
“Permisi, Tuan.”
Pesanan Marvel sudah selesai disiapkan. Si pemilik rumah makan sederhana itu, memberikannya kepada Marvel dengan sikap yang sangat sopan. Begitupun Marvel, yang juga menerimanya dengan sikap yang sangat sopan.
“Makasih, Bu.”
Marvel juga menerima gelas yang ibu itu berikan, kemudian meletakkan minuman tersebut di sebelah tempat ia meletakkan piring makanannya.
“Selamat makan,” ujar Marvel, yang langsung menyantap makanan yang sudah tersaji di hadapannya.
Melati memandangi cara Marvel menyantap makanannya. Ia merasa sangat aneh, karena Marvel yang terlihat sangat elegan, walaupun hanya menyantap seporsi makanan sederhana, di warung yang sangat sederhana ini.
‘Orang kaya mah beda vibes-nya!’ batin Melati, yang sangat senang melihat cara Marvel menyantap makanannya.
__ADS_1
Marvel melihat Melati dari ekor matanya, sengaja tidak memandang ke arahnya, khawatir membuat Melati tidak nyaman dengan tatapannya. Ia hanya bisa melihat, Melati yang sedang memperhatikan dirinya yang sedang menyantap makanannya itu.
“Mmm ....” Marvel merasa sangat menikmati makanannya, kemudian memandang ke arah Melati. Melati sangat menyadari apa yang hendak Marvel lakukan, dan segera mengalihkan pandangannya dari arah Marvel.
“Enak banget makanan di sini!” gumam Marvel dengan sangat bersemangat.
Melati mengangguk kecil, sembari menutupi rasa gugupnya, yang hampir ketahuan sedang memperhatikan Marvel yang sedang menyantap makanannya itu.
Padahal, Marvel sudah sangat mengetahui, apa yang diam-diam Melati lakukan itu.
Marvel menahan senyumnya, dan berusaha bersikap professional dan seperti tidak terjadi apa pun di hadapan Melati.
‘Dia lucu banget kalau lagi gugup,’ batin Marvel, sembari tetap menahan tawanya di hadapan Melati.
__ADS_1
Karena Marvel yang sudah menilai rasa dari makanan yang ia makan, Melati sangat penasaran dengan selera Marvel lainnya. Berbagai pertanyaan muncul di benak Melati. Ingin sekali Melati menanyakannya langsung kepada Marvel.
“Maaf, Tuan. Memangnya, Tuan udah sering makan makanan di tempat yang sederhana seperti ini?” tanya Melati yang benar-benar sudah merasa sangat penasaran, dengan selera kedua kakak-beradik ini yang sangat jauh berbeda.
Marvel menghentikan sejenak aktivitasnya, dengan meletakkan garpu dan sendok yang ia pegang di kedua tangannya.
“Saya gak pernah pilih-pilih soal makan, Mel. Cuma ... karena saya selalu menghadiri acara makan malam di resto mewah, ya ... terpaksa deh saya jadi sering makan makanan yang high class seperti itu,” jawab Marvel menjelaskan, membuat Melati mengerti dengan jawabannya.
‘Pantesan aja, walaupun makannya di rumah makan sederhana seperti ini, tapi vibes-nya keliatan banget kalau dia itu bukan kaleng-kaleng,’ batin Melati, yang benar-benar sangat terpukau dengan orang seperti Marvel.
Namun tetap saja, bagi Melati semua lelaki yang memiliki harta dan tahta, pasti tidak akan cukup hanya dengan satu wanita. Ia pasti akan mencari kebahagiaan lain, ketika ia bosan dengan apa yang sudah ia miliki saat ini.
‘Mudah-mudahan Tuan Marvel dapat pasangan yang sayang sama dia, dan yang dia sayang banget. Jangan sampai mereka saling terluka, hanya karena harta atau tahta,’ batin Melati, yang malah memikirkan nasib calon pasangan Marvel, agar tidak sama seperti nasib dirinya yang ditinggal Martin hanya karena harta dan tahta.
__ADS_1
“Saya juga sering diajak makan pecel lele di pinggir jalan, sama adik bungsu saya. Pecel lelenya enak banget!” ucap Marvel lagi, membuat Melati tersadar dari lamunannya.