Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Sudah Mulai Nyaman


__ADS_3

Melati terkejut mendengar suara Rusdi, yang ternyata sudah berada di hadapannya saat ini. Ia melihat Rusdi yang menggunakan motor butut dengan suara yang bising, dengan penampilan ala-ala geng motor, membuat Melati tertawa kecil melihatnya.


“Kamu lucu, Rus. Kamu pasti ketua gangster, ya?” seloroh Melati, membuat Marvel tertawa mendengarnya.


“Ya, Mbak. Hampir jadi ketua gangster, tapi gak lulus hahaha.”


Mereka tertawa bersama, karena merasa sangat serasi dan sangat klop bercanda bersama.


Melati memandangnya dengan heran, ‘Baru kali ini ada lelaki yang bisa bercanda begini sama aku,’ batin Melati, yang sudah mulai merasa nyaman dengan sosok Rusdi.


Melati tidak pilih-pilih soal lelaki, yang penting lelaki itu bisa membuatnya nyaman, dan tidak memiliki kedudukan dan harta yang banyak. Baginya, kenyamanan dan kesederhanaan lebih utama.


“Ayo, saya anterin pulang!” ajak Rusdi, Melati tersenyum sembari mengangguk menerima ajakan darinya.


Mereka pun pulang bersama, dengan Melati yang dibonceng oleh Marvel menggunakan motor yang sangat jelek.


Walaupun motor itu sangat jelek, tetapi Melati sama sekali tidak malu diantarkan oleh Rusdi, dan sama sekali tidak tertekan seperti saat ia bersama dengan Marcel.

__ADS_1


Sepanjang jalan Melati hanya bisa tersenyum, karena ternyata ada orang seperti Rusdi yang bisa membuatnya nyaman seperti ini.


‘Entahlah, jadi teman pun gak apa-apa. Aku nyaman sama dia,’ batin Melati, yang memang sudah lama tidak merasa dekat dengan lelaki.


“Mbak Mel laper, gak?” tanya Marvel, tetapi Melati tidak mendengarnya, saking senangnya ia bisa bersama dengannya.


“Mbak Mel?” tanya Marvel lagi, sukses membuat Melati tersadar dari lamunannya.


“Eh, ya ada apa, Rus?”


“Mbak laper, gak?” tanyanya lagi, tetapi suara motor yang keras membuat komunikasi mereka terganggu.


“Mbak Mel laper, gak? Kita makan dulu sebentar kalau laper. Anggap aja sebagai perkenalan saya sama Mbak!” teriak Marvel, yang baru terdengar oleh Melati.


“Oh ... ya saya laper, Rus! Ayo kita makan dulu!” teriak Melati tepat di telinga Marvel, membuat Marvel menutup telinganya karena bising.


“Jangan teriak-teriak, Mbak! Biar saya aja yang teriak,” teriak Marvel lagi, membuat Melati tertawa karenanya.

__ADS_1


“Ya, maafin saya Rus!” ujar Melati yang agak keras, tetapi tidak teriak seperti sebelumnya.


Marvel pun tersenyum, karena merasa senang bisa berboncengan bersama dengan Melati. Ini adalah kali pertama ia membonceng Melati. Ia merasa sangat senang, karena ternyata menjadi sederhana memang seasyik ini.


Marvel membawa Melati ke tempat pecel lele, yang biasa ia makan bersama dengan Marsha. Hal itu membuat Melati kebingungan, karena ia merasa ada kesamaan antara Rusdi dengan Marvel.


“Turun, Mbak!” suruh Marvel, sembari berusaha untuk memarkirkan motor bututnya itu.


Melati pun menuruninya, kemudian bersama Marvel segera masuk ke dalam tenda tukang pecel lele pinggir jalan langganan Marvel itu.


Mereka memesan, lalu menunggu dengan sabar makanan favorit yang mereka pesan.


Melati memandang ke arah Marvel, “Kamu memang sering makan di sini, Rus?” tanyanya.


“Ya, Mbak! Saya sering makan di sini sama adik saya. Di sini tuh enak banget, apalagi porsi lelenya jumbo banget!” ujar Marvel, sontak membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.


Melati semakin merasa kalau ada persamaan antara Rusdi dengan Marvel.

__ADS_1


Melati memandangnya dengan dalam, “Kamu mirip kayak Tuan Marvel, deh!” ujarnya, sontak membuat Marvel mendelik kaget mendengarnya.


__ADS_2