Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Masalah Dengan Senior


__ADS_3

Andre menyeringai hendak melanjutkan ledekannya kepada Marvel, tetapi ia mengerti dengan keadaan Marvel saat ini.


“Ya udahlah, sorry,” ucap Andre, yang lebih memilih untuk meminta maaf kepada Marvel, “eh, kau harus pidato penutupan acara sebentar lagi, karena ini udah mau selesai jam makan siang,” ucapnya mengingatkan jadwal padat Marvel.


Saking asyiknya memperhatikan Marcel dan Melati, Marvel pun jadi lupa dengan tugas dan kewajibannya sebagai CEO baru di perusahaannya ini. Biasanya yang menyiapkan dan mengakhiri pertemuan adalah ayahnya, tetapi kali ini tugas itu sudah dialihkan padanya.


Marvel menghela napasnya dengan panjang, “Baiklah. Sebentar lagi acara akan selesai. Tunggu mereka selesai menyantap makan siang mereka lebih dulu,” ucapnya, membuat Andre mengangguk kecil mendengarnya.


Sementara itu, Marcel menyunggingkan senyumannya karena sudah mendapatkan nomor telepon Melati. Ia merasa senang, karena ia sudah bisa maju selangkah, untuk mendekati Melati.


“Nanti malam gue jemput! Lo harus udah selesai dandan!” ujarnya, sontak membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.


“Hah? Jemput saya, Pak? Mau ngapain jemput saya?” tanya Melati, yang sangat terkejut mendengar Marcel yang hendak menjemputnya malam nanti.


Marcel memandang Melati dengan datar, “Mau gue suruh jualan asongan di pinggir jalan,” jawabnya sedikit kesal dengan pertanyaan Melati.


Melati mendengarnya dengan sedikit bingung, karena orang kaya sekelas Marcel, ternyata ingin menyuruhnya untuk berjualan asongan di pinggir jalan.


‘Apa kurang harta yang dikasih sama Tuan Davies? Kenapa dia masih nyuruh aku jualan asongan di pinggir jalan? Tapi, masa sih jualan aja harus dandan? Memangnya ada SOP juga buat orang yang disuruh jualan di pinggir jalan?’ batin Melati, yang berpikir bahwa Marcel memang benar ingin menyuruhnya untuk berjualan asongan di pinggir jalan.


Kedua orang ini benar-benar sangat tidak nyambung, dengan pemikirannya yang berbeda. Mereka selalu salah sangka, dengan apa yang dimaksud dari salah satunya.


Marcel memandangnya dengan dalam, “Pokoknya nanti malam gue jemput lo di rumah. Share location rumah lo, biar gue bisa secepatnya ke sana dan gak nyasar ke mana-mana!” suruhnya, membuat lamunan Melati buyar mendengarnya.


“Ah, tapi--”


“Gak ada tapi-tapi! Gue cabut dulu!” pangkasnya, yang dengan senangnya pergi dari hadapan Melati.


Melati memandang kepergian Marcel dengan bingung, karena ia baru saja ingin bertanya suatu hal, yang masih membuatnya bingung.

__ADS_1


“Tapi masa sih jualan asongan di pinggir jalan harus dandan? Memangnya SPG?” gumam Melati bertanya-tanya, sembari memandang kepergian Marcel.


Melati tidak sempat menanyakan hal itu, karena Marcel yang sudah pergi dari hadapannya. Ia merasa kesal, karena ia memiliki double job hari ini.


“Double job, double salary juga gak?” gumamnya yang kesal, karena memikirkan Marcel yang benar-benar ingin menyuruhnya berjualan asongan.


“Waktu makan siang habis, silakan kembali ke tempat masing-masing.”


Pemberitahuan terdengar dengan jelas, Melati merasa bingung karena ia yang belum sempat untuk makan siang, karena Marcel yang terus mengajaknya berbicara hal yang tidak penting baginya.


“Ah! Gara-gara Pak Marcel, aku jadi gak sempet makan siang!” gumam Melati kesal, yang lalu segera menuju ke arah tempat duduknya kembali.


***


Acara di aula pertemuan sudah selesai. Kini, Melati bersama dengan Sasha sedang bersiap untuk menuju ke ruangan yang akan mereka tempatkan untuk memulai pekerjaan dengan efektif esok hari.


Sasha memandangnya dengan heran, karena wajah rekannya itu yang terlihat sangat pucat.


“Mbak Mel, kenapa mukanya pucet banget?” tanya Sasha, Melati saja sampai memandangnya dengan lemas.


“Ah? Pucet? Saya gak kenapa-napa, kok!” bantah Melati, padahal ia memang merasakan lemas pada tubuhnya.


“Ah jangan bohong, Mbak! Mau saya anter ke klinik?” tawar Sasha, Melati menggelengkan kecil kepalanya.


“Gak usah, Sa. Saya beneran gak apa-apa, kok! Saya ke toilet sebentar, ya!” bantahnya, yang langsung pergi tanpa persetujuan Sasha.


Sasha memandangnya dengan sangat khawatir, karena biar bagaimana pun ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Melati saat ini.


Melati melangkah menuju ke arah toilet, dengan masih membawa tasnya. Ia masuk ke dalam salah satu ruangan toilet, dan duduk pada closet yang tertutup.

__ADS_1


Ia segera mengeluarkan bekal makan yang sudah disiapkan Ibu, dan memakannya secara perlahan. Karena sudah terlalu lemas, ia sampai hampir tidak kuat mengunyah makanan tersebut.


‘Di sini paling aman! Jangan sampe semua orang ngeliat, dan ngatain aku seperti yang Mas Martin bilang,’ batin Melati, yang tidak ingin di-bully hanya karena ia membawa makanan ke kantor ini.


Melati melahap dengan cepat, makanan yang ada di hadapannya. Walaupun tempatnya tidak memungkinkan, tetapi karena begitu lapar, Melati sampai tidak peduli di mana ia menghabiskannya. Beruntung kondisi toilet ini sedang sepi, jadi ia bisa dengan lahapnya makan makanan yang ada.


‘Harus cepat! Habis ini aku juga harus ke ruangan Pak Marvel,’ batin Melati, sembari mengunyah dengan cepat makanan tersebut.


Tak lama kemudian, mata Melati mendelik karena ia mendengar ada suara orang yang memasuki ruangan toilet tersebut. Ia merasa khawatir, kalau saja mereka melihat dirinya yang sedang menghabiskan bekal makan siang tersebut.


“Ah, anak baru itu! Bener-bener bikin jengkel! Apalagi yang namanya Melati itu!” ujar seseorang, yang terdengar dengan jelas di telinga Melati.


‘Hah?! Mereka lagi bicarain aku?’ batin Melati, yang merasa sangat kaget karena mereka yang sepertinya sedang membicarakan dirinya.


Melati hanya bisa diam, sembari tetap mendengarkan apa yang mereka katakan tentangnya.


“Iya! Baru hari pertama masuk kerja, dia udah bikin kekacauan!” sahut teman sebelahnya.


Ternyata, yang membicarakan Melati saat ini adalah senior yang tadi ditegur oleh Marvel, yang hendak mengusir Melati saat di ruangan aula. Ia tidak terima, ketika niatnya untuk menjilat atasannya harus gagal, dan ia tidak akan pernah bisa menerima itu.


“Iya! Lo liat gak tadi Pak Marvel sampe ketus sama gue, cuma gara-gara belain si Melati Melati itu! Padahal gue bantuin dia buat membasmi keonaran di kantor ini. Apalagi cuma anak baru!”


Senior tersebut sangat tidak terima, karena perlakuan Marvel kepadanya saat ia hendak mengusir Melati dari ruangan aula tersebut. Melati dengan sangat jelas mendengarnya, dan berusaha untuk mendengar lebih lagi tentang apa yang mereka bicarakan itu.


“Liat aja, gak akan gue lepasin junior itu! Beraninya bikin gue malu di depan senior lain, dan juga di depan junior baru!” gumam wanita senior itu, sontak membuat Melati mendelik kaget karena kedudukannya yang terancam saat ini.


BRAK!


“Siapa itu?!”

__ADS_1


__ADS_2