Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Perkara Jualan Asongan


__ADS_3

Melati mendelik tegang, karena ia tidak sengaja menjatuhkan tutup kostak makan yang ia letakkan di bawah kostak makan yang ia pegang. Para senior itu terkejut, saat mendengar suara benda jatuh tersebut, yang berasal dari tempat Melati berada.


“Siapa itu?!” teriak senior tersebut, yang tidak ingin rencana buruknya sampai diketahui oleh siapa pun yang ada di sini.


“Ada orang di sini?” tanya teman sebelahnya, senior itu menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.


“Gak tahu! Gue kira gak ada orang!” jawabnya, yang memandang bingung ke arah temannya itu.


“Periksa aja!” suruh temannya, membuat senior itu terdiam sejenak dan langsung melangkah ke arah beberapa pintu toilet yang tertutup.


Mendengar ucapan wanita itu, Melati sontak mendelik karena ia merasa sangat takut saat ini. Dengan cepat ia merapikan kostak makan yang masih berisi setengah, dan belum sempat ia habiskan. Ia bahkan belum sempat meminum sedikit air pun, saking takutnya ia karena mendengar ucapan seniornya itu.


‘Gawat!’ batin Melati, yang segera bersiap untuk berlari dari sana.


TOK ... TOK ... TOK ....


Senior itu mengetuk pintu toilet pertama, dan sama sekali tidak ada orang yang menyahut di dalamnya. Ia dengan penasaran segera membuka pintu yang tertutup itu, dan tidak menemukan siapa pun di dalamnya.


“Gak ada orang,” ucap sang senior pada temannya itu.


“Coba di sebelahnya!” suruhnya, senior itu pun mengangguk kecil, dan langsung segera melangkah menuju pintu toilet kedua.


Melati sangat ketakutan, karena dirinya yang ternyata berada di dalam toilet pintu kedua. Ia merasa tubuhnya panas dingin, dan ketakutan dengan ucapan sinis mereka tadi. Di hadapan banyak orang saja, ia berani mengusir Melati. Apalagi di saat keadaan sepi seperti ini.


Senior itu mengetuk pintu kedua, yang tak lain adalah pintu ruangan toilet Melati berada. Ia merasa yakin, bahwa Melati memang ada di dalamnya.


“Buka! Gue tau lo di dalem!” teriaknya, membuat Melati semakin ketakutan mendengarnya.


‘Gimana ini? Mereka pasti bakalan melakukan hal yang engga-engga sama aku!’ batin Melati, yang sudah ketakutan duluan menghadapi senior tersebut.

__ADS_1


Melati melakukan aba-aba. Ia bersiap untuk berlari, meninggalkan mereka di sini.


“Buka gak?! Kalau enggak dibuka, gue dobrak nih!” ancamnya, sontak membuat Melati semakin ketakutan mendengarnya.


Melati mempersiapkan dirinya, dan segera membuka pintu tersebut. Ia berlarian melewati para senior, karena ia sangat takut jika para senior itu sampai tega berbuat sesuatu padanya.


Senior itu benar-benar sangat terkejut, karena ia melihat ternyata Melati yang ada di dalam toilet itu. Di sisi lain mereka aman dari orang-orang yang hendak mengadukan rencana jahat mereka, di sisi lain mereka kesal karena mereka melepaskan Melati yang sudah keluar dari ruangan ini dengan secepat kilat.


“Woy jangan lari, lo!” pekik teman senior itu, yang hendak mengejar Melati, tetapi senior tersebut menahannya dan tidak membiarkannya mengejar Melati keluar toilet ini.


“Lho, kenapa ditahan?” tanyanya bingung.


“Biar aja dia pergi! Toh, yang penting dia udah dengar apa yang kita bicarain tadi. Anggap aja, itu semua sebagai ancaman buat dia, biar dia gak berani lagi sama gue,” ujarnya menjelaskan, yang tetap saja membuat temannya itu tidak puas mendengarnya.


“Ah, harusnya kita bisa bully dia di sini sekarang!” gerutu temannya, membuat si senior itu menyunggingkan senyumannya.


“Next time kita bisa ngerjain dia, kok! Lo tenang aja!” ujarnya yang sangat percaya diri, membuat temannya merasa sangat percaya dengan apa yang dikatakan senior tersebut.


“Ah!!” teriaknya yang kini sudah pasrah dengan tubuhnya yang sudah melayang karena menabrak seseorang di hadapannya.


Dengan sangat cepat, orang yang menabrak Melati pun segera menyangga tubuhnya dengan kekuatan yang ia miliki. Berkatnya, Melati tidak jadi terjatuh ke lantai, karena pertolongan dari orang yang Melati tabrak.


Pandangan mereka pun saling tertuju pada satu titik, membuat mereka terdiam sejenak pada keadaan yang membingungkan ini.


‘Pak Marcel?’ batin Melati, yang masih tidak sadar dengan keadaan mereka yang terlihat sangat intim itu.


Ternyata, yang ditabrak Melati adalah Marcel. Mereka masih saja saling pandang, sampai Marcel memandangnya dengan sinis.


“Masih mau ngeliatin gue begitu?” tanya Marcel, sontak membuyarkan lamunan Melati dan membuatnya sadar dengan keadaan yang saat ini terjadi pada mereka.

__ADS_1


Melati yang sudah tersadar, dengan cepat bangkit dari sanggahan tangan Marcel. Hal itu membuat wajahnya memerah, saking malunya ia di hadapan Marcel saat ini.


‘Ya ampun, kenapa begini?!’ batin Melati, yang merasa sangat malu saat ini di hadapan Marcel.


Marcel memperhatikan ekspresi Melati dengan dalam. Ia menyunggingkan senyuman setelahnya, karena ia tahu betul kalau Melati sedang sangat malu saat ini.


“Kenapa? Malu, ya?” tanya Marcel, membuat wajah Melati semakin merona saja mendengar pertanyaan Marcel.


“Ih, apa sih Pak Marcel!” bentak Melati, membuat senyuman Marcel luntur mendengar bentakan dari Melati.


“Yeh, udah ditolongin kenapa malah bentak-bentak gitu, sih? Lo doang yang begitu, deh! Orang lain ditolongin pasti selalu bilang makasih, lo beda banget sama yang lain!” bentak balik Marcel, yang tak terima dengan apa yang Melati lakukan padanya.


Melati merasa terkejut, karena ia lagi-lagi kelepasan membentak Marcel. Ia merasa malu, maka dari itu ia membentak Marcel, di bawah kesadarannya.


“Ma-maaf, Pak! Saya gak sengaja bentak Pak Marcel, karena saya malu!” ucap Melati, yang benar-benar tidak sengaja melakukannya.


Marcel memandangnya dengan sinis kembali, ‘Lagi-lagi karena malu! Emangnya gue sejelek itu, apa? Dia malu banget kalau deket sama gue?’ batinnya, yang lagi-lagi merasa salah paham dengan yang Melati maksudkan.


“Gak ada kata maaf! Lo pokoknya harus bayarin gue makan malam nanti!” ujar Marcel, yang berusaha untuk memanfaatkan kesalahan Melati.


Melati memandangnya dengan bingung, karena ia sama sekali tidak memiliki banyak uang untuk mentraktir Marcel makan malam. Uang yang diberikan Bapak, hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum saja, selama ia belum mendapatkan gaji bulan ini.


“Makan malam? Kapan, Pak?” tanya Melati.


“Nanti malam, sambil jualan asongan di pinggir jalan!” jawab Marcel asal, membuat Melati merasa sangat bingung mendengarnya.


“Yah, jangan sekarang dong, Pak! Gimana kalau nanti aja habis gajian saya traktir Bapak makan malam? Ah, atau kalau enggak bayaran untuk saya yang mau jualan asongan di pinggir jalan, dibayar dulu aja sekarang, biar saya bisa traktir Pak Marcel malam ini!” ucap Melati, sontak membuat Marcel mendelik mendengarnya.


‘Apa maksudnya bayaran untuk jualan asongan?’ batin Marcel, yang benar-benar tidak nyambung dengan apa yang Melati maksudkan.

__ADS_1


Mereka memang sama-sama tidak nyambung.


__ADS_2