Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Berniat Menghancurkan


__ADS_3

Karena tidak bisa menemukan cara untuk membuat Marvel menyerah, Marcel memikirkan cara lain semalaman.


Jika bukan Marvel yang menyerah, Marcel harus membuat Melati yang menyerah atas hubungan mereka.


Siang ini, setelah rapat dengan ketua tim dari perusahaan lain, Marcel segera menyempatkan diri untuk menemui Melati.


Marcel melangkah ke arah ruangan Melati, untuk mengatakan yang sebenarnya, menyangkut sosok yang Melati cintai.


Marcel sudah sampai di sana, melihat Melati sedang mengerjakan tugasnya, padahal saat ini sudah lewat dari jam makan siang. Jam istirahat pun sudah hampir selesai, tetapi ia sama sekali belum mengisi perutnya.


“Dia gak makan siang? Kenapa masih ngerjain tugasnya?” gumam Marcel, yang heran dengan pegawai teladan seperti Melati ini.


Marcel mendekatinya, dan berdiri di hadapannya.


Menyadari kedatangan Marcel, Melati yang sebelumnya sedang fokus mengerjakan bahan untuk presentasi, sontak mendelik kaget melihatnya.


‘Tuan Marcel?!’ batin Melati, yang mendadak bangkit, dan lari dari sana untuk menjauhi Marcel.

__ADS_1


Melihat Melati yang melarikan diri dari sana, Marcel pun merasa sangat kaget dan langsung menahan tangannya.


“Melati!” pekiknya, Melati langsung memberontak dan berusaha untuk melepaskan tangannya yang tertahan oleh Marcel.


“Lepasin tangan saya, Tuan! Jangan begini!” bentak Melati, sehingga membuat orang lain yang melihatnya menjadi keheranan.


Marcel tersadar dengan pandangan mereka terhadap dirinya dan Melati, sehingga ia pun menghela napasnya dengan pajang.


“Mel, semua orang ngeliatin kita. Jangan bergerak, ada yang pengen gue omongin sama lo,” ucapnya, membuat Melati terkejut dan merasa sangat malu mendengarnya.


‘Semua orang ngeliatin kita?!’ batin Melati, yang malah tidak berani melihat ke arah mereka yang memperhatikannya itu.


Terlihat Marcel yang memandangnya dengan tajam, membuatnya merasa bertambah takut dari sebelumnya.


“Ada apa, Tuan Marcel?” tanya Melati dengan terselip nada takut.


Marcel melepaskan tangan Melati yang ia tahan, “Gue mau ngomong sama lo, tapi gak mau di sini,” ujarnya, membuat Melati keheranan dan bingung.

__ADS_1


“Terus mau ngomong di mana lagi, Tuan?” tanyanya polos, Marcel sampai menepuk keningnya karena bingung menjelaskan.


“Kalau gue bilang gak mau di sini, berarti gue ngajak lo keluar buat makan siang,” ucapnya, membuat Melati merasa sedikit takut mendengarnya.


“Ma-makan siang? Di tempat mewah kayak kemarin lagi?” tanya Melati gugup, saking traumanya diajak ke tempat mewah berbintang lima seperti itu dengan Marcel.


“Gak, bukan. Tapi bukan di tempat yang biasa lo makan sama Marvel juga!” bantah Marcel, membuat Melati memandang bingung ke arahnya.


“Tempat yang biasa saya makan sama Tuan Marvel? Saya cuma makan sekali sama Tuan Marvel, itu juga gak sengaja. Kita gak biasa makan kok,” sanggah Melati, yang memang tidak mengetahui tentang sosok Rusdi itu.


Marcel lagi-lagi harus menepuk keningnya, karena memang Melati tidak mengetahui rencana penyamaran Marvel itu. Justru saat ini, Marcel hendak memberitahukan kepadanya, permasalahan tentang penyamaran Marvel.


“Ya udahlah ... pokoknya gitu maksudnya! Ayo, keburu jam makan siang habis!” ujar Marcel, yang tidak ingin susah-susah menjelaskan padanya.


“Oh, ya udah. Saya benerin komputer saya sebentar--”


“Gak usah! Kelamaan!” pangkas Marcel sebari menarik tangannya pergi dari sana.

__ADS_1


Marcel sudah tidak sabar lagi ingin melihat ekspresi Melati, ketika ia mengatakan kebusukan Marvel padanya.


__ADS_2