
Marvel tidak bisa berkata-kata, karena ia merasa sangat bingung menjelaskannya. Ia tidak terpikirkan tentang hal itu, karena ia sudah terlalu nyaman menjadi sosok Rusdi yang dicintai Melati.
Namun, benar apa kata Andre, Marvel tidak bisa menyembunyikan hal sebesar ini lebih lama. Akan tetapi, jika Marvel mengatakannya pada Melati, ia mungkin akan membuat Melati menjadi sangat membencinya, karena ia sudah membohonginya selama ini.
Marvel berganti posisi, duduk di sofa yang ada di hadapan Andre. Ia memikirkan hal ini sejenak, lalu memandang ke arah Andre.
“Saya harus gimana? Saya memang gak mungkin menyembunyikan semua ini terus, tapi saya juga gak bisa ngasih tau Melati tentang sosok Rusdi yang sebenarnya. Saya takut, dia gak bisa nerima, dan malah ngejauhin saya gitu aja,” ujar Marvel, membuat Andre memandangnya dengan sinis.
“Apa bedanya dengan kamu yang gak memberitahu kepada Melati, tentang hal ini? Kamu beri tahu ataupun tidak, sama saja menurut saya. Bedanya, jika dia tahu hal itu dari orang lain, kamu yang akan menyesal nantinya!” ujarnya, sontak membuat Marvel mendelik takut mendengarnya.
“Kamu jangan nakut-nakutin saya, Ndre! Lagipula, gak ada yang tahu semua ini, kecuali saya dan kamu, bukan?” ujar Marvel berusaha meyakinkan dirinya dan juga Andre mengenai hal ini.
Andre mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak mengetahui apa yang Marvel katakan.
__ADS_1
“Ah, jangan begitu, Ndre!” ujar Marvel yang sedikit membentak, membuat Andre memandangnya dengan heran.
“Ya memang saya gak tau,” ujar Andre, membuat Marvel merasa sangat bingung harus mengambil keputusan seperti apa.
Marvel terdiam, berusaha untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk hal ini.
‘Saya harus gimana? Kasih tau ini semua sama Melati, atau enggak?’ batin Marvel, yang merasa sangat bingung memikirkannya.
Tujuan mereka adalah rumah makan yang tidak terlalu mewah, tidak juga terlalu sederhana. Marcel memilih restoran ini, karena ia memikirkan Melati yang tidak bisa makan di tempat yang terlalu mewah.
Mereka sudah memesan, tetapi rasa gelisah Melati terus menyelimutinya. Ia tidak bisa makan siang dengan intim seperti ini, dengan lelaki lain selain Rusdi. Ia merasa sangat berbeda, karena sudah terbiasa makan bersama Rusdi, ia sampai tidak ingin makan dengan siapa pun lagi.
Marcel memandangnya dengan dalam, “Lo kenapa gelisah gitu, sih?” tanyanya, Melati memandangnya dengan resah.
__ADS_1
“Sebenarnya Tuan mau ngomong apa, sih? To the point aja, Tuan. Saya gak bisa lama-lama makan siang sama Tuan,” ujarnya, membuat Marcel memandangnya dengan sinis.
“Gue juga gak bisa lama-lama makan siang sama lo! Gue sibuk, gak bisa buang-buang waktu gue, buat hal-hal konyol kayak gini. Tapi, ini semua karena gue kasihan aja sama lo,” ujarnya, sontak membuat Melati kaget mendengarnya.
Mendengar Marcel mengatakan hal seperti itu, Melati merasa sangat kaget. Ia ingin sekali bertanya, apa yang menjadi permasalahan yang menyangkut tentang dirinya, tetapi ia sama sekali tidak bisa melakukan hal seperti itu.
‘Pengen nanya, tapi aku gak bisa nanya. Aku segan,’ batin Melati, yang merasa segan bila bertanya pada Marcel.
Beberapa saat berlalu, makanan sudah tersedia. Melati semakin merasa tidak bisa berlama-lama di sini. Ia memandang tajam ke arah Marcel, yang saat ini sedang bersiap untuk mengambil makanannya.
Melati menelan salivanya, memutuskan untuk bertanya tentang keadaan yang sebenarnya.
“Tuan, memangnya ada apa, ya? Saya beneran penasaran sama yang Tuan ingin katakan,” ujar Melati, yang merasa benar-benar penasaran, tetapi tidak bisa mengulur waktunya lebih lama lagi.
__ADS_1