Marvel terkejut, karena ternyata di balik usaha Marcel dalam mendekati hati Melati, Marcel juga memiliki tujuan agar dirinya tidak bisa memenangkan apa yang ia inginkan dalam hal wanita.


“Awas saja dia!” gumam Marvel, yang malah semakin kesal mendengar tujuan Marcel dalam mendekati Melati.


***

__ADS_1


__ADS_2