
Melati menuju ke warung makan tempat biasa ia makan di dekat kantornya, jika ia sedang berkunjung ke daerah sekitar kantornya. Memang, tempatnya terletak agak jauh dari kantor Melati, sehingga membuatnya sampai berjalan kaki karena letaknya yang ada di jalan kecil belakang kantornya.
Sebelum Melati bercerai dengan Martin, ia seringkali melewati daerah ini dengan berjalan kaki, untuk mengantarkan makan siang kepada Martin. Dari depan jalan turun dari angkutan umum, ia biasa berjalan kaki untuk sampai di kantor tempat Martin bekerja. Gedungnya terletak tak terlalu jauh dari gedung kantor Melati saat ini.
Melati masih sangat hafal jalanan yang sedang ia susuri ini. Ia menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa sedikit lelah karena perjalanan yang cukup jauh ini. Apalagi, Melati masih sangat mengingat betul setiap kenangan yang tercetak bersama Martin, di tempat ini.
“Dulu waktu Mas Martin masih jadi karyawan biasa, kita sering makan siang di sini. Kalau aku bawain bekal makan siang juga, aku lewati sini buat beli bakwan Bi Eem. Sejak Mas Martin dipromosiin jadi kepala karyawan, terus naik ke Manajer, dia udah gak pernah lagi ngajak aku makan di sini. Jangankan ngajak aku makan di sini, ngebolehin aku untuk bawain makan siang aja, enggak,” gumam Melati, sembari tetap menyusuri jalanan setapak belakang kantornya, dan memandang ke arah sekitarnya.
Kenangan bersama dengan Martin memang tidak bisa sepenuhnya Melati lupakan, karena sudah lima tahun lamanya mereka bersama, Melati tidak bisa semudah itu melupakan setiap kenangan yang tercetak bersamanya.
__ADS_1
Namun, kini semua hanya tinggal kenangan. Martin sudah lebih memilih wanita lain, yang lebih segala-galanya dari Melati. Padahal, apa kurangnya Melati, sampai-sampai dua orang petinggi di kantornya saja memperebutkannya.
Dari belakang sana, ternyata Marcel dan Marvel membuntuti Melati dari belakang. Mereka sangat penasaran dengan selera makan Melati, dan berniat untuk mengetahuinya dengan cara menguntit.
Karena mereka yang merupakan rival, mereka saling sikut untuk bisa berjalan di belakang Melati. Meskipun tak terlalu jauh, mereka juga tak terlalu dekat jaraknya dengan Melati, sehingga Melati tidak bisa mendengar ocehan mereka.
“Jangan deket-deket!” bentak Marvel berbisik, tetapi masih dengan nada yang sinis.
Marcel mendelik, “Siapa yang mau deket-deket lo!” bantahnya, yang ingin memberitahu pada Marvel, kalau dirinya sama sekali tidak ingin mendekati Marvel.
__ADS_1
Hanya kebetulan saja Marvel berjalan lebih dulu di hadapan Marcel, sehingga Marcel dengan ingin terus mendekat ke arah Marvel.
Mereka terus mengikuti Melati, sampai akhirnya mereka pun sampai di salah satu tempat makan yang sangat sederhana.
Marcel yang memiliki selera yang tinggi, sangat tidak ingin masuk ke dalam rumah makan sederhana tersebut, bahkan melihatnya pun ia tidak mau.
“Ih, Melati kenapa seleranya begini, sih?” gerutu Marcel, yang seleranya benar-benar berbanding terbalik dengan Melati.
Di sini, Marvel unggul satu poin dalam hal ini. Soal selera makan ataupun lainnya, Marvel tidak terlalu memusingkan. Namun, karena ia selalu menghadiri acara besar dengan orang-orang high class, ia jadi harus mengikuti selera mereka.
__ADS_1