Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Demi Bapak


__ADS_3

Melati menggelengkan kepalanya, “Bapak gak ngejual aku, kok! Ini semua karena aku gak rela kalau Bapak sampai masuk penjara. Aku gak mau itu semua terjadi. Aku gak mau jauh dari Bapak,” bantahnya, mereka semakin tidak tega saja mendengarnya.


Air mata mereka menggenang, karena sudah tidak kuat menahan semua ini. Orang tua Melati yang tak sanggup melihat kebahagiaan anaknya terenggut, sementara Melati yang tidak sanggup melihat mereka masuk ke dalam jeruji besi.


“Maafin Bapak ya, Mel ....” Bapak terisak, sembari mengelus bahu Melati dengan lembut.


Melati pun menangis, karena tidak kuat menahan rasa sedih yang ia rasakan.


“Gak, Pak. Bapak sama Ibu gak salah. Ini semua demi Bapak, biar Bapak gak masuk ke dalam penjara. Melati gak akan rela melihat Bapak masuk ke penjara,” bantah Melati lagi, yang benar-benar tidak ingin melihat semua itu terjadi.


Sejenak mereka berpelukan, menumpahkan seluruh kesedihan dan kekecewaan mereka dengan keadaan.


Beberapa saat berlalu, mereka pun melepaskan pelukan mereka. Mereka saling memandang, berusaha untuk menguatkan satu sama lain.


Riasan wajah Melati sampai terhapus dan luntur, saking banyaknya ia mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Perias yang bertanggung jawab atas riasan wajah Melati, menghampiri mereka yang masih menahan tangis itu.


“Permisi, ini sudah hampir waktunya upacara sumpah janji. Keliatannya makeup-nya luntur. Mari, saya touch up lagi,” ujarnya, membuat Melati mengangguk kecil mendengarnya.


Melati pun duduk pada kursinya kembali, sementara para perias segera merias wajahnya kembali.


Orang tuanya keluar dari ruangan kamar Melati, melihat persiapan di depan rumahnya, yang hampir siap secara sempurna.


Mereka melakukan tugasnya dengan sangat sempurna. Setiap sisi dari bagian terkecil, seakan terasa sangat diperhatikan. Mereka tidak membiarkan sedikit celah, pada sisi mana pun.


Walaupun masih sangat berat melepas Melati untuk lelaki tua itu, tetapi mereka tetap melakukan semua itu, karena tidak bisa melakukan apa pun lagi.


Seorang lelaki memakai tuxedo, dengan sepatu kulit yang terlihat mahal, melangkah ke arah hadapan orang tua Melati.


Siap atau tidak, mereka harus menerima kedatangan orang yang akan meminang Melati itu.

__ADS_1


Pak Sodik sudah berada di hadapan mereka, “Selamat pagi, Pak Burhan dan Ibu Burhan. Saya datang, untuk melakukan sumpah suci pernikahan, bersama dengan Melati,” ujarnya, membuat mereka terpaksa harus melontarkan senyuman ke arah Sodik.


“Baik, Melati masih melakukan persiapan. Anda bisa tunggu di dekat altar,” ujarnya memberi informasi kepada Sodik.


Senyum sumringah terlihat jelas pada wajah Sodik, tetapi tidak dengan kedua orang tua Melati saat ini.


Sementara itu, Melati masih berada pada posisinya. Ia memandang dirinya dari arah cermin, berusaha untuk bersikap tegar dan tidak menangis lagi.


Para perias sudah lelah, melakukan riasan untuk menambal wajah Melati yang terhapus makeup-nya itu.


“Jangan menangis lagi, Nona. Ini adalah hari kebahagiaan kalian,” ujar salah satu perias, yang pada dasarnya tidak mengetahui duduk permasalahannya pada hubugan mereka.


‘Ini bukan hari bahagia kami, tapi ini adalah hari bahagia si lelaki tua itu. Aku sama sekali gak bahagia, karena aku gak mau nikah sama dia!’ batin Melati, yang masih menolak saja dengan hal yang akan ia lakukan ini.


Namun, apalah daya Melati. Ia hanya bisa menerima, sesuatu yang sudah menjadi suratan takdir untuknya.

__ADS_1


__ADS_2