
Sudah beberapa bulan sejak kejadian itu, tetapi Melati masih merasa sangat tidak enak dengan Marvel dan juga Marcel.
Saat Melati mengirimkan laporan yang harus ditandatangani keduanya, mereka hanya bersikap dingin dan membiarkan Melati keluar dari ruangan mereka dengan lebih cepat.
Hal itu membuat Melati merasa tidak nyaman lagi bekerja di sini. Ia sangat merasa bersalah, tetapi jika ia tidak melakukan hal itu, ia tidak akan bisa keluar dari permasalahan seperti ini.
Seseorang menemui Melati di meja kerjanya. Ia membawa sebuah berkas, yang harus diperiksa oleh Melati.
“Mel, tolong periksa berkas ini, ya!” suruhnya, Melati menoleh ke arahnya dan mengambil berkas itu dari tangannya.
Melati membukanya dan membaca judul berkas yang hendak ia teliti. “Ini kontrak kerja sama dengan Bramantio Grup, bukan?” tanyanya, membuat orang tersebut mengangguk mendengarnya.
“Ada kesalahan di pasal lima bagian ‘a’ dan ‘c’ jadi kamu harus datang ke sana, untuk mengambil dokumen barunya yang sudah ditandatangani Pak Bram,” ucapnya menjelaskan keadaan.
Melati mengangguk paham mendengarnya, “Ya, kapan deadline?” tanyanya.
__ADS_1
“Sore ini juga berkas itu harus ada, karena rencannya besok proyeknya sudah dijalankan.”
Melati mendadak bingung, karena ia yang tiba-tiba saja teringat dengan Martin yang bekerja menjadi manajer di perusahan tersebut. Ia merasa sangat aneh, kalau saja ia bertemu dengan Martin di sana.
Melati memandangnya dengan bingung, “Gak bisa orang lain, ya?” tanyanya, berusaha menolak permintaan rekannya itu.
“Gak bisa, Mel. Tolong ya, secepatnya!” ucapnya yang berusaha untuk mendesak Melati.
Melati menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa harus menjalani kewajibannya sebagai seorang staff di perusahaan ini. Ia memandang rekannya dengan tegas, kemudian mengangguk kecil ke arahnya.
‘Gimana kalau aku beneran ketemu sama mas Martin? Apa yang akan mas Martin lakukan sama aku? Aku harus bersikap gimana di depan dia?’ batin Melati yang merasa sangat bingung harus melakukan apa.
***
Melati bersiap untuk menuju ke arah Bramantio Grup. Ia berjalan dan hendak keluar dari arah lobi. Di sana, ia berpapasan dengan seseorang, yang tak lain adalah Marcel.
__ADS_1
Melati merasa kaku ketika melihat Marcel, walaupun Marcel juga tidak memperhatikannya dengan benar.
‘Ada Tuan Marcel ... kenapa bisa kebetulan ketemu di sini?’ batin Melati yang merasa sangat bingung harus bersikap apa di hadapan Marcel.
Melati menghela napasnya panjang, dan bersikap biasa saja di hadapan Marcel, karena ia tidak ingin terlambat untuk mengambil berkas kerja sama dengan Bramantio Grup.
Melati melangkah jenjang melewati Marcel, dan berpura-pura bersikap biasa saja di hadapan Marcel.
“Permisi, Tuan Marcel,” sapa Melati dengan sopan, yang tak lain hanyalah sebuah formalitas belaka di depan publik.
Marcel memandangnya dengan datar, “Mau ke mana? Memangnya sudah jam pulang kerja?” tegurnya dengan datar, membuat Melati terpaksa harus menghentikan langkahnya dan berdiri berhadapan dengannya.
Pandangan mereka tertuju pada satu titik. Walaupun merasa kaku, Melati tetap menunjukkan sikap terbaiknya di hadapan atasannya.
“Saya mau ke kantor Bramantio Grup, Tuan. Ada keperluan di sana. Saya bawa tas, karena kemeja saya gak ada sakunya untuk simpan handphone saya,” jawab Melati seadanya, membuat Marcel memandangnya semakin tajam.
__ADS_1