
Ketakutan Melati ternyata tidak terwujud. Saat ia melihat lebih dalam lagi ke arah pintu kaca ruangan tersebut, memang benar tidak ada sama sekali orang di sana. Melati akhirnya bisa menghela napasnya dengan panjang.
“Aman ... gak ada orangnya,” gumam Melati, yang lalu segera melangkah menuju ke arah hadapannya.
Ternyata, ruangan kepala tim terletak di sebelah ruangan manajer. Rekan kerja Melati tidak mengatakan hal itu, sehingga membuat Melati tremor ketika melihat ruangan Martin.
Melati tidak terlalu menghiraukan, karena ia yakin tidak akan bertemu Martin di sini. Mungkin ada sesuatu yang sedang Martin urus, sehingga tidak ada di ruangannya.
Melati mengurus urusannya, untuk mengambil berkas yang ia perlukan. Ia mengerjakannya dengan cepat, bahkan tidak banyak basa-basi dengan ketua tim perusahaan ini.
Setelah menyelesaikan urusannya, Melati keluar dari ruangan tersebut dan segera pergi menuju ke arah lobi kantor tersebut.
Sepanjang jalan matanya selalu memperhatikan, kalau saja di sekitarnya ada Martin, ia pasti akan mengambil ancang-ancang untuk pergi dari sana, secepat mungkin. Namun, sepanjang ia berjalan, ia sama sekali tidak bertemu dengan Martin.
__ADS_1
“Aman ....” Melati mengelus dadanya, sembari mengembuskan napasnya dengan lega.
Berkas yang ia pegang ternyata hampir tercecer, sehingga ia merapikannya sembari berjalan untuk menghemat waktu. Ia membenarkan berkas tersebut, agar tidak tercecer jatuh ke atas lantai.
Nahas, Melati yang niatnya membenarkan berkas tersebut agar tidak tercecer, malah menabrak seseorang yang malah membuat berkasnya berantakan di atas lantai. Matanya mendelik, ketika ia melihat berkas penting tersebut berceceran di lantai.
Melati turun untuk mengambil kertas tersebut yang tercecer, dengan hati yang resah.
“Sorry sorry,” ucap seseorang yang tak sengaja menabrak Melati, sembari membantu Melati untuk mengambilkan kertas yang berantakan tersebut.
Senyuman tersebut seketika luntur, karena yang berada di hadapannya adalah Martin. Orang yang tidak ingin ia temui, malah bertemu di saat yang kurang tepat seperti ini.
Mereka sama-sama saling membeku, karena mereka yang sudah lama tidak bertemu, dan kini bertemu kembali dengan status yang bukan siapa-siapa.
__ADS_1
Melati tersadar, ia segera merapikan berkas yang berceceran, dan segera bangkit dari sana.
Tak hanya Melati, Martin pun bangkit dari posisi jongkok, dan kini berhadapan dengan Melati yang berdiri gugup di hadapannya.
Martin memandangnya dengan tidak percaya, karena ia bisa melihat Melati dengan versi yang berbeda. Dandanan Melati yang sangat berbeda dari saat bersamanya dulu, membuatnya pangling dengan Melati yang mengenakan rok selutut itu.
‘Melati? Gak nyangka bisa ketemu dia di sini, dengan versi yang berbeda,’ batin Martin, yang sampai terkaget-kaget karenanya.
“Kamu ... Melati?” tanya Martin, Melati hanya bisa menunduk sendu tak berani menatap ke arah Martin.
‘Kenapa aku bisa ketemu sama Mas Martin di sini?’ batin Melati, yang mengaduh dalam hati.
Niat hati ingin menghindari berpapasan dengan Martin, Melati malah dipertemukan dengan tidak sengaja di lobi gedung ini. Saking tremornya, Melati sama sekali tidak bisa memandang ke arah Martin.
__ADS_1
‘Kenapa malah cantik banget setelah bercerai? Dia kerja? Kerja di mana?’ batin Martin bertanya-tanya, tak menyangka melihat Melati yang sudah berubah menjadi sangat cantik saat ini.
“Mas!” pekik seorang gadis dari arah belakang Martin, yang ternyata adalah Ria yang menjadi kekasih Martin saat ini.