
“Saya malu, Pak!” ujar Melati, sontak membuat Marcel mendelik kaget mendengarnya.
‘Malu katanya? Selama ini gak ada cewek yang malu kalau tangannya gue gandeng! Apa gue sejelek itu, sampai dia malu pas tangannya gue gandeng?’ batin Marcel, yang sepertinya salah persepsi tentang pemikiran Melati saat ini.
Marcel memandang sinis ke arah Melati, “Gue gak akan lepasin!” bentaknya, membuat Melati bingung dengan keadaannya yang sudah tertekan seperti ini.
Mata-mata jahat semakin terasa memandang ke arah mereka, membuat Melati semakin tak nyaman menjadi pusat perhatian. Semua orang saat ini, seakan sudah sangat membenci Melati. Di hari pertama saja, ia berani terlambat masuk ke kantor, dengan masih memakai sandal japit. Ditambah lagi dengan Marcel yang menggandeng tangannya, semakin menambah kebencian mereka terhadap dirinya.
‘Aduh, kenapa mereka pada ngeliatnya begitu, sih?’ batin Melati, yang sangat tidak nyaman dengan perlakuan Marcel padanya.
“Gue masih punya banyak pertanyaan buat lo!” ujar Marcel, yang masih penasaran dengan sosok Melati dengan lebih dalam.
Melati menelan salivanya, “Ya udah, tapi bisa gak Pak Marcel lepasin tangan saya dulu?” tanya Melati, yang mencoba untuk bernegosiasi dengan Marcel saat ini.
Marcel semakin mendelikkan matanya di hadapan Melati, ‘Apa bener gue sejelek itu? Perasaan, gue gak jelek-jelek amat! Sama Bang Marvel aja, gue gak jauh beda!’ batinnya yang merasa sangat jengkel dengan Melati saat ini.
Karena merasa kesal, Marcel pun melepaskan tangannya dari tangan Melati. Hal itu membuat Melati bisa menghela napasnya dengan benar.
‘Untung aja dia lepasin! Kalau enggak, mungkin semua orang yang ada di aula ini udah ngutuk aku!’ batin Melati yang merasa tenang saat ini.
Marcel masih menagih apa yang menjadi janji Melati. Ia memandang dalam ke arah Melati, dan bersiap untuk melontarkan banyak sekali pertanyaan untuk Melati.
“Gini, lo kerja di sini jadi apa?” tanya Marcel, penasaran dengan jabatan Melati di kantor ini.
__ADS_1
“Saya jadi sekertaris, Pak,” jawab Melati, membuat Marcel memandangnya dengan datar.
“Jangan panggil gue Bapak! Gue masih muda, dan belom jadi Bapak-bapak!” bentaknya, membuat Melati merasa serba salah jadinya.
“Jadi, saya harus panggil apa dong, Pak?” tanya Melati, yang kebingungan memanggil Marcel dengan sebutan apa.
Marcel berusaha mencari jawabannya, “Ya ... apa kek gitu! Bebeb kek, apa kek!” bentaknya, sontak membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.
‘Apa katanya? Bebeb? Bebek maksudnya?’ batinnya bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Melati jadi mengetahui, kalau ternyata Marcel benar-benar ingin mendekatinya dengan cara yang tidak ia sukai. Pemaksaan yang selalu dilakukan Marcel, sangat membuat Melati tidak nyaman.
‘Kalau bukan karena dia anak pemilik kantor, gak akan aku baik-baikin dia. Bukan karena muka dua, tapi lebih ke menjaga kesopanan aja di hadapan putra pemilik kantor,’ batin Melati, yang merasa sedikit terganggu, ketika Marcel mengatakan hal itu kepadanya.
Melati memandangnya dengan dalam, “Maaf Pak Marcel, tapi ... saya gak biasa begitu sama lelaki,” ujarnya, membuat Marcel mendelik kaget mendengarnya.
Mendengar pertanyaan Marcel, Melati hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Hal itu membuat Marcel seketika membeku sesaat.
‘Dia gak punya pacar? Kenapa zaman sekarang dia gak punya pacar?’ batin Marcel yang sedikit tidak percaya dengan yang dikatakan Marcel.
Karena situasi yang sudah sangat menjurus, Melati pun sadar bahwa ia harus segera pergi dari hadapan Marcel.
“Maaf, Pak. Saya harus pergi sekarang,” pamit Melati, yang langsung pergi saja dari hadapan Marcel.
__ADS_1
Marcel tak menerimanya, dan langsung menahan tangan Melati. Alhasil, Melati jadi tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa diam di tempat saja, dengan tangan tertahan.
“Gue ‘kan gak nyuruh lo pergi dari sini! Kenapa lo pergi aja? Emangnya siapa yang ngizinin lo buat pergi?” tanya sinis Marcel, yang sangat otoriter kepada Melati.
Mendengar Marcel yang sangat otoriter, membuat Melati menjadi benar-benar sangat tidak menyukai sikapnya. Melati memandang sinis ke arah Marcel, karena ia benar-benar sudah tidak bisa diam dengan sikap yang Marcel berikan padanya.
“Maaf ya, Pak. Saya beneran gak suka sama sikap Pak Marcel ke saya. Bapak terlalu otoriter, dengan hal-hal di luar SOP yang harus saya jalani di kantor ini. Ini baru hari pertama saya bekerja di sini, gimana nanti saya sudah lama kerja di sini? Mungkin Pak Marcel jadi semakin seenaknya aja sama saya!” ujar Melati, yang benar-benar tidak bisa menerimanya lagi.
Mendengar Melati yang memprotesnya, Marcel juga tidak terima dengan hal itu. Ia mendekat ke arah Melati, merapatkan jarak yang ada di antara mereka.
Sementara itu, dari kejauhan terlihat Marvel yang sedang memperhatikannya, sembari memegang segelas sirup di tangan kanannya. Ia sangat memperhatikan Marcel, yang tiba-tiba saja mendekat ke arah Melati.
‘Kenapa dia tiba-tiba mendekat ke Melati? Kenapa mereka jadi intim begitu?’ batin Marvel yang tidak bisa menerima dengan apa yang ia lihat.
Melati menjadi gusar, karena Marcel yang sangat dekat dengannya. Ia mencoba untuk menjaga jarak, tetapi Marcel menahan tangannya, agar ia tidak bisa melangkah ke mana pun.
“Gue udah bantu lo di pintu masuk tadi. Harusnya, lo berterima kasih sama gue. Paling enggak, lo jangan pernah tunjukkin sikap yang gak enak dipandang gitu di hadapan gue. Seumur hidup gue, gak ada yang pernah begini sama gue. Cewek mana pun, gak ada yang nolak kalau gue gandeng. Baru lo doang yang ngelakuin itu sama gue!” bisiknya, sontak membuat Melati membeku sesaat mendengarnya.
Melati mencoba untuk mencerna apa yang Marcel katakan kepadanya, dan memang benar, seharusnya ia tidak harus mengatakan hal itu pada Marcel. Sekarang, ia sudah memancing amarah Marcel, sehingga membuatnya kesulitan sendiri menghadapinya.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini, Melati harus menanggung semua yang ia lakukan. Ia menegaskan kembali hatinya, dan berusaha untuk bersikap teguh di hadapan Marcel, yang terlalu bersikap otoriter di hadapannya.
Melati memandangnya dengan sinis, “Maaf, Pak Marcel. Itu mungkin mereka, wanita di luar sana yang tidak melakukan hal itu. Beda dengan saya! Bagi saya, menggandeng tanpa seiizin dari saya, itu namanya pelecehan!” ujarnya dengan sangat tegas, sontak membuat Marcel mendelik kaget mendengar perkataan Melati yang tegas.
__ADS_1
Marcel tidak percaya, kalau ada seorang wanita yang bisa mengatakan hal itu kepadanya. Ia merasa sangat tidak memiliki harga diri, di hadapan seorang wanita yang baru saja ia kenal itu.
“Permisi, Pak Marcel!” pamit Melati, yang melepaskan tangannya dari cengkeraman Marcel.